05/01/18

Malam Jahanam

"Setelah sekian tahun melakukan penyelidikan dan pencarian harta karun kerajaan Media Luna, kami berempat akhirnya tiba pada ruang harta. Tumpukan tinggi koin emas, berlian seukuran batok kelapa, peti-peti besar berisi batangan emas murni, serta berbagai macam perhiasan memenuhi ruangan yang berukuran sekitar setengah lapangan bola di perut gunung Comala yg puncaknya bisa kau lihat dari sini jika kau mendaki bukit belakang rumah kemudian melihat ke arah timur saat cuaca cerah."

Duduk di atas kursi goyangnya berkaos singlet dan sarung, kakek mengambil dua batang rokok lintingannya sendiri, meletakkan satu di bibirnya yang agak gemetar, memantiknya, kemudian meletakkan yang satunya di sela daun telinga. Dari gelagatnya aku tahu, cerita kali ini sedikit-banyak menghadirkan trauma mendalam baginya.

"Melihat harta sedemikian banyak, darah bujang kami menggelegak. Sekelebat keluar, dipaksa atau tumbuh sendiri, masing-masing dari kami timbul pikiran untuk menguasai seluruh harta itu sendirian. Aku sadar tiap orang dari kami sedang merencakan cara paling jitu untuk membunuh satu sama lain. Peduli setan dengan persahabatan kami selama ini. Banyak senjata berserakan dalam ruangan itu, mudah sekali memungut golok, tombak, pedang, ataupun gada yang dapat menjalankan tugas dengan baik."

"Kriett..krieet," derit kursi goyang terdengar jelas ketika aku diam menyimak dan kakek mengambil jeda dengan mengisap rokoknya dalam-dalam.

"Entah siapa yang memulai, masing-masing dari kami bergerak meraih senjata terdekat yang bisa dicapai. Aku melompat meraih golok di depanku. Kemudian berguling cepat ke balik peti untuk merencanakan strategi. Ketiga sahabatku tak jauh berbeda denganku. Tak kurang dari satu menit, aku mendengar teriakan Fulgor Sedano yang kemudian kulihat mayatnya dengan dada ditembus tombak bertatah berlian dari belakang."

Kali ini kakek terlihat melamun sejenak. Aku mafhum. Barangkali ia merutuki harta terkutuk yang membuatnya harus baku bunuh dengan ketiga sahabatnya di malam jahanam itu.

"Lantas bagaimana kakek dulu berhasil membawa harta yang sedemikian banyak keluar dari perut gunung, sendirian?"

Kali ini kakek menghisap rokoknya lebih lama, keluar-masuk berkali-kali, mengambil jeda panjang untuk mengakhiri ceritanya. Aku menahan napas antara sesak dengan aroma tembakau, panas kepul asap, serta rasa penasaran.

"Terus terang, malam itu akupun tidak yakin apakah aku berhasil keluar hidup-hidup."

0 komentar:

Posting Komentar