12/12/17

Pesawat Terbang



Aku sudah lama ingin naik pesawat terbang. Sepasang sayap putih besar yang membentang luas dengan mesin besar di tiap sisi. Belum lagi deru yang dihasilkan ketika lepas maupun tinggal landas di landasan bandara yang terletak sekitar satu kilometer dari rumahku. Hampir setiap sore aku dan teman-temanku bersepeda di sekeliling bandara. Dari jalanan kami dapat melihat pesawat lalu-lalang di kejauhan. Dalam cuaca yang buruk, pesawat yang datang-pergi cenderung lebih sedikit.

Di depan pintu masuk bandara terdapat monumen perang yang sering digunakan banyak orang untuk berfoto. Monumen berwujud pesawat itu tampak berkilauan jika terkena cahaya matahari. Pun jika hujan, tampak gagah ditimpa air dan badai. Kami sering bermain di tanah berumput sekitar monumen itu ketika hujan turun. 

Waktu kecil aku sering sakit-sakitan. Orang tuaku tidak membolehkanku hujan-hujanan. Kena hujan sedikit saja aku segera terkena demam dan batuk. Katanya, jantung dan daya tahan tubuhku lemah. Akan tetapi aku sering menyelinap dari rumahku. Bukan hujan sebenarnya hal yang paling aku sukai, melainkan pesawat dengan lampu kelap-kelip yang dinyalakan ketika hujan turun. Gagah sekali serupa burung besar yang menyala.

Dari kecil hingga lulus kuliah, aku selalu bersekolah di dalam satu kota. Bahkan ketika KKN, aku tidak boleh ke tempat yang letaknya harus ditempuh dengan pesawat. Ibuku beralasan dengan pertimbangan kondisi tubuhku yang mudah sakit. Kesal sekali rasanya. Tapi apa boleh buat. Aku bersabar menunggu momen yang tepat.

Sekarang, aku sudah duduk di kabin pesawat, mewah pula tempatnya. Seorang taipan dari China mengundangku mengisi ceramah tentang perekonomian di salah satu perusahaanya. Aku sedikit geli karena mengingat, ceramah tentang penelitian itu sebenarnya hanya bual-bualanku semata. Aku hanya menambahkan kata-kata mutiara dan istilah perekonomiaan yang sulit hanya agar dikagumi para pendengarku yang kebanyakan berduit banyak tapi berkepala kopong. Ternyata mereka suka dan seringkali terharu. Berkali-kali aku harus menahan tawa melihat ekspresi mereka yang sedemikian merangsang untuk ditabok.

Tapi peduli setan, penting honor yang kuterima selalu lebih besar dari gajiku di perusahaan tempatku bekerja.

Lebih lagi, kini aku dapat naik pesawat. Dalam kabin mewah dan pelayanan dari pramugari yang senantiasa tersenyum. Kursinya empuk, tidak pula ada bau-bauan aneh. Disediakan majalah serta layar berukuran sedang yang dapat digunakan untuk menonton film maupun memutar musik lewat headphone.

Aku kegirangan ketika menyaksikan dari jendela pesawat yang kunaiki terlihat pesawat ini mulai naik meninggalkan landasan. Impianku sejak kecil akhirnya terwujud. Aku ingin tertawa keras-keras dan melompat sekuatnya. Ini adalah hal paling menyenangkan dalam hidup yang kuidam-idamkan sedari kecil. Aku bahagia, sangat bahagia hingga membuat dadaku sedikit sesak.

Pramugari membangunkanku, ternyata selama perjalanan aku tertidur. Aku sedikit menyesal melewatkan pendaratan pesawat ini. Mataku sedikit berkunang-kunang. Tapi entah mengapa, ruangan kabin menjadi putih dan berkilau dan bertambah luas.
Aku bertanya pada pramugari yang sepertinya tidak menunjukkan gelagat ingin membukakan pintu. Padahal dari luar sudah kulihat bandara (yang anehnya) sedemikian bersih dan banyak orang berlalu-lalang.

“Bukankah perjalanan sudah selesai dan saya sudah sampai di Beijing?,” tanyaku.

“Perjalanan sudah selesai, Pak. Kita tidak pernah sampai,” katanya sambil tersenyum.

0 komentar:

Posting Komentar