05/12/18

Meraba Kolong Langit

Temanku Rocky, kujumpai dalam kondisi yang jauh berbeda dibandingkan ketika SMA dulu. Wajahnya lebih tegas, meskipun ekspresi kriminalnya masih ada, tapi lebih menunjukkan raut muka menyebalkan tipikal orang yang hobi menasehati.

"Lama tidak bertemu, apa kabar? Dan mengapa kau ada di sini? Kenapa kau minum itu...? Astaga... Apakah kau tidak tahu...?"

Kalimat selanjutnya tak kuingat lagi, waktu itu raut mukanya seperti kakak senior berlagak wibawa di hadapan adik kelasnya. Jika ia menceramahiku seputar agama, aku akan segera tahu ia beromong-kosong. Rocky dulu memang kawan yang baik, tapi melanggar perintah agama (jika ia memang memeluk salah satu agama resmi di negara ini) bukan jadi keraguan baginya.

Pernah dulu sepulang sekolah ia menawariku minuman dalam sebuah botol yang dibungkus kresek hitam.

"Cobalah kawan, niscaya semua masalahmu, tidak akan hilang, tapi kamu akan lebih kuat menjalaninya, tidak perlu mudah marah seperti itu" ucapnya seperti para penjual mimpi kosong di televisi.

Aku menolak, bukan karena alasan religius atau apa, semata-mata aku tahu kebiasaan dan rasa ingin tahunya pada racikan berbagai macam cairan. Rocky bukan siswa yang pintar, tapi punya rasa ingin tahu dan kreativitas yang sama tinggi dengan kebodohannya. Ketika manusia normal berakal sehat lebih bermoral menggunakan mencit, kelinci, atau hewan lucu lainnya sebagai bahan percobaan, Rocky justru menggunakan tubuhnya sebagai bahan percobaan minuman racikannya. Kadang berhasil, namun lebih sering ia muntah-muntah dan menyusahkan orang lain.

Pernah ia saking mabuknya, mengira kolam ikan di halaman sekolah adalah bak mandi, ia pun mandi di sana dan menganggap ikan nila berwarna kuning dan kemerahan adalah sabun. Guru BP yang melihatnya sampai menangis, Pak Marjan, si plokis moral yang biasanya hobi sekali beromong bijak sampai tak tahu lagi harus berbuat apa. Para siswa menonton dengan antusias, menunggu aksi teatrikal lain yang bakalan terjadi.

Aku tahu Pak Marjan membayangkan sekian cara penyiksaan untuk Rocky, tapi waktu itu ramai sekali, dan risiko bakalan ada yang merekam aksinya ketika  -misalnya- merajam Rocky, jadi ia mengurungkan niat. Lagipula, buat apa mengambil risiko untuk memperbaiki moral seorang yang kemungkinan besar bakalan berakhir di penjara dalam waktu selambatnya 2-3 tahun lagi?

Boleh dibilang beruntung atau tidak, Rocky yang kala itu mengobok kolam dengan antusias, justru terpeleset dan tercemplung dalam kolam. Tidak dalam memang, tapi karena selera estetika tukang kebun yang memberi ikan di kolam itu kelewat buruk, kolam itu diberi beberapa ikan lele berwarna kusam.

Geram karena diganggu, para ikan lele dengan beringas menyabet Rocky dengan patil, terutama pada bagian tubuh yang lunak. Rocky seketika itu melolong dan kemungkinan besar langsung tersadar dari mabuknya. Seisi sekolah tertawa, tempik sorak membahana, para guru memandang dengan takjub, sedangkan kepala sekolah menunjukkan raut muka menyesal ditempatkan di sekolah kami.

Meski pandir sejak dalam pikiran dan kerap melakukan kebodohan kolosal, Rocky adalah kawan yang baik, pula terkenal, meski bukan karena alasan yang patut dibanggakan. Resep minumannya menjadi warisan turun-temurun di SMA kami. Bahkan terakhir kudengar dari adik tingkatku yang berjarak 15 tahun, belum ada yang menandingi racikan "Meraba Kolong Langit" karya Rocky.

"Setidaknya aku meninggalkan kenangan, bukan kayak kamu yg luntang-luntung sekadar lewat, hahahaha!" ucap Rocky dengan penuh kebanggaan.

Aku memberikan raut muka kagum, buat apa pula mendebat kebanggaannya, toh pecundang seperti dia layak dapat pujian, sekalipun dari dirinya sendiri. Buat apa jadi terkenal jika hanya di antara pecundang, para bandit semenjana yang menganggap keliaran adalah penanda hidup yang keren.

Aku sering bersama mereka, meskipun bukan bagian dari mereka. Kehidupanku tertata, aku tak punya cukup masalah untuk kulupakan dengan racikan berbagai macam cairan. Lagipula untuk apa iri dengan mereka yang tertawa-tawa bebas padahal sedang menyia-nyiakan masa muda? Tapi entah mengapa, aku kadang iri dengan mereka. Dengan kegembiraan meluap-luap dan hal-hal tak kupahami yang mereka tertawakan.

