01/04/17

Alasan-alasan untuk Datang


Saya pertama kali melihat Cak Nun secara langsung di sebuah kampus di daerah Condongcatur, Yogyakarta. Saya melihatnya dari kejauhan. Badannya tegap, rambutnya sebahu dan tebal, berbaju dan celana hitam dengan kopiah yang hitam juga. Saya menyimpan keinginan untuk melihatnya Cak Nun dari dekat, mendengarkan ceramahnya secara langsung ,dan malam itu harapan saya terkabul. Selama ini saya hanya menyimak ceramahnya di media sosial maupun esai-esai yang ditulisnya dalam berbagai buku. Boleh jadi ini adalah keinginan yang menggelikan, tapi saya tidak peduli. Tidak perlu ditanyakan lagi kualitas esai yang ditulis Cak Nun. Sila kamu baca sendiri tulisan-tulisannya, kalau seleramu tak buruk-buruk amat, niscaya kamu akan dapat menilai bahwasanya esai-esai seperti itu hanya dapat ditulis orang dengan kemampuan tinggi. 

Acara Cak Nun dikemas dalam berbagai nama di beragam kota. Di, Mocopat Syafaat ada di Yogyakarta, di Jakarta ada Kenduri Cinta, Gambang Syafaat di Semarang, Padhang Bulan di Jombang, Bangbang Wetan di Surabaya, Paparandang Ate Mandar di Makassar, Maiyah Baradah di Sidoarjo, Obor Ilahi di Malang. Acara-acara ini kerap kali dihadiri orang-orang yang merindukan Cak Nun, yang jumlah orangnya di setiap kota bisa mencapai ribuan. Mereka kebanyakan orang-orang kecil. Buruh pabrik, petani, bandot, pedagang angkringan, pedagang tahu dan arem-arem, gentho, mahasiswa, penjual kopi, tukang becak, para preman, pedagang sendal dan kopiah, dan sebagainya. Penampilan para hadirin juga dari berbagai belantara dunia. Ada yang gondrong maupun cepak, pakaian terusan putih bersih, celana jeans bolong, sarungan, dan sebagainya. 

Hadir di pengajian Cak Nun acapkali adalah sebuah bentuk kedaulatan. Sebuah pelarian dan tempat mengadu dari dunia yang seringkali sudah kepalang brengsek. Cak Nun dengan senang hati menempatkan dirinya sebagai tempat sampah. Tempat orang membuang keluhan. Tempat orang-orang yang dipariakan nasib untuk mengadu kemarahan, meletakkan kesedihan, dan mengais harapan. Banyak juga dari mereka yang datang untuk mencari barokah dan syafaat Kanjeng Nabi Muhammad SAW.  Hal-hal berlandaskan cinta itulah yang membuat mereka rela datang dari jauh, bertahan hingga pagi maupun ketika hujan, mendongak dari kejauhan panggung, melantunkan barzanji, sholawat, maupun lagu-lagu dari Kiai Kanjeng. 

Salah satu maiyahan paling membekas yang pernah saya ingat adalah saat di gang Dolly. Seperti biasa, acara dimulai dengan pembacaan barzanji, shalawat, dan lagu-lagu dari Kiai Kanjeng. Cak Nun selalu memulai pengajian dengan berusaha menghadirkan nur Kanjeng Nabi Muhammad SAW dengan kelembutan hati. Selanjutnya, Cak Nun lantas mempersilakan beberapa penghuni Dolly untuk berbicara, nguda rasa, bercerita tentang cita-cita mereka, dan malam itu keluarlah banyak curahan hati dari mereka. Cak Nun terus-menerus dengan semangat membicarakan karunia maaf dari Gusti Allah, bahwasanya maaf Gusti Allah akan selalu diberikan pada mereka yang mau berusaha untuk menempuh jalannya, kendati dengan tersusah-payah.

“Semua orang punya salah, semua orang punya dosa, balapannya itu balapan khusnul khotimah. Balapan supaya jadi bagus lagi, kalau jatuh ya bangkit lagi, ngono yo ?

Malam itu Cak Nun tampak lebih emosional dari biasanya. Ia marah, marah sekali, marah pada kebiadaban orang-orang yang tega merusak kehidupan orang lain oleh sebab kerakusan dan ketidakpecusan dalam memimpin Indonesia. Cak Nun berusaha membesarkan hati, bahkan beliau tampak menahan isak dengan amat sangat ketika melantunkan doa-doa sembari terus memberikan semangat bahwa maaf dari Allah SWT akan selalu ada, terus ada bagi mereka yang mau.

Di penghujung acara saya hanya melihat dari kejauhan, meneguk kopi hitam, dan menghabiskan tahu yang dijual pedagang ketika maiyahan berlangsung. Dari jauh saya melihat para jamaah bukan hanya menciumi tangan Cak Nun, tapi memeluk, merubuhkan diri ke badannya. Seolah sebagai sahabat yang sekian ratus purnama tidak berjumpa, seolah bahu sandaran yang kehadirannya dirindukan dan tak hendak dilepaskan, seolah kekasih yang mestinya tidak pergi. Seolah begawan yang mau menerima keluh kesah mereka ketika sekian banyak orang yang mendaku suci memandang mereka sebagai paria.

Emha Ainun Nadjib, seorang budayawan, penyair, esais, penceramah, kiai, maupun sahabat. Beliau mengajak untuk menjadi manusia yang menghidupi kehidupan, merenunginya, menghayati, menangisi, menertawakannya, dan menjalaninya dengan optimis. Dan mungkin yang paling utama, Cak Nun adalah tempat sampah, tempat segala kekesalan dilimpahkan, tempat menampung kemarahan, tempat di mana para mbambung merasa ditinggikan derajatnya setara manusia lain. Terima kasih Cak. Terima kasih untuk semua orang baik di muka bumi ini. Terima kasih telah ikut serta mengenalkan Gusti Allah sebagai Maha Pengasih dan Penyayang. Terima kasih telah memupuk rindu menggebu pada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Terima kasih telah memberikan kami sedapat-dapatnya alasan untuk datang demi mencumbu rindu pada Gusti Allah SWT dan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Al Fatihah…


0 komentar:

Posting Komentar