03/04/16

Atas Nama Pembangunan dan Omong Kosong yang Harus Ada



Dia tersenyum lebar menunjukkan gigi kuning akibat dari merokok bertahun-tahun. Badannya kurus, kaosnya yang tampak kedodoran sudah tidak jelas lagi warna aslinya. Celananya pendek, kotor, lusuh juga seperti pemiliknya. Dia duduk di warungnya yang masih menyisakan jajaran gorengan buatan istrinya dan setumpuk nasi bungkus hampir basi. Dia menyambutku dengan senyuman, mengetahui beberapa rupiah akan masuk ke kantongnya untuk kemudian digunakan mengais rejeki yang lain lewat adu judi sepakbola.

Aku menjabat tangannya selayaknya kawan akrab. Dia merdeka, paling tidak dalam sangkaku, dia merdeka sebagai manusia. Aku pun merasa senang dapat mengumpatnya sesuka hati, begitupun dia padaku. Aku senang ia tak menganggap profesinya rendahan, tak ada yang lebih beruntung antara kami, tak ada klise dalam derajat sosial. Sebab, katanya saat mabuk dulu ketika mengutip Chairil, bahwasanya nasib adalah kesunyian masing-masing. Dan kami sama-sama mengamini hal tersebut.

Dia membuatkanku kopi hitam tanpa gula. Aku mengajaknya ngobrol seperti biasa, menjeda waktu yang seringkali membuat kami urung bertukar omong kosong di tengah malam seperti ini. Ia menyulut rokoknya, kemudian mengeluarkan botol berbungkus kresek hitam dari bawah gerobak, meminumnya seteguk. Ia memulai percakapan dengan mengeluhkan istrinya yang cerewet, belum lagi tadi siang ada orang gila muntah-muntah di dekat tempatnya berjualan hingga masih sedikit menyisakan bau anyir. Kurang ajarnya, tidak ada yang menggubris orang gila tersebut hingga dia pergi menyisakan muntahan yang baunya kepalang brengsek. Tapi itu tidak seberapa, dulu pernah ada copet dihajar habis-habisan, darahnya berceceran menggenangi pinggir trotoar bercampur bensin yang dituangkan pada tubuhnya. Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat mayat gosong itu dihanyutkan di selokan besar tak jauh dari sini. Tapi bukan bau darah dan bensin yang ia keluhkan, melainkan bau daging gosong yang bertahan berhari-hari hingga membuat warungnya sepi pembeli.

Aku tidak terkejut lagi dengan ceritanya. Orang seperti pencopet tadi mati, ya karena memang mati saja. Tidak ada sesuatu apapun yang harus dikejutkan. Tidak ada yang berubah keesokan harinya, tidak banyak pula yang berduka. Paling banter pun kalau punya anak istri, toh anak istrinya kelaparan dan akan mati juga, cepat atau lambat. Kematian mereka tak lebih jadi perbincangan sejenak, kemudian dilupakan, tidak kurang, tidak lebih. Aku menyeruput kopiku pelan-pelan, sedikit karena menjaga perasaanya, aku mencomot tahu goreng di depanku. Rasanya seperti tisu basah, agak tengik pula. Kalau bukan karena rasa seganku padanya, sudah kuludahkan tahu goreng itu sambil mengumpat penjualnya. 

Di sinilah aku sekarang, menikmati kopi di sebuah angkringan. Hanya ada meja selayaknya angkringan dan dua buah bangku panjang, tidak jauh dari stasiun kereta api. Baik penjual maupun angkringannya tampak sama dikoyak usia dan nasib. Tapi tidak untuk semangat dan gairahnya akan seni, hal yang membuatku berguru padanya, meskipun ia selalu marah bila kusebut guru. Tapi kamu pun tahu, guru tak boleh meminta untuk dihormati, sedangkan murid berkewajiban menghormati gurunya.

Dia meneguk cairan hitam dalam botol kresek hitamnya lagi, menyesap rokok kreteknya dalam-dalam, kemudian melanjutkan cerita tentang pelacur yang meminjam uang untuk membelikan buku anaknya, tentang makin banyaknya saingan dalam berdagang, korupsi bajingan berdasi yang makin keji, dan segala keajaiban yang ditawarkan waktu kepadannya. Baginya, segala kisah kekejian jaman tidak lagi membuatnnya terlalu bergidik, oleh sebab kesedihan dan air matanya telah ia gadaikan. Kadang-kadang ia pun ingin sekali beribadah sesuai anjuran orang-orang yang kerap mencitrakan sebagai manusia suci, tapi ia tak pernah cukup nyali untuk menghadap Tuhan dengan segala keputusasaan, kekalahan, kemarahan, dan segala kenyataan hidup yang ditimpakan padanya.

Aku termenung mendengarnya bercerita. Melihat ke luar warung berdiri pongah gedung-gedung, mobil mewah yang masih berseliweran, dan ilusi-ilusi pembangunan merata omong kosong institusi bernama pemerintah. Sedang di sudut lain pembangunan, terdapat kotak-kotak terbuat dari potongan seng, kardus, potongan kayu, dan segala benda yang dimungkinkan sebagai penahan panas dan hujan tempat beberapa manusia getir meringkuk pulas tiap malamnya. Jangan pernah menyebut bela negara pada mereka, negara tidak pernah datang membela mereka. Jangankan meributkan kasus korupsi KTP, banyak dari mereka bahkan tidak memiliki kartu identitas maupun tidak pernah tercatat di selembar kartu keluarga manapun. 

Dia meneguk kembali minumannya, menatap nanar ke bawah kursi, suara kreteknya yang terbakar bahkan terdengar di telingaku. Dia berusaha menelan kepahitan untuk sesuatu yang tak mampu digapainya, untuk segala kenyataan yang membuatnya kebas pada penderitaan hidup hingga sampai pada titik untuk menerimanya begitu saja. 

Kami berdua terdiam, aku sibuk dengan kopi hitamku, dia sibuk menatap nanar lampu-lampu di gedung tinggi yang kurasa ia sedang membayangkan seorang pejabat brengsek sedang bergumul dengan seorang mahasiswa dengan penuh kehangatan di kasur yang empuk dalam kamar hotel berbintang.

Tidak butuh waktu lama bagiku untuk memutuskan membayar kopiku kemudian pulang ke rumah. Aku memberinya nomor teleponku jika sewaktu-waktu dia butuh pertolongan. Ia menatapku dengan aneh, kemudian tertawa terpingkal-pingkal sambil mengumpatku bahwa ia terlalu sombong dan tidak suka merendahkan dirinya untuk meminta bantuan,

Aku hanya tersenyum getir sambil berlalu. Dadaku sesak, baru pagi tadi aku ikut menandatangani rencana penataan wilayah yang di dalamnya termasuk penggusuran warung dan rumah kumuh yang berdiri tanpa ijin. Namun aku berjanji akan membantu membangun hidup baru bagi kawanku tadi, sekuat mungkin.

Aku belum sempat datang lagi ke warungnya karena pekerjaanku yang sudah sedemikian sibuk, belum lagi kesibukan tambahan oleh sebab bocah kecil yang dihadiahkan Tuhan padaku dan istriku yang cantik. Hingga penggusuran itu terjadi, aku bahkan tidak berani ikut datang ke lokasi meskipun aku termasuk tim perancang desain tata kota yang dibuat.

Sahabatku, guruku, tempatku belajar tentang berbagai jenis manusia dari berbagai belantara waktu yang berbeda itu tidak pernah menghubungi nomor telepon yang kuberikan, sampai kapanpun.