05/08/17

Iusmollo, Au Umnau Is Ko

Malam ini dingin, seperti suhu malam-malam biasa di Iusmollo. Kabut turun agak tebal, hujan gerimis masih menyisakan baunya, untung saja aku bukan tipe yang mudah terganggu karena dingin. Aku baru saja jalan-jalan malam bersama kawanku saat truk itu datang. Cahaya silau masuk ke pekarangan rumahku, mengalahkan cahaya purnama yang kala itu terang-terangnya.

Warga berkumpul di dekat rumahku, truk baru saja berhenti di samping pohon jeruk. Beberapa anak kecil ramai menyambut kedatangan orang-orang asing. Ugh, aku tidak terlalu menyukai keramaian. Tapi tunggu dulu, satu persatu orang asing itu turun dari truk. Mereka membawa tas banyak sekali. Wajah mereka terlihat bahagia dan antusias meskipun tidak mampu menyembunyikan kelelahan. Tapi yang membuatku tertarik adalah penampilan mereka yang berbeda, bukan Orang Timor sepertinya. Mereka lebih seperti orang-orang di televisi yang pernah kulihat sekilas di rumah Bapak BPD (jangan salah, walaupun di Iusmollo tidak ada listrik tetapi setiap ada acara tertentu kami bisa menyalakan genset dan televisi).
           
Itulah awal perjumpaanku dengan mereka, yang belakangan kuketahui adalah orang dari di negeri seberang lautan sana. Mereka berjumlah 26 orang, 14 perempuan dan sisanya laki-laki. Sejak malam itu aku selalu dekat dengan mereka. Aku sering mengikuti kegiatan mereka, melihat mereka --entah kenapa-- menakjubi hal-hal yang biasa dilakukan masyarakat di sini seperti memasak bersama menggunakan batu dan kayu, duduk menghabiskan sisa hari di Ome Kbubu (rumah bulat khas Timor) bersama-sama, bermain gitar hingga larut malam, melihat mereka pulang ke tempat menginap masing-masing, sampai setiap mereka makan pasti aku pun turut serta. Selanjutnya yang akan kuceritakan adalah kisah-kisah tentang mereka dan Iusmollo.
***
            
Aku tahu pagi itu mereka kebingungan, terlihat jelas dari wajah-wajah mereka. Ini hari kedua mereka di sini dan mereka sudah harus mulai memasak dan menyiapkan semuanya sendirian. Biasanya warga Iusmollo memasak jagung boshe untuk sarapan. Boshe ini merupakan nasi jagung yang disiram dengan kuah sayur daun labu (mereka biasa menyebutnya daun bulu). Kurasa, baru pertamakali mereka  menanak nasi menggunakan periuk dengan perapian dari batu dan kayu.

Pagi itu kulihat dua orang tengah memperdebatkan apa yang bisa dimasak untuk menu makan siang. Aku mengenali dua perempuan itu, yang satu bernama Alifa dan satunya lagi Kurama. Dari pembicaraan yang kudengarkan, mereka tengah bingung karena belum mempunyai bahan makanan selain beras. Padahal di Iusmollo tidak ada pasar. Pasar paling dekat berada di kota kecamatan Kapan (ini bukan pertanyaan, tapi benar nama kecamatan itu adalah Kecamatan Kapan) yang jarak tempuhnya satu jam dari Iusmollo dengan menggunakan Otto, itupun hanya ramai tiap Hari Kamis.

Ah, dasar orang-orang ini. Kami, warga Iusmollo, untuk makan sehari-hari tidak perlu pergi ke pasar. Makanan sudah tercukupi dari apa yang kami tanam, dari apa yang tumbuh di sekitar. Setiap tahun kami tidak pernah kekurangan jagung, hasil panen jagung kami simpan di langit-langit Ome Kbubu yang selanjutnya secara tidak langsung akan terkena asap dari perapian. Hal itulah yang membuat jagung tidak busuk walau disimpan berbulan-bulan.

Setelah perdebatan yang kulihat tidak ada hasilnya karena keduanya sama-sama tidak memiliki solusi yang tepat, akhirnya Delsi dan Vera (remaja perempuan asli Iusmollo) mengajak mereka dan pergi ke ladang. Aku mengikuti mereka dari belakang. Aku kembali heran, apa yang ada di negeri mereka? Setiap melihat tanaman yang menarik perhatian, mereka akan langsung berhenti, mengamati dengan wajah heran, kemudian berfoto, nyaris dengan segala macam tanaman. Mulai dari daun seledri, pohon jeruk, cabai-cabaian, tomat, mentimun, mereka tampak heran. Apa sih yang ada di negeri mereka sampai-sampai mereka tidak tahu hal-hal seperti itu? Sesampainya di ladang mereka memetik banyak sayuran. Daun singkong, daun bayam, cabai, tomat, bahkan kalau tidak diperingatkan Delsi dan Vera mungkin mereka bakalan memetik semak-semak yang mereka kira adalah sayuran.

Aku mendengar mereka bercerita, kalau di negeri mereka hidup tidak seperti ini. Segala sesuatu harus dibeli dengan uang. Apa yang akan kita makan besok sudah harus dipersiapkan biayanya hari ini. Ah, pusing sekali kukira. Kami  di Timor tidak seperti itu, kami makan dari yang tersedia di alam sekitar, kami mengambil seperlunya, dan menjaga yang tersisa.

