Dia tersenyum lebar menunjukkan gigi
kuning akibat dari merokok bertahun-tahun. Badannya kurus, kaosnya yang tampak
kedodoran sudah tidak jelas lagi warna aslinya. Celananya pendek, kotor, lusuh
juga seperti pemiliknya. Dia duduk di warungnya yang masih menyisakan jajaran
gorengan buatan istrinya dan setumpuk nasi bungkus hampir basi. Dia menyambutku
dengan senyuman, mengetahui beberapa rupiah akan masuk ke kantongnya untuk
kemudian digunakan mengais rejeki yang lain lewat adu judi sepakbola.
Aku menjabat tangannya selayaknya
kawan akrab. Dia merdeka, paling tidak dalam sangkaku, dia merdeka sebagai
manusia. Aku pun merasa senang dapat mengumpatnya sesuka hati, begitupun dia padaku.
Aku senang ia tak menganggap profesinya rendahan, tak ada yang lebih beruntung
antara kami, tak ada klise dalam derajat sosial. Sebab, katanya saat mabuk dulu
ketika mengutip Chairil, bahwasanya nasib adalah kesunyian masing-masing. Dan
kami sama-sama mengamini hal tersebut.
Dia membuatkanku kopi hitam tanpa
gula. Aku mengajaknya ngobrol seperti biasa, menjeda waktu yang seringkali
membuat kami urung bertukar omong kosong di tengah malam seperti ini. Ia
menyulut rokoknya, kemudian mengeluarkan botol berbungkus kresek hitam dari
bawah gerobak, meminumnya seteguk. Ia memulai percakapan dengan mengeluhkan
istrinya yang cerewet, belum lagi tadi siang ada orang gila muntah-muntah di
dekat tempatnya berjualan hingga masih sedikit menyisakan bau anyir. Kurang
ajarnya, tidak ada yang menggubris orang gila tersebut hingga dia pergi
menyisakan muntahan yang baunya kepalang brengsek. Tapi itu tidak seberapa,
dulu pernah ada copet dihajar habis-habisan, darahnya berceceran menggenangi
pinggir trotoar bercampur bensin yang dituangkan pada tubuhnya. Dengan mata
kepalanya sendiri ia melihat mayat gosong itu dihanyutkan di selokan besar tak
jauh dari sini. Tapi bukan bau darah dan bensin yang ia keluhkan, melainkan bau
daging gosong yang bertahan berhari-hari hingga membuat warungnya sepi
pembeli.
Aku tidak terkejut lagi dengan
ceritanya. Orang seperti pencopet tadi mati, ya karena memang mati saja. Tidak
ada sesuatu apapun yang harus dikejutkan. Tidak ada yang berubah keesokan
harinya, tidak banyak pula yang berduka. Paling banter pun kalau punya anak
istri, toh anak istrinya kelaparan dan akan mati juga, cepat atau lambat. Kematian
mereka tak lebih jadi perbincangan sejenak, kemudian dilupakan, tidak kurang,
tidak lebih. Aku menyeruput kopiku pelan-pelan, sedikit karena menjaga
perasaanya, aku mencomot tahu goreng di depanku. Rasanya seperti tisu basah,
agak tengik pula. Kalau bukan karena rasa seganku padanya, sudah kuludahkan
tahu goreng itu sambil mengumpat penjualnya.
Di sinilah aku sekarang, menikmati
kopi di sebuah angkringan. Hanya ada meja selayaknya angkringan dan dua buah
bangku panjang, tidak jauh dari stasiun kereta api. Baik penjual maupun
angkringannya tampak sama dikoyak usia dan nasib. Tapi tidak untuk semangat dan
gairahnya akan seni, hal yang membuatku berguru padanya, meskipun ia selalu marah
bila kusebut guru. Tapi kamu pun tahu, guru tak boleh meminta untuk dihormati,
sedangkan murid berkewajiban menghormati gurunya.
