![]() |
| Tumpukan Buku |
Entah
bisikan jin dari mana, di Hari Buku Nasional beberapa waktu lalu, saya
berinistif menata koleksi buku di kamar kos yang bersaing tempat dengan baju
kotor, piring, gelas bekas kopi, dan kresek berisi bungkus makanan yang entah
sudah berapa hari yang lalu. Beberapa buku saya ambil dari tempatnya yang entah
kenapa bisa sampai terselip di samping lemari ataupun di antara baju-baju kotor,
kemudian teringat bahwasanya beberapa buku itu belum pernah saya baca sejak dibeli
beberapa tahun silam.
Kertasnya
sudah mulai menguning, sampulnya sedikit berdebu, tapi baunya masih enak. Bau
kertas yang di dalamnya tersimpan tulisan-tulisan menyenangkan dari orang yang
bahkan saya tidak pernah tahu apakah dia suka makan sate ayam dicampur telur asin
atau tidak.
Ini
seperti naik mesin waktu Doraemon. Memunguti, menata dalam rak buku, sambil
mengingat jejak sejarah masing-masing buku hingga ada yang bernasib sial
teronggok di antara tumpukan buku lain tanpa pernah dibaca, sekalipun.
Kalau
anda kira saya adalah pembaca yang lahap, maka saya akan menahan tawa sambil
membatin “lahap ndasmu!. Saya bukan
tipikal orang yang tahan berjam-jam membaca buku setiap hari. Saya hanya rajin memupuk apologia bahwasanya
hasrat membeli buku lebih baik daripada hasrat membaca buku.
Di antara ucapan-ucapan para
pengeluh nan sombong menyoal minat baca masyarakat yang rendah, saya beritahu
wahai kisanak, bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, memiliki buku bukanlah
perkara mudah. Untuk mengisi waktu luang, maka jalan internet dan televisi adalah
pelarian yang paling mudah, murah, dan praktis.
Bahkan ada yang dengan bacaan
seupil badak, sudah berani merancap anggapan bahwasanya kegiatan membaca adalah
ritus suci, membuat diri merasa lebih tahu sambil mengeluhkan minat baca
masyarakat Indonesia yang mendekati nol, tanpa tahu dan tidak mau tahu bahwa
memiliki buku bukanlah perkara yang mudah.
Boleh jadi budaya membaca adalah benar, tapi tidak ada
kebenaran yang absolut ataupun kebenaran yang harus populer. Tradisi masyarakat Indonesia adalah budaya lisan, bisa
lewat obrolan ringan di warung kopi, nongkrong, arisan, maupun sekedar ngobrol
sore di teras rumah. Budaya literasi memang memegang peranan penting dalam meredam
persebaran komentar tolol di internet,
tapi dia bukan segalanya. Ada ruang-ruang santai tempat manusia belajar saling
memanusiakan manusia lain, tanpa perlu membaca buku, dan itupun merupakan hal
yang baik.
Tapi sebagai bagian dari
modernisasi masyarakat ngehe yang jauh dari perbincangan-perbincangan santai, akrab
dengan kejadian sensasional, kemudahan mengakses informaasi (sekalipun kadang informasi
yang membuatmu terlihat tolol), rasa-rasanya kok kegiatan membaca buku menjadi
urgensi tersendiri. Kalau tidak ya foto-foto saja buku tadi, pamerkan di sosial
media, beri caption paling menggelikan yang bisa kamu dapat agar terliha pintar,
kemudian tempatkan lagi buku-buku tadi dengan rapi tanpa perlu dibaca. Kalau itupun masih dirasa terlalu
jahat, lebih baik bakar saja buku-buku tadi agar tidak terlalu makan tempat. Kelar.

Kirim ke taman bacaan. Gratis s.d 10 kilogram tiap tanggal 17 (katanya)
BalasHapusNais info, mas (Y)
BalasHapus