ketika menulis catatan ini, saya teringat suatu siang ketika kami berada di pantai. waktu itu saya duduk malas di bawah pohon cemara, sedangkan dia begitu antusias melihat ombak. waktu itu saya berharap waktu berhenti dan soal-soal gawat dunia terlupakan. waktu itu saya berharap hidup hanya berkisar pada hal-hal sederhana: riuh-rendah angin, gerak daun cemara, dan bau asin garam.
segalanya terasa damai dan saya tidak menginginkan apa-apa lagi.
saya tak tahu apakah kawan terbaik saya ini masih merawat gagasan untuk mengulangi saat itu lagi. berbual-bual soal banyak rencana lalu merayakan satu-dua yang terlaksana. mungkin saja waktu, uang, dan tenaga memang sulit diajak bernegosiasi. mungkin saja bertambah dewasa berarti bertambah pula hal-hal yang sebaiknya kami terima dengan penuh kompromi. mungkin saja akan semakin banyak rencana kami yang berakhir jadi sekadar kemungkinan.
tapi satu hal yang pasti, ketika menuliskan catatan ini, saya berharap-harap doa baik untuk dia. untuk umurnya yang bertambah. untuk segala kegagalan yang tak harus melulu disesali. untuk segala hal yang tak bisa diduga, baik suka maupun duka. untuk segala hidup yang dia jalani dengan gembira.
