24/09/17

Dua Puluh

Kecuali kamu memiliki cukup uang untuk membeli banyak buku dalam satu bukaan dompet ataupun satu gesekan kartu kredit, mencari referensi terlebih dahulu akan sangat membantu agar tidak kehilangan uang hanya untuk sebuah buku yang kualitasnya perlu dimintakan maaf pada pohon yang digunakan untuk mencetaknya.

Buku bagus, tidak melulu buku yang meraih penghargaan ataupun buku penulis kaliber besar. Akan tetapi, jika kamu menganggap karya Gabo, Hemmingway, Borges, Rulfo, Budi Darma, Dea Anugrah, ataupun Yusi Avianto bukan termasuk karya yang harus dibaca sebelum dunia dilanda kehancuran total, rasanya kamu perlu meracik jamu beras kencur dioplos rendaman cicak kemudian menyedotnya lewat lubang hidung sebelah kanan agar terhindar dari bahaya laten kominis, liberalis, dan JIL.

Selera, sama halnya dengan nalar bongkok anggota dewan, tidak dapat diperdebatkan. Buat apa membeli Das Kapital jika hanya dibuat instastory? Buat apa sok-sokan beli Di Bawah Bendera Revolusi kalau cuma buat tatakan laptop? Lebih sia-sia lagi, buat apa manggut-manggut membaca Kiat Sukses Hancur Lebur yang isinya terpampang nyata hanya dapat dipahami umat manusia yang lahir 36784 tahun lagi? Lagipula, gagasan bahwa membaca buku dapat melatih seseorang untuk berpikir runut, adalah gagasan paling menggelikan nomor dua di dunia. Nomor satu tentu saja, dunia utopis khayalan Marx beserta jemaahnya yang diam-diam, pelan, tapi pasti, memuja dan memeluk kapitalis dengan mesra.

Maka dari itu, meskipun diawali dengan pembukaan yang berbelit-belit oleh sebab harus memenuhi syarat dasar tulisan propaganda dari induk organisasi FreeMason, saya mau memberi tips membeli buku (khusunya buku cerita) agar anda tidak kecewa ketika membacanya.

Dua puluh halaman.

Kecuali buku penting seperti Panduan Ternak Lele ataupun seluruh karya Tere Liye, dua puluh halaman pertama sebuah buku harus sanggup membuat kamu tertarik. Kalau tidak begitu, sudah saja, kembalikan ke rak buku. Atau jika ingin lebih selektif, baca dua puluh kalimat pertama, jika tidak ada sebaris pun kalimat yang membuat Bung tertarik, ganti dengan buku yang lain.

Tentu saja tips ini tidak dikaji secara mendalam menggunakan metode-metode saintifik layaknya hal yang serius.

Lagipula, karya tulisan yang dibuat secara metodologis, dikemas dalam sastra, dan ditulis dengan penuh pertanggungjawaban ilmiah seperti Di Bawah Tiga Bendera, justru cenderung membosankan. Lebih mudah menonton film untuk menambah nasionalisme dan edukasi sejarah seperti G30SKPI agar terhindar dari bahaya laten kominis, liberalis, sekuler, dan kapitalis.

Ingat, Bung, begajulan boleh. Asal jangan begaJILan.

0 komentar:

Posting Komentar