22/06/17

Rubono, Lebaran, dan Segala Hal di Dunianya yang Sederhana






Dari jalan raya yang menghubungkan semenanjung Gibraltar hingga teluk Benggala, terdapat kebun ganja yang mungkin tidak banyak orang yang mengenal pemiliknya. Kamu pun pasti tidak mengenalnya. Sama seperti kamu tidak begitu mengenal Rubono, seorang perjaka kawakan yang berprofesi sebagai petani dan merangkap sebagai satu-satunya pengurus masjid di kampung Alabama.

Suatu sore saya berkesempatan ngobrol dengannya ditemani segelas kopi dan pisang goreng di rumah yang ia tempati bersama mamaknya. Orang seperti Rubono ini adalah perwujudan dari orang kecil di antara orang kecil. Peran mereka tidak pernah dianggap signifikan dalam masyarakat. Mereka adalah orang yang dengan sadar diri memilih tempat terluar ketika pengajian, shalat di-shaf paling belakang meskipun datang lebih dahulu, naik mobil paling rombeng setiap kali mengiring keluarga tetangganya yang mengadakan pesta pernikahan, dan segala penerimaan hidup yang sebenarnya dia jalani biasa saja tanpa perlu banyak mendramatisir hal yang jika diributkan hanya membuat banyak permasalahan.
 
Tidak pernah ada yang istimewa dari kehidupannya yang lahir dari keluarga sangat sederhana. Pendidikan formal laki-laki berusia 48 tahun ini boleh dibilang kurang, ia hanya bersekolah sampai kelas 4 sekolah dasar. Sekalipun tidak terbilang berpendidikan, namun soal kegigihan dan keteguhan hati, Rubono termasuk manusia unggulan.

Sejak kecil, Rubono sudah diajak membantu ayahnya mengurus sawah yang luasnya tidak seberapa untuk menghidupi ia dan kedua adik perempuannya. Karena dirasa memiliki lebih banyak tenaga daripada sekedar bertani, ketika ia berumur 16 tahun, ia diajak pamannya berkelana ke rimba ibukota dengan iming-iming kehidupan yang lebih baik. 

Beragam profesi ia jalani. Mulai dari menjual balon, calo tiket, kuli angkut, kuli bangunan, maupun pedagang koran. Bahkan ia pernah tertipu bisnis mengelem teh maupun investasi bodong yang menguras tabungannya saat itu. Kemudian, pelan ia berbisik, takut terdengar mamaknya di dalam.

“Aku pernah jadi tukang copet, preman pasar, bajing loncat, bahkan terakhir menjadi germo di lokalisasi”, katanya pelan sambil tersenyum sedikit membanggakan diri.

Ia bercerita saat itu pendapatannya sangat mencukupi. Setiap kali mudik lebaran, ia selalu membawakan banyak oleh-oleh untuk orang tua dan kedua adik perempuannya. Baginya mudik lebaran adalah ritus sakral, bahkan lebih sakral daripada bulan puasa itu sendiri.

“Meskipun menjalani kehidupan gelap di ibukota, aku selalu ingat mamak sama bapak, ingat dan waspada jangan sampai mereka tahu yang kulakukan di sini”, katanya sambil terkekeh kemudian menundukkan kepala.

“Dulu waktu kubelikan televisi, mamak begitu bahagia, bahkan membuat tumpengan segala, hihihi..”, kenangnya. Aku sedikit merasa ia sedang berusaha menghibur diri.

Dengan penghasilan sebesar itu, aku lantas penasaran mengapa ia meninggalkan rimba ibukota.

“Waktu itu ada ‘pembersihan’, teman-temanku yang bertato dicatat, kemudian beberapa hari kemudian mereka hilang, tidak pernah kujumpai lagi”
Tanpa kuminta, ia mengangkat kaosnya untuk menunjukkan tato bergambar tawon di sebelah kanan udelnya. Aku menduga itu tawon, mendekati tawon paling tidak. Aku terlalu takut bakal ditempelengnya di tempat jika mengatakan tato itu lebih mirip borok di kulit yang nyaris sama hitam dengan warna tatonya.

Ia kemudian mempersilahkanku menyeruput kopi dan memakan pisang goreng yang disediakannya karena adzan sudah berkumandang, tanda buka puasa sudah tiba. 

“Ayo maghrib dulu, jamaah sama mamakku juga, ngobrolnya dilanjutkan nanti”

Aku mengiyakan ajakannya, padahal jika di rumah aku memilih mengisi perutku penuh-penuh terlebih dahulu. 

Selesai shalat, kami mengobrol lagi. Kali ini ia tampak murung. Ia bercerita ketika ayah dan kedua adiknya meninggal karena wabah demam berdarah di kampungnya.  Ketika ia pulang, hanya ibunya yang masih hidup. Sialnya lagi, Rubono malah ikut demam berhari-hari hingga dikira bakalan mati juga, untungnya tidak.

Sejak itu dirinya memutuskan tinggal di rumah saja menjaga emak sambil mengolah sawah warisan ayahnya. Saat-saat ramadhan begini adalah favoritnya. Ia merasa dapat menebus masa lalunya yang gelap dengan mengaji di masjid, ditemani emaknya pula. Karena itulah Rubono senang sekali ketika diberi mandat oleh pak RT untuk menjadi pengurus masjid. Dalam artian menyapu bagian dalam dan halaman, mengecek toa, membetulkan genteng yang bergeser, namun ia tidak pernah diperbolehkan adzan ataupun menjadi imam. Toh, ia tak pernah ambil pusing dengan hal itu karena merasa pengetahuan agamanya hanya pas-pasan semata. Mendekati lebaran, ia biasanya membelikan mamaknya baju baru dan sedikit cemilan untuk disajikan jika ada saudaranya yang datang bersilaturahmi.

“Mamak tidak pernah mau aku ajak ke toko lagi, kupikir karena ia kecapekan. Ya sudah aku sendiri yang ke toko memilihkan baju untuknya, untunglah ia tak pernah memprotes pilihanku, hahaha”, katanya dengan penuh kebahagiaan.

Kebetulan, malam itu adalah malam sebelum hari lebaran, takbir saling bertaut dari segala penjuru untuk meramaikan kedatangan hari lebaran. Ketika mengambil wudhu tadi, aku melewati kamar emaknya dan melihat jajaran kebaya masih berbungkus plastik dengan rapi, tidak pernah dibuka. Belum lagi beragam cemilan tersaji di meja ruang tamu, meskipun banyak lagi kulihat ada yang sedikit menjamur di dapur rumahnya. Aku melihat dari belakang punggungnya ketika ia tergopoh mengambil wudhu karena ternyata adzan Isya sudah berkumandang. 

“Ayo shalat di masjid, sekalian takbiran, sepertinya mamak sudah berangkat duluan, tidak kulihat lagi ia di dalam”, katanya.

Aku menemaninya menuju masjid sambil memikirkan kembali niatku sejak awal untuk mengajaknya menziarahi makam mamaknya yang meninggal bertahun-tahun lalu. Kuputuskan untuk mengurungkan niatku. Lagipula, siapa yang menyukai tragedi apalagi di hari lebaran ?

Malam itu, kukira gema takbir bersekutu membahagiakan Rubono dan segala hal di dunianya yang sederhana.
sumber gambar: https://www.bhagavadsambadha.com/foto?lightbox=dataItem-im1o981s1