Bukan perkara terlampau serius sebenarnya. Hanya saja kemarin saya baru saja menempuh perjalanan dari Jogja, di perjalanan saya sudah merangkai sekian paragraf dan kalimat puitik untuk ditulis dalam rangka merayakan ulang tahun Jogja sembari berguling di kasur dan menyeruput kopi demi memperjuangkan pencitraan yang sedang saya bangun.
Lha kok ndilalah, sampai kos pintu sudah dikunci. Kebetulan pula, kawan yang biasanya membukakan pintu sama-sama baru pulang dan tidak dapat masuk. Sekian baris kalimat puitik di kepala saya mendadak hilang, berganti menjadi serombongan makian yang lebih cocok dijadikan bahan pidato makian dungu demonstrasi bayaran. Apa gak bikin muntab betul itu penguncinya?
Dipupuk rasa penasaran, saya menyiapkan kopi untuk membantu menangkal
kantuk. Malam ini langit pun mendukung dengan menurunkan hujan deras
yang berkemungkinan besar membuat siapapun, bahkan dengan kepekaan
artistik paling menyedihkan sekalipun untuk membuat puisi, meskipun
hasilnya bisa jadi buruk saja belum.
Gerimis dan suasana artsy-able begitu tidak mengurangi rasa penasaran saya.
Berbekal kesabaran dan optimisme Platonis seperti pendukung Liverpool dan Arsenal, saya tekun mengamati dari jendela kamar yang saya buka sedikit untuk melihat siapa sesungguhnya pelaku pengunci pintu yang layak dihukum mendengarkan ocehan Fadli Zon selama sepuluh jam, tanpa jeda.
Pukul tiga pagi. Semua warga kos tampak terlelap di kamarnya masing-masing. Pintu utama kos masih tertutup dan tidak terkunci. Tidak tampak batang hidung keledai yang kemarin malam, dengan sepayah-payah akal sehatnya, mengunci pintu kos tanpa sanggup menggunakan daya nalarnya yang paling lemah untuk berpikir bahwa masih ada warga kos yang belum pulang.
Sampai di sini, pukul setengah empat pagi, saya merasa gagal sebagai seorang penggemar Detektif Conan dan Sherlock Holmes.
Gerimis dan suasana artsy-able begitu tidak mengurangi rasa penasaran saya.
Berbekal kesabaran dan optimisme Platonis seperti pendukung Liverpool dan Arsenal, saya tekun mengamati dari jendela kamar yang saya buka sedikit untuk melihat siapa sesungguhnya pelaku pengunci pintu yang layak dihukum mendengarkan ocehan Fadli Zon selama sepuluh jam, tanpa jeda.
Pukul tiga pagi. Semua warga kos tampak terlelap di kamarnya masing-masing. Pintu utama kos masih tertutup dan tidak terkunci. Tidak tampak batang hidung keledai yang kemarin malam, dengan sepayah-payah akal sehatnya, mengunci pintu kos tanpa sanggup menggunakan daya nalarnya yang paling lemah untuk berpikir bahwa masih ada warga kos yang belum pulang.
Sampai di sini, pukul setengah empat pagi, saya merasa gagal sebagai seorang penggemar Detektif Conan dan Sherlock Holmes.
0 komentar:
Posting Komentar