Dari
jalan raya yang menghubungkan semenanjung Gibraltar hingga teluk Benggala,
terdapat kebun ganja yang mungkin tidak banyak orang yang mengenal pemiliknya. Kamu
pun pasti tidak mengenalnya. Sama seperti kamu tidak begitu mengenal Rubono,
seorang perjaka kawakan yang berprofesi sebagai petani dan merangkap sebagai
satu-satunya pengurus masjid di kampung Alabama.
Suatu
sore saya berkesempatan ngobrol dengannya ditemani segelas kopi dan pisang
goreng di rumah yang ia tempati bersama mamaknya. Orang
seperti Rubono ini adalah perwujudan dari orang kecil di antara orang kecil. Peran
mereka tidak pernah dianggap signifikan dalam masyarakat. Mereka adalah orang
yang dengan sadar diri memilih tempat terluar ketika pengajian, shalat di-shaf
paling belakang meskipun datang lebih dahulu, naik mobil paling rombeng setiap
kali mengiring keluarga tetangganya yang mengadakan pesta pernikahan, dan
segala penerimaan hidup yang sebenarnya dia jalani biasa saja tanpa perlu
banyak mendramatisir hal yang jika diributkan hanya membuat banyak permasalahan.
Tidak
pernah ada yang istimewa dari kehidupannya yang lahir dari keluarga sangat sederhana.
Pendidikan formal laki-laki berusia 48 tahun ini boleh dibilang kurang, ia
hanya bersekolah sampai kelas 4 sekolah dasar. Sekalipun tidak terbilang
berpendidikan, namun soal kegigihan dan keteguhan hati, Rubono termasuk manusia
unggulan.
Sejak
kecil, Rubono sudah diajak membantu ayahnya mengurus sawah yang luasnya tidak
seberapa untuk menghidupi ia dan kedua adik perempuannya. Karena dirasa
memiliki lebih banyak tenaga daripada sekedar bertani, ketika ia berumur 16
tahun, ia diajak pamannya berkelana ke rimba ibukota dengan iming-iming
kehidupan yang lebih baik.
Beragam
profesi ia jalani. Mulai dari menjual balon, calo tiket, kuli angkut, kuli
bangunan, maupun pedagang koran. Bahkan ia pernah tertipu bisnis mengelem teh maupun
investasi bodong yang menguras tabungannya saat itu. Kemudian, pelan ia
berbisik, takut terdengar mamaknya di dalam.
“Aku
pernah jadi tukang copet, preman pasar, bajing loncat, bahkan terakhir menjadi
germo di lokalisasi”, katanya pelan sambil tersenyum sedikit membanggakan diri.
Ia
bercerita saat itu pendapatannya sangat mencukupi. Setiap kali mudik lebaran,
ia selalu membawakan banyak oleh-oleh untuk orang tua dan kedua adik
perempuannya. Baginya mudik lebaran adalah ritus sakral, bahkan lebih sakral
daripada bulan puasa itu sendiri.
“Meskipun
menjalani kehidupan gelap di ibukota, aku selalu ingat mamak sama bapak, ingat
dan waspada jangan sampai mereka tahu yang kulakukan di sini”, katanya sambil
terkekeh kemudian menundukkan kepala.
“Dulu
waktu kubelikan televisi, mamak begitu bahagia, bahkan membuat tumpengan segala,
hihihi..”, kenangnya. Aku sedikit merasa ia sedang berusaha menghibur diri.
Dengan
penghasilan sebesar itu, aku lantas penasaran mengapa ia meninggalkan rimba
ibukota.
“Waktu
itu ada ‘pembersihan’, teman-temanku yang bertato dicatat, kemudian beberapa
hari kemudian mereka hilang, tidak pernah kujumpai lagi”
Tanpa
kuminta, ia mengangkat kaosnya untuk menunjukkan tato bergambar tawon di sebelah
kanan udelnya. Aku menduga itu tawon, mendekati tawon paling tidak. Aku terlalu
takut bakal ditempelengnya di tempat jika mengatakan tato itu lebih mirip borok
di kulit yang nyaris sama hitam dengan warna tatonya.
Ia
kemudian mempersilahkanku menyeruput kopi dan memakan pisang goreng yang
disediakannya karena adzan sudah berkumandang, tanda buka puasa sudah tiba.
“Ayo
maghrib dulu, jamaah sama mamakku juga, ngobrolnya dilanjutkan nanti”
Aku
mengiyakan ajakannya, padahal jika di rumah aku memilih mengisi perutku
penuh-penuh terlebih dahulu.
Selesai
shalat, kami mengobrol lagi. Kali ini ia tampak murung. Ia bercerita ketika
ayah dan kedua adiknya meninggal karena wabah demam berdarah di kampungnya. Ketika ia pulang, hanya ibunya yang masih
hidup. Sialnya lagi, Rubono malah ikut demam berhari-hari hingga dikira bakalan
mati juga, untungnya tidak.
Sejak
itu dirinya memutuskan tinggal di rumah saja menjaga emak sambil mengolah sawah
warisan ayahnya. Saat-saat ramadhan begini adalah favoritnya. Ia merasa dapat
menebus masa lalunya yang gelap dengan mengaji di masjid, ditemani emaknya
pula. Karena itulah Rubono senang sekali ketika diberi mandat oleh pak RT untuk
menjadi pengurus masjid. Dalam artian menyapu bagian dalam dan halaman,
mengecek toa, membetulkan genteng yang bergeser, namun ia tidak pernah
diperbolehkan adzan ataupun menjadi imam. Toh, ia tak pernah ambil pusing
dengan hal itu karena merasa pengetahuan agamanya hanya pas-pasan semata. Mendekati
lebaran, ia biasanya membelikan mamaknya baju baru dan sedikit cemilan untuk disajikan
jika ada saudaranya yang datang bersilaturahmi.
“Mamak
tidak pernah mau aku ajak ke toko lagi, kupikir karena ia kecapekan. Ya sudah
aku sendiri yang ke toko memilihkan baju untuknya, untunglah ia tak pernah memprotes
pilihanku, hahaha”, katanya dengan penuh kebahagiaan.
Kebetulan,
malam itu adalah malam sebelum hari lebaran, takbir saling bertaut dari segala
penjuru untuk meramaikan kedatangan hari lebaran. Ketika mengambil wudhu tadi, aku
melewati kamar emaknya dan melihat jajaran kebaya masih berbungkus plastik
dengan rapi, tidak pernah dibuka. Belum lagi beragam cemilan tersaji di meja
ruang tamu, meskipun banyak lagi kulihat ada yang sedikit menjamur di dapur
rumahnya. Aku melihat dari belakang punggungnya ketika ia tergopoh mengambil
wudhu karena ternyata adzan Isya sudah berkumandang.
“Ayo
shalat di masjid, sekalian takbiran, sepertinya mamak sudah berangkat duluan,
tidak kulihat lagi ia di dalam”, katanya.
Aku
menemaninya menuju masjid sambil memikirkan kembali niatku sejak awal untuk
mengajaknya menziarahi makam mamaknya yang meninggal bertahun-tahun lalu. Kuputuskan
untuk mengurungkan niatku. Lagipula, siapa yang menyukai tragedi apalagi di hari
lebaran ?
Malam itu, kukira gema takbir bersekutu membahagiakan Rubono dan segala hal di dunianya yang
sederhana.
![]() |
| sumber gambar: https://www.bhagavadsambadha.com/foto?lightbox=dataItem-im1o981s1 |

