Saya pertama kali melihat Cak Nun secara langsung
di sebuah kampus di daerah Condongcatur, Yogyakarta. Saya melihatnya dari kejauhan.
Badannya tegap, rambutnya sebahu dan tebal, berbaju dan celana hitam dengan
kopiah yang hitam juga. Saya menyimpan keinginan untuk melihatnya Cak Nun dari
dekat, mendengarkan ceramahnya secara langsung ,dan malam itu harapan saya
terkabul. Selama ini saya hanya menyimak ceramahnya di media sosial maupun
esai-esai yang ditulisnya dalam berbagai buku. Boleh jadi ini adalah keinginan
yang menggelikan, tapi saya tidak peduli. Tidak perlu ditanyakan lagi kualitas
esai yang ditulis Cak Nun. Sila kamu baca sendiri tulisan-tulisannya, kalau
seleramu tak buruk-buruk amat, niscaya kamu akan dapat menilai bahwasanya
esai-esai seperti itu hanya dapat ditulis orang dengan kemampuan tinggi.
Acara Cak Nun dikemas dalam berbagai nama di beragam
kota. Di, Mocopat Syafaat ada di Yogyakarta, di Jakarta ada Kenduri Cinta, Gambang
Syafaat di Semarang, Padhang Bulan di Jombang, Bangbang Wetan di Surabaya,
Paparandang Ate Mandar di Makassar, Maiyah Baradah di Sidoarjo, Obor Ilahi di
Malang. Acara-acara ini kerap kali dihadiri orang-orang yang merindukan Cak
Nun, yang jumlah orangnya di setiap kota bisa mencapai ribuan. Mereka kebanyakan
orang-orang kecil. Buruh pabrik, petani, bandot, pedagang angkringan, pedagang
tahu dan arem-arem, gentho, mahasiswa, penjual kopi, tukang becak, para preman,
pedagang sendal dan kopiah, dan sebagainya. Penampilan para hadirin juga dari
berbagai belantara dunia. Ada yang gondrong maupun cepak, pakaian terusan putih
bersih, celana jeans bolong, sarungan, dan sebagainya.
Hadir di pengajian Cak Nun acapkali adalah sebuah
bentuk kedaulatan. Sebuah pelarian dan tempat mengadu dari dunia yang
seringkali sudah kepalang brengsek. Cak Nun dengan senang hati menempatkan
dirinya sebagai tempat sampah. Tempat orang membuang keluhan. Tempat orang-orang
yang dipariakan nasib untuk mengadu kemarahan, meletakkan kesedihan, dan mengais
harapan. Banyak juga dari mereka yang datang untuk mencari barokah dan syafaat
Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Hal-hal
berlandaskan cinta itulah yang membuat mereka rela datang dari jauh, bertahan
hingga pagi maupun ketika hujan, mendongak dari kejauhan panggung, melantunkan
barzanji, sholawat, maupun lagu-lagu dari Kiai Kanjeng.
Salah satu maiyahan paling membekas yang
pernah saya ingat adalah saat di gang Dolly. Seperti biasa, acara dimulai
dengan pembacaan barzanji, shalawat, dan lagu-lagu dari Kiai Kanjeng. Cak Nun selalu
memulai pengajian dengan berusaha menghadirkan nur Kanjeng Nabi Muhammad SAW
dengan kelembutan hati. Selanjutnya, Cak Nun lantas mempersilakan beberapa penghuni
Dolly untuk berbicara, nguda rasa, bercerita tentang cita-cita mereka,
dan malam itu keluarlah banyak curahan hati dari mereka. Cak Nun terus-menerus
dengan semangat membicarakan karunia maaf dari Gusti Allah, bahwasanya maaf
Gusti Allah akan selalu diberikan pada mereka yang mau berusaha untuk menempuh
jalannya, kendati dengan tersusah-payah.
“Semua orang punya salah, semua orang punya dosa,
balapannya itu balapan khusnul khotimah. Balapan supaya jadi bagus lagi, kalau
jatuh ya bangkit lagi, ngono yo ?
Malam itu Cak Nun tampak lebih emosional dari
biasanya. Ia marah, marah sekali, marah pada kebiadaban orang-orang yang tega
merusak kehidupan orang lain oleh sebab kerakusan dan ketidakpecusan dalam
memimpin Indonesia. Cak Nun berusaha membesarkan hati, bahkan beliau tampak
menahan isak dengan amat sangat ketika melantunkan doa-doa sembari terus memberikan
semangat bahwa maaf dari Allah SWT akan selalu ada, terus ada bagi mereka yang mau.
Di penghujung acara saya hanya melihat dari
kejauhan, meneguk kopi hitam, dan menghabiskan tahu yang dijual pedagang ketika
maiyahan berlangsung. Dari jauh saya melihat para jamaah bukan hanya menciumi
tangan Cak Nun, tapi memeluk, merubuhkan diri ke badannya. Seolah sebagai
sahabat yang sekian ratus purnama tidak berjumpa, seolah bahu sandaran yang
kehadirannya dirindukan dan tak hendak dilepaskan, seolah kekasih yang mestinya
tidak pergi. Seolah begawan yang mau menerima keluh kesah mereka ketika sekian
banyak orang yang mendaku suci memandang mereka sebagai paria.
Emha Ainun Nadjib, seorang budayawan, penyair,
esais, penceramah, kiai, maupun sahabat. Beliau mengajak untuk menjadi manusia yang
menghidupi kehidupan, merenunginya, menghayati, menangisi, menertawakannya, dan
menjalaninya dengan optimis. Dan mungkin yang paling utama, Cak Nun adalah
tempat sampah, tempat segala kekesalan dilimpahkan, tempat menampung kemarahan,
tempat di mana para mbambung merasa
ditinggikan derajatnya setara manusia lain. Terima kasih Cak. Terima kasih
untuk semua orang baik di muka bumi ini. Terima kasih telah ikut serta
mengenalkan Gusti Allah sebagai Maha Pengasih dan Penyayang. Terima kasih telah
memupuk rindu menggebu pada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Terima kasih telah
memberikan kami sedapat-dapatnya alasan untuk datang demi mencumbu rindu pada
Gusti Allah SWT dan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Al Fatihah…
