05/02/18

Pak Tua dan Pantai


Tempik sorak memenuhi ruang ketika selesainya acara seremonial pemindahan seutas tali dari sisi kiri ke sisi kanan kepala. Gerumbul manusia berjubah dan topi hitam masing-masing memegang map tebal berwarna biru gelap. Sambil memandang sinis manusia yang berjejalan seperti ayam berebut bekatul, Antonio Boulevard memutuskan untuk keluar lebih akhir. Ia tidak begitu suka berdesakan, lagipula tidak ada seorangpun yang menunggunya di luar untuk berfoto, memberikan hadiah, atau sekedar mengucap selamat. Mungkin saja segelintir temannya ada yang menunggunya, sekedar untuk mengucap selamat, tapi Antonio tak pernah menganggap pertemanan dan segala tetek bengeknya adalah hal yang penting.

Di dalam auditorium yang mulai lengang, ia duduk sambil mengipasi diri menggunakan topi hitam segilimanya. Hal-hal yang akan ia rencanakan sudah berkelibat di dalam kepala. Ia sudah diterima bekerja di suatu perusahaan besar. Jika perhitungannya tak meleset, karir di perusahaan itu bakalan melejitkannya dalam takaran yang disebut orang kebanyakan sebagai sukses. Cukup sukses hingga mampu untuk menutup mulut orang-orang yang kerap meremehkannya sedari dulu.

Empati yang rendah berhasil ia tutupi dengan intelegensinya yang di atas rata-rata. Ia telah belajar mempelajari sikap-sikap manusia yang menunjang untuk kelancaran kariernya. Berpura-pura baik dan akrab itu ternyata tidak mudah, namun bukan mustahil untuk dipelajari. Hingga lambat laun pun ia terbiasa. Hanya butuh dua belas tahun baginya untuk mencapai posisi tinggi di perusahaan. Karena ia bukan keturunan pendiri perusahaanlah satu-satunya alasan mengapa ia tidak segera menggantikan tua bangka direktur perusahaan ini. 

Posisinya sebagai ahli membuatnya kini cukup bekerja sebagai konsultan. Kerjanya hanya memerintah dan bercuap-cuap pada bawahan. Bahkan, kini ia sering diundang untuk mengisi seminar tentang keahliannya. Hanya perlu membualkan beberapa kata sulit kemudian membumbui beberapa kisah inspiratif di depan banyak orang, kemudian orang-orang dungu itu akan terharu lalu membayar dengan uang yang sedemikian banyak. Ternyata, mereka hanya butuh kisah motivasional sebagai hiburan untuk kehidupan yang sedemikian membosankan. Setelah menonton, mereka akan pulang ke rumah lalu tidur lalu bangun lagi keesokan harinya dengan kebebalan, kebosanan, dan ketidak-pedulian yang sama. Setiap hari nyaris tanpa jeda.

Sebenarnya dari awal dengan sepenuh kesadaran, ia tahu bahwa selama ini berbohong, terutama pada dirinya sendiri. Namun apa lacur, orang-orang berkepala kopong itu suka dan mau membayar banyak untuk cerita bohong. Ketika ia membicarakan keahliannya, hanya beberapa orang yang sanggup mengerti. Tidak menarik tentu saja. Hal ini membuat honornya tidak sebanyak ketika ia lebih rajin menjual kebohongan.

Hingga ia tiba pada akhir. Di masa tuanya, duduk menikmati angin di halaman pondok yang menghadap laut sambil menenggak bir dingin. 

Sendirian.

Melamunkan segala kebohongan yang ia ciptakan untuk dirinya sendiri selama ini. Untunglah hidup selama ini baik-baik saja baginya, toh menjadi pembohong tidak pernah salah-salah amat, bukan?
Seperti pantai, ombak, dan matahari sewarna jeruk di ujung barat juga bukan sebenar-benarnya pantai. Masih ada kerikil, sampah plastik yang ditinggalkan wisatawan goblok, sisa botol miras, maupun ceceran plastik lentur di balik semak-semak yang seringkali menjadi saksi roman picisan. Dunia masih perlu hal-hal buruk untuk membuat beberapa hal menjadi baik. Masih akan ada sekian lagi penyesalan di kemudian hari yang harus dibunuh kemudian dibangkitkan lagi menjadi puisi dalam sunyi. Jangan sedih.

0 komentar:

Posting Komentar