03/09/17

5 Biji Kopi

Panggil saja namanya Ron, seorang barista kopi yang membuka praktik di daerah selatan Jogja. Ia, seperti halnya seluruh penyaji kopi, baik hati dan senang sekali bercakap-cakap. Apalagi soal kopi dan segala tetek bengeknya. Selalu ada saja bahan pembicaraan keluar dari mulutnya yang sedikit monyong.

Kedai kopi miliknya tidak begitu besar. Cat dindingnya sewarna dengan kertas buku lama. Di dinding sebelah kiri, terpampang gambar Pram setengah badan sedang memegang gelas kopi dengan tulisan besar
"Ngopi sejak dalam pikiran" di bawahnya. Cat temboknya abu-abu kecoklatan. Entah bisikan setan macam apa yang dulu membujuknya agar dindingnya diwarna muram serupa ikan lele dan habitatnya.

Saat mendekati meja barista untuk memesan pertama kali, aku melihat Ron tersenyum ganjil. Betul betul ganjil kurasa melihat seorang pria tersenyum manis ke arahmu dan kamu menatap matanya agak lama tanpa merasa, tentu saja, ganjil.

"Ada kopi yang enak?" tanyaku.

Aku melihat senyum di wajahnya perlahan berubah menjadi tatapan seolah sedang berhadapan dengan makhluk paling tolol di muka bumi.

"Begini Bung, ada kopi Mandaling, Temanggung, Gayo, Kintamani, Lombok, Pasundan, pilih yg mana? Yang sedikit asam atau lebih strong? atau Bung lebih suka yang soft dengan gilingan halus? ada aroma fruity juga, ini pula ada kopi baru yg sedikit fluorist karena ditanam bersama bunga-bungaan."

Aku menatap keparat satu itu dengan pandangan antara bingung dan ingin menggampar mukanya. Peduli setan kopi itu dari daerah mana ataupun ditanam bersama pohon kecubung, aku cuma ingin minum kopi enak seperti digambarkan dalam sebuah buku yang kemarin baru saja kubaca.

"Gayo saja, Mas", kataku.

"Mau dibikin gimana nih?"

Taelaso, maunya apa orang ini. Aku datang ingin minum kopi malah ditanya bagaimana cara membuat kopinya.
Sambil menahan diri untuk tidak mengetapel ubun-ubunnya, aku menjawab

"Dikasih air panas aja, Mas, yang penting bisa diminum dan enak."

Ia tersenyum. Senyum mirip tukang MLM yang baru saja berhasil menipu seorang downline yang berharap menjadi milyarder dengan berbisnis minyak pembesar alat vital. Tapi aku tak mau ambil pusing lebih jauh.

Aku melihat-lihat tempat duduk yang masih kosong. Meja dekat pintu masuk ada seorang pria gondrong berkaos Megadeth sedang membaca buku. Mengingat senyum ganjil Ron ketika aku datang tadi, aku masih curiga bahwa lelaki itu adalah teman satu selera dengan Ron, aku mengurungkan niat untuk duduk di dekatnya.

Di pojok sebelah kiri belakang ada seorang laki-laki tambun bertampang mirip anggota DPR sedang ngobrol dengan dua orang gadis yang menggelayut di kiri-kanannya seperti kucing ingin menyusu induknya. Dua orang, Bung. Brengseknya pula, keduanya nyaris sama cantiknya.
Tapi kondisi itu masih dapat aku maklumi jika saja mulut si laki-laki tidak mengeluarkan lelucon yang bahkan lebih mengenaskan daripada puisi ketua dewan, kemudian puncaknya, kedua gadis tadi terbahak layaknya keledai seolah lelucon sekelas ras turunan lobak asam tadi tidak lebih mengganggu daripada janji beruk ketika kampanye pilkada.

Aku mengambil sikap untuk tidak duduk di dekatnya. Bahkan dari kejauhan, aku setengah mati menahan diri untuk tidak memadamkan bara rokok di pucuk kepalanya.

"Kopi ini Bung, arabica asli, berasal dari Gayo, sedikit flourish, ini coba kau rasakan".

Aku menoleh ke arah Ron, mengira kepalanya terganggu. Jika saja ia tidak menyodorkan lima biji kopi kepadaku, tentu kukira ia sedang berbicara dengan kompor dan saringan gula. Belakangan setelah berkawan dengannya, aku mengetahui bahwa ia benar-benar berbicara dengan kompor dan saringan gulan. Bahkan dengan seluruh alat baristanya. Kurasa kewarasannya ikut luntur seiring masa depannya yang ia gadaikan bertahun lalu ketika menggunakan uang kuliahnya untuk membuka kedai kopi miliknya sekarang.

Tenang, aku ambil lima biji kopi tersebut. Sambil berlagak serius aku mengamati biji kopi yang masing-masing sebesar ujung kuku kelingking di telapak tanganku. Aku menimbang-nimbang apa yang akan kulakukan ketika ia menyuruhku merasakan kopi ini. Kudekatkan hidung, tidak tercium bau istimewa seperti apapun. Aku menjepit satu dengan jempol dan jari telunjuk, keras, tentu saja. Ron masih saja tersenyum ganjil, kemudian berbalik karena teko di belakangnya menyiulkan tanda air telah mendidih.

Aku tahu beberapa saat lagi ia akan bernyanyi menjelaskan biji kopi tersebut padaku. Tapi kali itu, aku tidak mau kalah, aku harus terlihat pintar dengan menilai kopi ini seolah aku pun ahli perasa yang mumpuni. Terlebih, aku mulai terpancing amarah melihat ia memamerkan pengetahuannya padaku sejak tadi.

Karena tidak terpikir cara lain lagi untuk merasakan kopi ini, aku memasukkan lima-limanya ke mulutku.
Biadab, ternyata keras sekali, tentu saja tanpa berpikir lebih panjang, aku menelan biji kopi tersebut.

Penuh rasa percaya diri, aku berkata "Mantab sekali ini kau punya kopi, Bung! Cita rasa yg kaya, aromanya benar-benar terasa, sungguh kekayaan nusantara!"
Aku setengah berteriak ketika mengatakannya, setengahnya lagi berharap lima biji kopi utuh yang baru saja kutelan tidak tersangkut di batang tenggorokannku

Pelan, Ron membawa ketel berisi air panas, menuangkannya perlahan ke gelas berisi bubuk kopi yg tadi digilingnya.

"Luar biasa kamu Bung, aku baru ingin menggiling kopi di tanganmu itu agar kau bisa mencium aromanya, kemudian ini kopi yang kubikin baru bisa kau minum beberapa saat lagi agar dapat terasa aroma flourishnya, hebat sekali indera perasamu, kau seorang barista juga ya?"

Ron bertanya dengan antusias dan tatapannya berubah menjadi seolah baru saja bertemu dengan saudara seperguruan yang telah lama terpisah. Tapi memang benar, pertemuan itulah yang membuatku berkawan dengannya.

Hari itu pula, aku merasa menjadi makhluk paling tolol di jagad raya.

0 komentar:

Posting Komentar