"Sampai jumpa kawan, kalau kau butuh bantuan apapun, jangan lupa telepon aku" ucapnya ketika berangkat ke pelabuhan.

Selepas SMA, dia akan bekerja di sana. Aku memaklumi pilihan itu, kecerdasannya terlampau rendah untuk diterima kuliah di manapun. Bahkan jika ia melamar kampus abal-abal, besar kemungkinan ia bakalan tertipu terlebih dahulu sebelum menyadari ulahnya sia-sia dan menyadari tidak ada gunanya ijazah palsu bagi pengangguran. Isi kepalanya lebih cocok digunakan bekerja kasar, bakatnya meracik ramuan mungkin pula akan berguna sebagai cara mendapatkan uang tanpa menjadi pelaku kriminal.

Maka ketika malam itu Rocky menyeruak masuk membawa pentungan bersama kawan-kawannya, menggunakan baju yang kontras sekali dengan suasana temaram dan musik disko, aku terkaget bahwa si brengsek tukang onar itu adalah Rocky, temanku sendiri.

"Kabarku baik, dan seperti ujarmu dulu, aku minum agar lebih kuat menghadapi masalah" kataku.

Tiba-tiba aku teringat hari-hari menyenangkan itu. Hari ketika Rocky adalah kawan yang menyenangkan bagi banyak orang. Terutama bagiku yang merasa, mungkin Rocky adalah satu-satunya kawanku dahulu.

Terakhir kuingat, dengan tekad mantab, malam itu untuk pertama kalinya sepanjang pertemanan kami, aku berbagi minuman dengan Rocky, sebagai kawan lama.

Kali ini masalahku adalah Rocky sendiri. Kali ini dengan tekad untuk memastikan dia benar-benar sampai di langit tanpa perlu meraba-raba kolongnya. Kali ini dengan cairan tanpa racikan apapun kecuali botol yang kusarangkan sekaligus ke batok kepalanya.

04/12/18

Sapiens, Hari Ini dan Masa Lalu Umat Manusia




“Stories are tools. Human think in stories. We are storytelling animal. We don’t think in facts, we don’t think in statistics, we don’t think in equations, we think in stories.
So, if u want to organize people together, if you want to have effective society, you need to tell people a story that they can grasp easily and identify with. The story doesn’t need to be true. It needs to be effective.
Throughout history you have this big debate, that all scholars in all civilizations had to confront: whether your aim is the truth or whether your aim is social cohesion and social harmony. Almost all the powerfull, successful scholarly establishments reached the conclusion that social harmony is much more important than truth. The real problem begin when people forget. When people lose the ability to tell the difference between the stories that we invent as tools and the reality”-NYTimes at #TimesTalk


Saya melihat sampul buku Sapiens berlintasan di lini masa instagram, tapi baru membelinya setelah beberapa buku cerita dalam daftar antrian. Pasalnya, saya kadang ragu membaca buku non-fiksi. Dulu, ketika SMP, saya pernah membaca buku karya Harun Yahya. Saya kira bagus, baru di kemudian hari saya ketahui bahwa Harun Yahya adalah olok-olok besar bagi sains itu sendiri.

Noval Yuah Harari adalah seorang pengajar di Universitas Ibrani Yerusalem. Bukunya telah diterbitkan ke 20 bahasa yang berbeda. Lewat profil, apalagi kehidupan pribadinya, nyaris tidak mungkin mengharapkan kehadiran Harari di Indonesia. Jika menginjakkan kaki di sini, dia punya segala hal untuk jadi buruan unta khatulistiwa yang meskipun berotak kecil, tapi jumlahnya lumayan. Untungnya, Google dan Youtube memfasilitasi untuk menampilkan kuliah dari Harari, meskipun hanya beberapa.

Pada dasarnya buku ini membahas perkembangan manusia. Sapiens membahas manusia pada awal mula hingga hari ini. Sapiens pada awalnya merupakan kumpulan materi kuliah Harari di negara tempat Gunung Scopus berada yang dirangkum dalam buku berjudul Kitzur Toldot Ha’enoshut. Buku ini kemudian diterjemah dan diterbitkan pada tahun 2014 dengan judulnya seperti sekarang.

Harari membuka dengan menunjukkan sejarah awal manusia yang masih setara binatang lain. Manusia kemudian mengembangkan kesadarannya seiring perkembangan otaknya. Hal terbesar yang membedakan manusia, sekaligus membuat manusia jauh melampaui spesies lain adalah kemampuannya membentuk fiksi bersama.