Dia meneguk cairan hitam dalam botol
kresek hitamnya lagi, menyesap rokok kreteknya dalam-dalam, kemudian
melanjutkan cerita tentang pelacur yang meminjam uang untuk membelikan buku
anaknya, tentang makin banyaknya saingan dalam berdagang, korupsi bajingan
berdasi yang makin keji, dan segala keajaiban yang ditawarkan waktu kepadannya.
Baginya, segala kisah kekejian jaman tidak lagi membuatnnya terlalu bergidik, oleh
sebab kesedihan dan air matanya telah ia gadaikan. Kadang-kadang ia pun ingin
sekali beribadah sesuai anjuran orang-orang yang kerap mencitrakan sebagai
manusia suci, tapi ia tak pernah cukup nyali untuk menghadap Tuhan dengan
segala keputusasaan, kekalahan, kemarahan, dan segala kenyataan hidup yang
ditimpakan padanya.
Aku termenung mendengarnya bercerita.
Melihat ke luar warung berdiri pongah gedung-gedung, mobil mewah yang masih
berseliweran, dan ilusi-ilusi pembangunan merata omong kosong institusi bernama
pemerintah. Sedang di sudut lain pembangunan, terdapat kotak-kotak terbuat dari
potongan seng, kardus, potongan kayu, dan segala benda yang dimungkinkan
sebagai penahan panas dan hujan tempat beberapa manusia getir meringkuk pulas
tiap malamnya. Jangan pernah menyebut bela negara pada mereka, negara tidak
pernah datang membela mereka. Jangankan meributkan kasus korupsi KTP, banyak
dari mereka bahkan tidak memiliki kartu identitas maupun tidak pernah tercatat
di selembar kartu keluarga manapun.
Dia meneguk kembali minumannya,
menatap nanar ke bawah kursi, suara kreteknya yang terbakar bahkan terdengar di
telingaku. Dia berusaha menelan kepahitan untuk sesuatu yang tak mampu digapainya,
untuk segala kenyataan yang membuatnya kebas pada penderitaan hidup hingga
sampai pada titik untuk menerimanya begitu saja.
Kami berdua terdiam, aku sibuk dengan
kopi hitamku, dia sibuk menatap nanar lampu-lampu di gedung tinggi yang kurasa
ia sedang membayangkan seorang pejabat brengsek sedang bergumul dengan seorang
mahasiswa dengan penuh kehangatan di kasur yang empuk dalam kamar hotel
berbintang.
Tidak butuh waktu lama bagiku untuk
memutuskan membayar kopiku kemudian pulang ke rumah. Aku memberinya nomor
teleponku jika sewaktu-waktu dia butuh pertolongan. Ia menatapku dengan aneh,
kemudian tertawa terpingkal-pingkal sambil mengumpatku bahwa ia terlalu sombong
dan tidak suka merendahkan dirinya untuk meminta bantuan,
Aku hanya tersenyum getir sambil
berlalu. Dadaku sesak, baru pagi tadi aku ikut menandatangani rencana penataan
wilayah yang di dalamnya termasuk penggusuran warung dan rumah kumuh yang
berdiri tanpa ijin. Namun aku berjanji akan membantu membangun hidup baru bagi
kawanku tadi, sekuat mungkin.
Aku belum sempat datang lagi ke
warungnya karena pekerjaanku yang sudah sedemikian sibuk, belum lagi kesibukan
tambahan oleh sebab bocah kecil yang dihadiahkan Tuhan padaku dan istriku yang
cantik. Hingga penggusuran itu terjadi, aku bahkan tidak berani ikut datang ke
lokasi meskipun aku termasuk tim perancang desain tata kota yang dibuat.
Sahabatku, guruku, tempatku belajar
tentang berbagai jenis manusia dari berbagai belantara waktu yang berbeda itu
tidak pernah menghubungi nomor telepon yang kuberikan, sampai kapanpun.