Cerita dari Kafka dan Oedipus
Di ulang tahunnya yang ke 15, Kafka Tamura kabur dari rumah meninggalkan ayahnya demi satu tekad: menjadi pemuda paling tangguh sedunia. Ia berkelana dari satu tempat ke lainnya tanpa tujuan pasti. Bersama Gagak, alter-egonya sendiri, ia bertemu orang-orang dari berbagai latar peristiwa yang menjadikannya pria dewasa dan tangguh.
Di semesta yang lain, Oedipus kecil dibuang ayahnya sendiri yaitu si Raja Laius atas peringatan juru nujum bahwa bayi itu akan melakukan dosa terkutuk di kemudian hari: membunuh ayahnya kemudian menikahi ibunya. Di tempat pembuangannya nun jauh di kerajaan Corinthia, jerit sedih Oedipus menarik perhatian seorang gembala. Tak mampu merawat bayi tersebut, Oedipus kemudian diberikan pada raja Corinthia dan tumbuh besar menjadi pemuda cerdas nan tangguh.
Kemudian kita tahu dua kisah tadi berujung menepati kehendak langit. Seberapa jauh mereka pergi, persetan seberapa tangguh mereka berusaha menghindar, takdir selalu bisa menemukan jalan. Kafka secara tidak langsung terhubung dengan kematian ayahnya, sedangkan Oedipus membunuh seseorang dalam sebuah perkelahian yang ternyata ayahnya sendiri. Keduanya sama-sama menjadi pendosa dengan mengawini ibunya sendiri meskipun tanpa disadari. Saeki untuk Kafka, Iokasta untuk Oedipus. Mereka menjadi pendosa meski tak berniat melakukannya, meski sudah berusaha menghindari takdir sejauh mungkin. Keduanya tentu berhak merutuki takdir yang sedemikian keparat. Namun di sisi lain, mereka memiliki kemerdekaan untuk memilih jalan hidup selanjutnya meskipun sadar ujung nasib sudah ditentukan dari langit.
**
Fiksi selalu bisa memberikan kemerdekaan tafsir bagi pembacanya. Kerapkali keberanian dirujuk dari kisah-kisah yang melibatkan denting pedang, darah, dan teriakan. Jarang disadari bahwa keberanian tidak melulu pertarungan manusia melawan manusia, alam, atau para penguasa. Ia pun ada dalam pertarungan sehari-hari manusia melawan kehendak langit yang sudah ditentukan berbekal kemerdekaan menjejak jalan nasib yang ingin dijalani.
Tidak pernah ada jalan nasib yang terlampau baik, sebagaimana pula tidak ada nasib yang kelewat buruk. Jikapun terpaksa melalu jalan yang buruk, tariklah nafas dalam-dalam, kepalkan tangan, naikkan dagu, kemudian berjalan lagi dengan badan tegak, dengan penuh kemerdekaan.
Selamat ulang tahun.
Tetaplah tangguh dan berani.

0 komentar:
Posting Komentar