13/07/19

Sastra untuk Hidup Manusia di Dalamnya

Dinukil dari KBBI, sastra adalah bahasa yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari).

Bersumber pula dari KBBI, kata Kesusastraan berasal dari kata dasar 'susastra', yaitu karya sastra yang isi dan bentuknya sangat serius, berupa ungkapaan pengalaman jiwa manusia yang ditimba dari kehidupan kemudian direka dan sehingga mencapai syarat estetika yang tinggi.
---------------------

Tak perlu kelewat terang menyoroti pembicaraan panjang antara 'seni untuk seni' dengan 'seni untuk rakyat' atau 'lekra' dengan 'manikebu'. Di hari-hari sekarang, pembicaraan itu bersalin rupa jadi baku-cakap antara 'karya pop' dengan 'karya sastra'. Bukan hal yang buruk, pula bukan hal yang tabu untuk dibicarakan. 

Pengotakan ini terang bermula dari toko buku. Ada pembedaan antara buku-buku remaja, populer, dan sastra. Di satu sisi, tercipta ruang lebih mendalam untuk pemilahan dan penetapan yang memudahkan pembaca untuk memilih buku yang sesuai seleranya. Namun di sisi lain, justru membentuk jurang pemisahan karya sastra dan karya pop.

Pemisahan itu tidak jadi masalah semisal dua hal tersebut berada di tingkatan yang sama. Pada kenyataannya, beberapa (pembaca) karya sastra seolah menempatkan posisinya lebih tinggi dan jumawa daripada pembaca karya pop. Boleh jadi, hal ini dipicu rasa eksklusivitas di dalamnya yang dalam situasi ini seakan menempatkan suatu karya seni pada posisi tidak mampu dijangkau oleh rasionalitas mayoritas orang. Selain terjadi pada kancah sastra tulisan, fenomena ini jamak terjadi pada musik indie ataupun filem keluaran studio Ghibli.

Karl Marx (Gaarder 2006) menyebut hubungan material, ekonomi, dan sosial sebagai realitas masyarakat. Sedangkan cara berpikir, haluan politik, hukum, agama, moral, filsafat, ilmu pengetahuan dan seni disebut sebagai suprastruktur. Kaitannya adalah, segala 'suprastruktur' dipengaruhi oleh realitas yang dihadapi masyarakat saban hari. Sejalan dengan jargon 'seni untuk rakyat'.

Percakapan panjang untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat antara selera seni dan keterkaitan seseorang dengan realitas tak pernah kentara ujungnya. Terdapat berbagai faktor yang boleh jadi menjadi penting: tingkat pendidikan, realitas sosio-kultural, keluarga, serta humanisme universal yang menjadi cetak biru manusia satu dan lainnya.

Selera seni pada akhirnya mengarahkan gaya dan pilihan pagi pembaca. Pengotakan dan perbedaan derajat bacaan itu seharusnya tak menjadikan segregasi kelas antar pembaca. Baiknya hal itu justru memperkaya selera dan gaya, ragam dan aneka bacaan yang membentuk (atau dibentuk) masyarakat itu sendiri.

Makin panjang, pembicaraan tentang pengnotakan sastra bisa dibawa ke pendefinisian karya sastra Indonesia itu sendiri. Apakah karya-karya Pram, HB Jassin, Hamka, dan lainnya layak disebut lebih agung dan jatmika lalu menihilkan karya Motinggo Busye, Freddy S, ataupun Enny Arrow? Padahal di realitas sosial, ketika pembacaan atas karya Pram atau 'sastrawan' lainnya didominasi kaum terpelajar dan kelas menengah ke atas, karya Motinggo, Freddy S, dan Enny Arrow bisa menyusup, menyelinap, memotret, dan dinikmati di kalangan masyarakat menengah ke bawah.

Dibawa ke era sekarang, segregasi kelas tidak lagi begitu kentara karena perdebatan kini didominasi kelas menengah dan menengah atas yang sama-sama menikmati berkah pemerataan pendidikan, meskipun tak terlalu merata pula. Simak apa yang jadi stereotype pada pengagum karya-karya penulis tertentu. Kerap kali mereka dikaitkan dengan kopi, senja, dan puisi. Yang terakhir sebenarnya tidak begitu tega saya sertakan. Sekumpulan ceracau yang menggunakan kata-kata tinggi tapi merasa tak punya kewajiban menyembunyikan makna-makna tertentu dengan serius sepertinya kurang layak disebut puisi. Sedangkan untuk karya penulis yang lain dan berbeda gaya maupun pasar tujuan, diidentikan sebagai penikmat karya sastra tingkat tinggi. Ringkasnya: inilah sastra yang sebenarnya. Para penulis sepertinya tidak ambil pusing dalam hal ini. Justru kalangan pembacalah yang berperan besar membentuk segregasi bacaan.

Padahal seperti orang tidak melihat persamaan Lekra dan Manikebu, pula apa-apa perdebatan dan perbedaan keduanya. Manikebu itu bukan organisasi, melainkan pernyataan politik. Pengelompokan sastrawan yang dimasukkan ke dalam angkatan ’66 adalah pengelompokan politik. Bukan genre, bukan juga estetika. Karya sastra dapat dipengaruhi pun mempengaruhi realitas sosial. Humanisme universal pun seharusnya memperhatikan bahwa manusia yang utuh itu justru karena perbaduan baik-buruk, sedih-bahagia, dan serba-neka yang menjadi keseluruhan hidup manusia di dunia.
Dibawa ke era sekarang, sepertinya pengotakan antara karya pop dan karya sastra terjadi bukan karena hal-hal rumit terkait estetika, bobot suatu karya, keberpengaruhan terhadap kehidupan, atau hal-hal rumit lainnya. Mungkin, hal ini hanyalah sekadar eksklusivitas semu belaka.

14/02/19

Amigo


ketika menulis catatan ini, saya teringat suatu siang ketika kami berada di pantai. waktu itu saya duduk malas di bawah pohon cemara, sedangkan dia begitu antusias melihat ombak. waktu itu saya berharap waktu berhenti dan soal-soal gawat dunia terlupakan. waktu itu saya berharap hidup hanya berkisar pada hal-hal sederhana: riuh-rendah angin, gerak daun cemara, dan bau asin garam.

segalanya terasa damai dan saya tidak menginginkan apa-apa lagi.

saya tak tahu apakah kawan terbaik saya ini masih merawat gagasan untuk mengulangi saat itu lagi. berbual-bual soal banyak rencana lalu merayakan satu-dua yang terlaksana. mungkin saja waktu, uang, dan tenaga memang sulit diajak bernegosiasi. mungkin saja bertambah dewasa berarti bertambah pula hal-hal yang sebaiknya kami terima dengan penuh kompromi. mungkin saja akan semakin banyak rencana kami yang berakhir jadi sekadar kemungkinan.

tapi satu hal yang pasti, ketika menuliskan catatan ini, saya berharap-harap doa baik untuk dia. untuk umurnya yang bertambah. untuk segala kegagalan yang tak harus melulu disesali. untuk segala hal yang tak bisa diduga, baik suka maupun duka. untuk segala hidup yang dia jalani dengan gembira.