25/12/16

Doa Sepanjang Cemoro Sewu

Pukul 09.00 saya keluar tenda untuk membuat kopi hangat dan menyiapkan sarapan. Di pos 4 jalur Cemoro Sewu yang sudah lebih separuh jalan menuju puncak Gunung Lawu, saya masih sedikit menggigil karena kedinginan. Misal bukan karena kelaparan tidak mungkin saya memaksa keluar tenda untuk menyiapkan sarapan. 

Masih dengan separuh kesadaran, saya melihat dengan pandangan tidak percaya ada simbah-simbah memanggul tenggok menuju tempat kami mendirikan tenda. Bawaannya tampak berat, tidak pula menggunakan tas gunung yang besar dan memang dirancang untuk membawa beban dalam jumlah banyak. Beliau tidak mengenakan jaket, hanya baju kain biasa, celana khas petani, dan caping. Perawakannya kurus, tetapi langkahnya tegap seolah berjalan biasa di lingkungan yang datar.

Karena mengira penampakan, saya pun membangunkan teman saya untuk memastikan apa yang saya lihat nyata adanya. Kemudian simbah itu mendekat ke tenda kami.

“Sarapannya mas ? ini ada oseng-oseng dan telur dadar, gorengannya juga ada”
Saya masih tidak percaya dengan yang ditawarkan beliau.

“Sarapan ?," saya mengucap pertanyaan ini dengan wajah tolol.

“Iya mas, ini ada nasi oseng dan telur dadar, gorengannya ada, ini juga ada teh gelas”

Ada keheningan dungu ketika saya berusaha mencerna apa yang terjadi. Pos 4 jalur Cemoro Sewu ini sudah sedemikian tinggi dari pos pemberangkatan, kami semalam berangkat pukul satu dan sampai di pos 4 sekitar setengah enam. Semuanya laki-laki dengan kondisi tidak kurang suatu apapun dengan peralatan dan perbekalan lengkap. Sedangkan beliau dengan pakaian sehari-hari dan memanggul tenggok.

Saya mengamati bawaan beliau. Tenggok
 bambu bertuliskan “Kasinem” berisi bungkusan nasi lauk dan baskom untuk wadah aneka gorengan dan teh gelas.

“Sampeyan membawa dagangan ini darimana mbah ?”

“Dari rumah saya mas”

“Lha sampeyan dari bawah jam berapa ? kok jam segini sudah bisa sampai pos 4 ?”

“Habis subuh berangkat dari bawah, dulu seminggu bisa 3-4 kali, tapi sekarang sudah tua jadi paling 1-2 kali saja”

Mbah Kasinem mengatakannya dengan nada datar seolah mendaki gunung hanyalah kegiatan santai yang tidak menguras fisik. Kemudian sambil memakan nasi bungkus tadi, saya kembali menanyai Mbah Kasinem.

“Kenapa tidak mendirikan warung saja seperti lainnya saja mbah ?”

“Tidak ada modal mas, apa yang bisa saya lakukan ya begini, alhamdullilah cukup untuk sehari-hari”

Mendadak nasi yang saya makan seperti berhenti di mulut. Mendengar penjelasannya untuk terus berusaha dan sikap syukurnya yang luar biasa saya merasa tidak pantas lagi untuk bertanya. Saya mendapati diri sering menggunakan uang untuk hal-hal yang tidak ada gunanya sambil terus mengeluh, sedangkan orang-orang seperti Mbah Kasinem bekerja keras dan bersyukur lebih keras lagi.

Di puncak Hargo Dumilah saya melihat bumi dan langit yang luas. Setelah semua yang saya capai pada titik ini, saya merasa bukan siapa-siapa daripada Mbah Kasinem beserta manusia-manusia optimis lainnya yang menjalani hidup sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya

Saya rasa, malaikat pun akan berdoa agar beliau-beliau ini masuk surga.