Fiksi bersama ini memberikan manusia kemampuan untuk bekerja sama secara masif, sistematis, dan terstruktur. Hewan lain seperti simpanse, semut, dan lebah juga bisa bekerja sama, namun mereka tidak akan mampu melakukannya secakap manusia. Alasan itulah yang menjadikan manusia (Sapiens) menjadi makhluk unggulan penguasa dunia, sedangkan hewan lainnya menjadi santapan, tontonan, dan hal lain demi manfaat bagi Sapiens.

Harari menjelaskan dengan analogi yang ringan dan mudah diingat. Belum lagi anekdot dan lelucon yang dia selipkan di mana-mana. Kemudian, Harari memaparkan perkembangan umat manusia setelah melebihi hewan. Persatuan sangat penting untuk kemajuan manusia. Baik dicapai dengan membentuk Imperium, Agama, atau bahkan kedua-duanya.

Manusia dengan mudah memahami bahwa orang-orang primitif mengikat tatanan sosial dengan mempercayai hantu dan arwah, dan berkumpul setiap purnama untuk menari bersama di sekitar api unggun. Yang gagal kita pahami adalah bahwa lembaga-lembaga modern kita berfungsi dengan dasar yang tepat sama. Ambil contoh dunia korporasi bisnis. Pebisnis dan pengacara modern adalah, sebenaranya tukang sihir yang digdaya. Perbedaan mendasar antara mereka dan dukun suku adalah bahwa pengacara modern menuturkan kisah-kisah yang jauh lebih aneh


Ketika membahas budaya, saya tertarik pada paradigma kebudayaan tiap bangsa. Kerap kita jumpai bahwa kebudayaan tiap bangsa maju selalu digambarkan adiluhung. Seolah kepercayaan, nilai, dan norma di dalamnya dapat membuat bangsa itu mempertahankan kedigdayaannya.

Padahal tidak.

Kebudayaan memiliki nilai-nilai yang khas, namun pada praktiknya semua itu harus berubah dan menyesuaikan dengan perkembangan umat manusia. Tidak seperti hukum fisika yang konsisten –setidaknya di bumi-, setiap kebudayaan dipengaruhi kontradiksi baik internal maupun eksternal. Kebudayaan selalu berusaha mendamaikan kontradiksi-kontradiksi itu yang kemudian mendorong perubahan pada kepercayaan, nilai, dan norma di dalamnya sambil berusaha mempertahankan nilai fundamentalnya.

Proses sejarah dan penanda hagemoni Sapiens selanjutnya adalah Revolusi Sains. Manusia dapat memperoleh kemampuan signifikan di bidang medis, militer, dan teknologi. Revolusi ini dapat dicapai dengan penguatan di bidang Sains, Politik, dan Ekonomi.

Tatanan umat manusia diatur oleh politikus, tatanan yang maju menghasilkan kehidupan yang kondusif dan bergeraknya roda ekonomi, sumber daya ekonomi ini kemudian menggerakkan dana penelitian untuk kemajuan sains itu sendiri. Ketiganya berhubungan erat dalam meningkatkan derajat kehidupan umat manusia.

Di bidang ekonomi, Harari dengan ringan dan sederhana menggambarkan sistem ekonomi umat manusia. Perkembangan ekonomi ini mendorong manusia mencapai hal-hal yang bagi masyarakat zaman dahulu merupakan dongeng. Ada mobil, pesawat, gedung pencakar langit, komputer, gawai, dan banyak lagi. Diterangkan pula risiko besar dan keburukan perkembangan ini. Di mana peran industri dan raksasa kapitalis mengeruk kekayaan dunia dan menyisakan beberapa untuk banyak kelas menengah ke bawah.

Setelah memaparkan banyak hal tentang manusia, budaya, dan perkembangannya di dunia, di akhir buku Harari mengajak untuk berpikir ulang: “Apakah dengan ini manusia bahagia?” Mungkin hari ini umur manusia semakin tinggi, sanitasi membaik, wabah berkurang, pangan cukup (di beberapa negara), namun apakah manusia menjadi bahagia?

Setelah semua pencapaian menakjubkan, Sapiens tetap belum sepenuhnya yakin tujuan semua itu, tetap saja belum puas, dan ketidakpuasan itu membawa kerusakan pada makhluk hidup lain dan bumi tempat mereka hidup. Apakah ada yang lebih berbahaya daripada dewa-dewi yang tidak puas, tidak bertanggung jawab, dan tidak mengetahui apa yang diinginkan?

Hari ini, kebudayaan manusia yang teramat maju dan menjadikan manusia layaknya dewa-dewi, atau tepatnya diktator yang merasa memiliki kuasa di atas mahkluk hidup lain. Kesadaran itu membawa ingatan saya pada salah satu adegan di filem Transcende yang dibintangi Johny Deep

“Profesor, so you want to create a God? Your God?”

“Isn’t that what human has always done?”

Selamat membaca!