Sepulang dari ladang mereka memasak bersama-sama. Menggunakan bumbu ajaib yang mereka sebut-sebut bernama Masako. Aku makin tidak paham lagi, mereka bingung melihat Mama dan Bapak di rumahku belum mau makan sebelum mereka semua selesai makan. Kawan, adat di negeri kami memang begitu. Kami harus menghormati tamu, setelah tamu selesai makan barulah kami bisa makan, memangnya kehidupan manusia di sana tidak ada adat yang seperti itu?
***

Kira-kira setelah seminggu mereka tinggal di sini, aku melihat mereka mulai mencari tempat untuk mencuci baju. Beberapa laki-laki sudah mandi dan mencuci di sungai. Sayangnya mereka mandi sampai lebih dari jam 17.00 WITA. Padahal di Iusmollo jam mandi di sungai yaitu jam 08.00–10.00 WITA di pagi hari dan jam 14.00–16.00 WITA di sore hari. Selain waktu-waktu itu amatlah tabu untuk bermain di sungai. Saat itu aku ingin menegur, tapi aku terlalu malu dan kurasa mereka tidak akan mengerti apapun yang kukatakan.

Aku suka menemani mereka saat akan mencuci baju ke sungai. Biasanya mereka membawa kresek berisi baju kotor dan sebungkus deterjen, tak lupa minuman dan makanan ringan. Mereka senang sekali menyanyi tidak jelas di jalan, maksudku mereka lebih mirip menggumam dengan nada naik turun.

Setelah menuruni jalanan yang penuh bebatuan dan rerumputan, tibalah mereka di tepi sungai. Biasanya mereka akan berebut memilih tempat yang paling tinggi. Lalu mulai mencuci (yang sebenarnya lebih mirip mencelupkan pakaian ke air sambil berharap kotoran akan pergi sendiri). Aku sering mengamati mereka dari tepi sungai, atau dari atas tebing. Aku tidak tahu bagaimana kehidupan mereka di sana, yang pasti baru sekali ini melihat manusia yang berbahagia sekali mencuci baju dengan air sungai, kukira mereka tidak tahu jika tempat yang mereka gunakan untuk mencuci terletak di bawah tempat warga biasa buang air. Tapi biarlah, aku tidak ingin merusak kebahagiaan mereka.

Suatu hari, saat sedang makan sore bersama di basecamp, aku mendengar Kurama sedang bercerita. Dia berkata kemarin baru saja mencuci di sungai. Bajunya baru saja kering dan ia angkat dari jemuran. Ia menceritakan ketika akan melipat celana kolornya, ada dua kecebong mati di sana. Semenjak itu aku melihat dia jarang sekali mencuci di sungai. Sampai sekarang aku masih sering berfikir, entah kejahatan macam apa yang dilakukan dua kecebong itu sehingga mendapat jatah kutukan dari langit semacam itu.                                            
***

Hari-hari terakhir sebelum kepulangan, mereka ini lebih giat berkunjung ke rumah-rumah warga. Aku sering mengikuti mereka dari belakang. Biasanya mereka akan mengobrol dengan tuan rumah, minum teh atau kopi atau tuak, makan sirih pinang, sambil disuguhkan jagung bunga. Melihat mereka dari luar, entah mengapa  membuatku senang. Ekspresi mereka tampak tulus dan bahagia, apalagi jika pulangnya dibawakan lemon manis, lemon cina dan papermust.

Selain itu, mereka juga gemar memesan kain tenun ke rumah warga, untuk oleh-oleh katanya. Di Iusmollo ini kain tenun mempunyai arti tersendiri. Kain tenun menjadi semacam ciri khas dari daerah kami. Setiap keluarga pasti mempunyai sarung dan selimut tenun yang jika dijual harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Pula, tidak sembarangan orang boleh dan bisa menenun. Di sini tabu bagi laki-laki untuk menenun. Sebaliknya, mama-mama di setiap rumah pasti bisa menenun. Adapun anak gadis dikatakan sudah siap menikah jika sudah mahir dalam menenun. Di Iusmollo, acara adat pernikahan haruslah memakai kain tenun dan dibuat sendiri oleh mempelai perempuan.
            
Ada bebarapa jenis kain tenun di Timor. Yang rumit jika motif menggunakan teknik ikat, untuk pengerjaan selendang kecil saja bisa memakan waktu seminggu dan rata-rata dihargai seratus ribu rupiah per buah tergantung tingkat kerumitan. Untuk selimut pengerjaannya bisa memakan waktu berbulan-bulan. Untuk acara-acara penting, khususnya acara adat, warga Timor memang biasa memakai kain tenun. Pada upacara pelepasan rombongan mereka kemarin, setiap anak diberikan satu selendang tenun oleh mama-mama. Aku mengamati mereka dari luar rumah. Aku tak tahu mereka menangis sedih karena berpisah atau menangis bahagia karena akan kembali ke kehidupan kota mereka. Tapi yang pasti, aku merasakan dari raut muka mereka, bahwa perpisahan itu membuat rasa tidak menyenangkan di rongga dada dan sekitar perut. Aku tidak menyukainya.
***
            
Masih banyak yang ingin aku sampaikan. Kamu pun tentunya tahu, yang paling menyebalkan dari kebersamaan adalah tak peduli seberapa erat kalian bersua, seberapa keras kalian berusaha membuatnya menyenangkan, pasti ia akan bermuara pada satu hal: Perpisahan. Hari itu Iusmollo sedikit mendung. Dari Bapak-Mama, anak-anak hingga Nenek dan Bai pagi itu datang ke rumahku. Diiringi lagu Timor mereka semua bersalaman dan berpelukan, hingga menangis tersedu-sedu. Kelak, jika negeri kalian sudah sedemikian membosankan dan membuat kalian muak menjalani hidup, datang lagi menebus rindu ke Iusmollo. Au umnau is ko! (Aku sayang padamu!).

Dari aku. Yang bertelinga dua, berkaki empat dan berbulu. Meows si anjing mama.
                                                                                               
***
 Cerpen ini disarikan dari laporan telik sandi agen rahasia Konoha dengan kode nama: Kurama.