17/12/17

Telik Sandi

Rencana pemberontakan ini disandikan dalam 66 kalimat pertama 3 bab awal dari 11 buku yang tidak pernah ditulis. Penyusunnya terdiri dari seorang pertapa yang menyaru sebagai penjaga diskotik khusus penyuka sesama jenis dan seorang mantan ahli strategi pada perang bertahun lalu yang kini hanya dikenal sebagai tukang tambal ban merangkap penebar paku.

Bersama, mereka merekrut 8 orang dari 4 penjuru mata angin kemudian bersua di sebuah kedai kopi yang penjualnya lebih sering bermain zuma daripada melayani pembeli.

Seorang anak muda berprofesi bajing loncat yang pertama kali datang. Disusul seorang mantan jawara berumur 56 tahun; seorang bekas pawang lumba-lumba; seorang penabuh kendang dari orkes dangdut tersohor; seorang anak muda yang dari raut mukanya terlihat sedang memasuki masa pencarian pengakuan; dua sisanya datang bersamaan yaitu penceramah abal-abal dan penjual balsem penumbuh bulu dada.

Kami mengangguk antusias mendapati pembagian tugas dalam rencana pemberontakan ini. Masing-masing telah bersiap melakukan perannya. Kesepuluh orang ini kemudian berpencar ke delapan mata angin setelah sebelumnya membunuh si penjual agar rencana tersebut tidak bocor.

Satu orang yang berprofesi sebagai ahli sandi ditugaskan menyampaikan pesan secara tersamar lewat medium apapun dengan lugas dan jelas tanpa menyebutkan nama, profesi, umur,  lokasi, ataupun rincian apapun kecuali rujukan-rujukan tertentu demi menjaga keberlangsungan rencana tersebut.
Agar supaya ketika pesan ini ditemukan manusia, mereka tidak akan menemukan apapun kecuali bual-bualan tak berarti.

12/12/17

Pesawat Terbang



Aku sudah lama ingin naik pesawat terbang. Sepasang sayap putih besar yang membentang luas dengan mesin besar di tiap sisi. Belum lagi deru yang dihasilkan ketika lepas maupun tinggal landas di landasan bandara yang terletak sekitar satu kilometer dari rumahku. Hampir setiap sore aku dan teman-temanku bersepeda di sekeliling bandara. Dari jalanan kami dapat melihat pesawat lalu-lalang di kejauhan. Dalam cuaca yang buruk, pesawat yang datang-pergi cenderung lebih sedikit.

Di depan pintu masuk bandara terdapat monumen perang yang sering digunakan banyak orang untuk berfoto. Monumen berwujud pesawat itu tampak berkilauan jika terkena cahaya matahari. Pun jika hujan, tampak gagah ditimpa air dan badai. Kami sering bermain di tanah berumput sekitar monumen itu ketika hujan turun. 

Waktu kecil aku sering sakit-sakitan. Orang tuaku tidak membolehkanku hujan-hujanan. Kena hujan sedikit saja aku segera terkena demam dan batuk. Katanya, jantung dan daya tahan tubuhku lemah. Akan tetapi aku sering menyelinap dari rumahku. Bukan hujan sebenarnya hal yang paling aku sukai, melainkan pesawat dengan lampu kelap-kelip yang dinyalakan ketika hujan turun. Gagah sekali serupa burung besar yang menyala.

Dari kecil hingga lulus kuliah, aku selalu bersekolah di dalam satu kota. Bahkan ketika KKN, aku tidak boleh ke tempat yang letaknya harus ditempuh dengan pesawat. Ibuku beralasan dengan pertimbangan kondisi tubuhku yang mudah sakit. Kesal sekali rasanya. Tapi apa boleh buat. Aku bersabar menunggu momen yang tepat.

Sekarang, aku sudah duduk di kabin pesawat, mewah pula tempatnya. Seorang taipan dari China mengundangku mengisi ceramah tentang perekonomian di salah satu perusahaanya. Aku sedikit geli karena mengingat, ceramah tentang penelitian itu sebenarnya hanya bual-bualanku semata. Aku hanya menambahkan kata-kata mutiara dan istilah perekonomiaan yang sulit hanya agar dikagumi para pendengarku yang kebanyakan berduit banyak tapi berkepala kopong. Ternyata mereka suka dan seringkali terharu. Berkali-kali aku harus menahan tawa melihat ekspresi mereka yang sedemikian merangsang untuk ditabok.

Tapi peduli setan, penting honor yang kuterima selalu lebih besar dari gajiku di perusahaan tempatku bekerja.

Lebih lagi, kini aku dapat naik pesawat. Dalam kabin mewah dan pelayanan dari pramugari yang senantiasa tersenyum. Kursinya empuk, tidak pula ada bau-bauan aneh. Disediakan majalah serta layar berukuran sedang yang dapat digunakan untuk menonton film maupun memutar musik lewat headphone.

Aku kegirangan ketika menyaksikan dari jendela pesawat yang kunaiki terlihat pesawat ini mulai naik meninggalkan landasan. Impianku sejak kecil akhirnya terwujud. Aku ingin tertawa keras-keras dan melompat sekuatnya. Ini adalah hal paling menyenangkan dalam hidup yang kuidam-idamkan sedari kecil. Aku bahagia, sangat bahagia hingga membuat dadaku sedikit sesak.

Pramugari membangunkanku, ternyata selama perjalanan aku tertidur. Aku sedikit menyesal melewatkan pendaratan pesawat ini. Mataku sedikit berkunang-kunang. Tapi entah mengapa, ruangan kabin menjadi putih dan berkilau dan bertambah luas.
Aku bertanya pada pramugari yang sepertinya tidak menunjukkan gelagat ingin membukakan pintu. Padahal dari luar sudah kulihat bandara (yang anehnya) sedemikian bersih dan banyak orang berlalu-lalang.

“Bukankah perjalanan sudah selesai dan saya sudah sampai di Beijing?,” tanyaku.

“Perjalanan sudah selesai, Pak. Kita tidak pernah sampai,” katanya sambil tersenyum.