Minggu pagi di dusun Nasri, Magelang terlihat sekelompok anak berkumpul. Ada yang mengisi polybag dengan pupuk dan sekam, ada yang secara estafet mengumpulkan polybag berisi tanaman tersebut di bawah pohon pisang yang banyak tumbuh di sekitar. Terlihat sibuk, tetapi lebih banyak tawa yang terjadi di antara mereka. Lain waktu, anak-anak belajar membuat bunga kertas, membuat tempat sampah, memberi nama pohon-pohon, maupun belajar teater. Mereka adalah bagian dari Rumah Baca Alam Kalijaga.
Ihsan,
salah seorang penggagas RBAK memiliki kegelisihan dengan anak-anak kecil di
lingkungannya yang mulai menunjukkan gejala apatis dan perkembangan yang kurang
baik. Anak-anak lebih banyak berada di dalam rumah, sibuk dengan televisi dan
gawainya. Hal-hal yang tidak baik untuk anak-anak seperti percintaan orang
dewasa dan lagu berlirik seronok menjadi konsumsi anak-anak nyaris setiap hari.
Berangkat dari hal tersebut, ia dan temannya yang bernama Yuan Arief kemudian
berinisiatif menggunakan lahan bekas kebun salak sebagai lokasi anak-anak untuk
belajar di luar ruangan.
Awalnya,
beberapa warga meremehkan tindakan mereka. Mas Ihsan tidak begitu ingin
menjelaskan tujuannya membersihkan lahan bekas kebun salak, ia ingin warga mengerti
dengan sendiri seiring terwujudnya kegiatan di RBAK. Dibantu Mas Arief dan tiga
orang lainnya, bangunan RBAK terbentuk. Dua gubuk beratap jerami dan asbes,
meja dari papan bekas, kursi dari gelondongan kayu, dan tanaman yang ditata
rapi di RBAK. Pelan tapi pasti, warga mulai memahami apa yang ingin dibuat Mas
Ihsan dan kawan-kawan. Makin hari, kegiatan di RBAK makin bertambah. Ada kegiatan
20 menit membaca buku bersama, membaca puisi, membuat prakarya, outbond,
bernyanyi, dan menanam buah maupun sayuran. Dengan kegiatan sebanyak itu,
tentunya membutuhkan dana. Ketika kami menanyakan hal tersebut, Mas Ihsan
menjawab:
“Kami mandiri mas, bener bener
mandiri. Kami
tidak pernah mengemis-ngemis bantuan dari siapapun. Kami sendiri masih belajar,
belajar untuk memerangi mental kere pada diri kami. Meski kami tidak punya apa
apa, tapi kami malu jika harus meminta, mental kere, mental miskin harus kita
perangi, perangi budaya instan, oleh karena itu yang ada di Baca Alam Kalijaga ini sedikit sekali yang
menggunakan dana, sedikit sekali kebutuhan yang membeli. Siapa yang ingin
memberi silakan, tapi kami berusaha untuk tidak meminta.”
Hambatan yang dihadapi RBAK sebagian berasal dari
komentar masyarakat akan tempat ini. "Sinau
kok neng kebonan, nek cokot ulo piye, nek ketibanan kelapa piye?",
"Paling yo meng gawe kedok golek
duwit". Hambatan lain adalah sumber buku anak anak masih minim, belum
dapat akses, pendirian gazebo dan sarana penunjang membutuhkan biaya, tenaga
dan pikiran khususnya gotong-royong masyarakat, dan juga lokasi yang masih
terlalu kecil untuk tempat berkumpul anak-anak.
Suara-suara
sumbang seperti itu sebenarnya tidak begitu berpengaruh. Karena niat baik tentu
menemui hambatan, manusia hanya bisa berusaha sedapat-dapatnya, dan seringkali hambatan hanyalah perpanjangan tangan dari doa dan harapan.
Di sini anak-anak disediakan
bahan, diberi kemerdekaan untuk berkreasi, kemudian karyanya diapresiasi. Agar anak-anak ini menemukan dunianya, yaitu dunia tempat bermain, belajar, dan mengenal lingkungan.
Tentunya
ini baru menjadi awal perjalanan panjang Rumah Baca Alam Kalijaga. Masih banyak
hambatan yang akan dihadapi, masih banyak kegiatan yang akan dilakukan. Belum lagi asa yang terus dipupuk agar RBAK
dapat berpartisipasi lebih banyak dalam memajukan literasi dan kesejahteraaan
masyarakat. Siapapun yang ingin ikut belajar dan berpartisipasi, bisa menghubungi Rumah Baca Alam Kalijaga di facebook atau akun instagram @rumah_baca_alam_kalijaga. Para pengelola menyadari, perlu tenaga dan semangat yang harus selalu dirawat setiap
harinya untuk menjaga eksistensi RBAK agar bisa tetap tumbuh dan memberikan
manfaat lebih banyak lagi bagi warga sekitar Dusun Nasri RT 12 RW 03 Sidogede,
Grabag, Magelang.



0 komentar:
Posting Komentar