Rencana pemberontakan ini disandikan dalam 66 kalimat pertama 3 bab awal dari 11 buku yang tidak pernah ditulis. Penyusunnya terdiri dari seorang pertapa yang menyaru sebagai penjaga diskotik khusus penyuka sesama jenis dan seorang mantan ahli strategi pada perang bertahun lalu yang kini hanya dikenal sebagai tukang tambal ban merangkap penebar paku.
Bersama, mereka merekrut 8 orang dari 4 penjuru mata angin kemudian bersua di sebuah kedai kopi yang penjualnya lebih sering bermain zuma daripada melayani pembeli.
Seorang anak muda berprofesi bajing loncat yang pertama kali datang. Disusul seorang mantan jawara berumur 56 tahun; seorang bekas pawang lumba-lumba; seorang penabuh kendang dari orkes dangdut tersohor; seorang anak muda yang dari raut mukanya terlihat sedang memasuki masa pencarian pengakuan; dua sisanya datang bersamaan yaitu penceramah abal-abal dan penjual balsem penumbuh bulu dada.
Kami mengangguk antusias mendapati pembagian tugas dalam rencana pemberontakan ini. Masing-masing telah bersiap melakukan perannya. Kesepuluh orang ini kemudian berpencar ke delapan mata angin setelah sebelumnya membunuh si penjual agar rencana tersebut tidak bocor.
Satu orang yang berprofesi sebagai ahli sandi ditugaskan menyampaikan pesan secara tersamar lewat medium apapun dengan lugas dan jelas tanpa menyebutkan nama, profesi, umur, lokasi, ataupun rincian apapun kecuali rujukan-rujukan tertentu demi menjaga keberlangsungan rencana tersebut.
Agar supaya ketika pesan ini ditemukan manusia, mereka tidak akan menemukan apapun kecuali bual-bualan tak berarti.
0 komentar:
Posting Komentar