Aku sudah lama ingin
naik pesawat terbang. Sepasang sayap putih besar yang membentang luas dengan
mesin besar di tiap sisi. Belum lagi deru yang dihasilkan ketika
lepas maupun tinggal landas di landasan bandara yang terletak sekitar satu
kilometer dari rumahku. Hampir setiap sore aku dan teman-temanku bersepeda di
sekeliling bandara. Dari jalanan kami dapat melihat pesawat lalu-lalang di
kejauhan. Dalam cuaca yang buruk, pesawat yang datang-pergi cenderung lebih
sedikit.
Di depan pintu masuk
bandara terdapat monumen perang yang sering digunakan banyak orang untuk
berfoto. Monumen berwujud pesawat itu tampak berkilauan jika terkena cahaya
matahari. Pun jika hujan, tampak gagah ditimpa air dan badai. Kami sering
bermain di tanah berumput sekitar monumen itu ketika hujan turun.
Waktu kecil aku sering
sakit-sakitan. Orang tuaku tidak membolehkanku hujan-hujanan. Kena hujan
sedikit saja aku segera terkena demam dan batuk. Katanya, jantung dan daya
tahan tubuhku lemah. Akan tetapi aku sering menyelinap dari rumahku. Bukan
hujan sebenarnya hal yang paling aku sukai, melainkan pesawat dengan lampu
kelap-kelip yang dinyalakan ketika hujan turun. Gagah sekali serupa burung
besar yang menyala.
Dari kecil hingga lulus
kuliah, aku selalu bersekolah di dalam satu kota. Bahkan ketika KKN, aku tidak
boleh ke tempat yang letaknya harus ditempuh dengan pesawat. Ibuku beralasan
dengan pertimbangan kondisi tubuhku yang mudah sakit. Kesal sekali rasanya.
Tapi apa boleh buat. Aku bersabar menunggu momen yang tepat.
Sekarang, aku sudah
duduk di kabin pesawat, mewah pula tempatnya. Seorang taipan dari China
mengundangku mengisi ceramah tentang perekonomian di salah satu perusahaanya.
Aku sedikit geli karena mengingat, ceramah tentang penelitian itu sebenarnya
hanya bual-bualanku semata. Aku hanya menambahkan kata-kata mutiara dan istilah
perekonomiaan yang sulit hanya agar dikagumi para pendengarku yang kebanyakan
berduit banyak tapi berkepala kopong. Ternyata mereka suka dan seringkali terharu.
Berkali-kali aku harus menahan tawa melihat ekspresi mereka yang sedemikian merangsang
untuk ditabok.
Tapi peduli setan, penting honor yang kuterima selalu lebih besar dari gajiku di
perusahaan tempatku bekerja.
Lebih lagi, kini aku
dapat naik pesawat. Dalam kabin mewah dan pelayanan dari pramugari yang
senantiasa tersenyum. Kursinya empuk, tidak pula ada bau-bauan aneh. Disediakan
majalah serta layar berukuran sedang yang dapat digunakan untuk menonton film
maupun memutar musik lewat headphone.
Aku kegirangan ketika
menyaksikan dari jendela pesawat yang kunaiki terlihat pesawat ini mulai naik
meninggalkan landasan. Impianku sejak kecil akhirnya terwujud. Aku ingin
tertawa keras-keras dan melompat sekuatnya. Ini adalah hal paling menyenangkan
dalam hidup yang kuidam-idamkan sedari kecil. Aku bahagia, sangat bahagia
hingga membuat dadaku sedikit sesak.
Pramugari membangunkanku,
ternyata selama perjalanan aku tertidur. Aku sedikit menyesal melewatkan
pendaratan pesawat ini. Mataku sedikit berkunang-kunang. Tapi entah mengapa,
ruangan kabin menjadi putih dan berkilau dan bertambah luas.
Aku bertanya pada
pramugari yang sepertinya tidak menunjukkan gelagat ingin membukakan pintu.
Padahal dari luar sudah kulihat bandara (yang anehnya) sedemikian bersih dan
banyak orang berlalu-lalang.
“Bukankah perjalanan sudah
selesai dan saya sudah sampai di Beijing?,” tanyaku.
“Perjalanan sudah
selesai, Pak. Kita tidak pernah sampai,” katanya sambil tersenyum.