23/05/17

Buku Berdebu Sebaiknya Dibakar Saja



Tumpukan Buku
Entah bisikan jin dari mana, di Hari Buku Nasional beberapa waktu lalu, saya berinistif menata koleksi buku di kamar kos yang bersaing tempat dengan baju kotor, piring, gelas bekas kopi, dan kresek berisi bungkus makanan yang entah sudah berapa hari yang lalu. Beberapa buku saya ambil dari tempatnya yang entah kenapa bisa sampai terselip di samping lemari ataupun di antara baju-baju kotor, kemudian teringat bahwasanya beberapa buku itu belum pernah saya baca sejak dibeli beberapa tahun silam. 

Kertasnya sudah mulai menguning, sampulnya sedikit berdebu, tapi baunya masih enak. Bau kertas yang di dalamnya tersimpan tulisan-tulisan menyenangkan dari orang yang bahkan saya tidak pernah tahu apakah dia suka makan sate ayam dicampur telur asin atau tidak. 
Ini seperti naik mesin waktu Doraemon. Memunguti, menata dalam rak buku, sambil mengingat jejak sejarah masing-masing buku hingga ada yang bernasib sial teronggok di antara tumpukan buku lain tanpa pernah dibaca, sekalipun. 

Kalau anda kira saya adalah pembaca yang lahap, maka saya akan menahan tawa sambil membatin “lahap ndasmu!. Saya bukan tipikal orang yang tahan berjam-jam membaca buku setiap hari.  Saya hanya rajin memupuk apologia bahwasanya hasrat membeli buku lebih baik daripada hasrat membaca buku. 

Di antara ucapan-ucapan para pengeluh nan sombong menyoal minat baca masyarakat yang rendah, saya beritahu wahai kisanak, bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, memiliki buku bukanlah perkara mudah. Untuk mengisi waktu luang, maka jalan internet dan televisi adalah pelarian yang paling mudah, murah, dan praktis.

Bahkan ada yang dengan bacaan seupil badak, sudah berani merancap anggapan bahwasanya kegiatan membaca adalah ritus suci, membuat diri merasa lebih tahu sambil mengeluhkan minat baca masyarakat Indonesia yang mendekati nol, tanpa tahu dan tidak mau tahu bahwa memiliki buku bukanlah perkara yang mudah.

Boleh jadi budaya membaca adalah benar, tapi tidak ada kebenaran yang absolut ataupun kebenaran yang harus populer. Tradisi masyarakat Indonesia adalah budaya lisan, bisa lewat obrolan ringan di warung kopi, nongkrong, arisan, maupun sekedar ngobrol sore di teras rumah. Budaya literasi memang memegang peranan penting dalam meredam persebaran komentar tolol  di internet, tapi dia bukan segalanya. Ada ruang-ruang santai tempat manusia belajar saling memanusiakan manusia lain, tanpa perlu membaca buku, dan itupun merupakan hal yang baik.

Tapi sebagai bagian dari modernisasi masyarakat ngehe yang jauh dari perbincangan-perbincangan santai, akrab dengan kejadian sensasional, kemudahan mengakses informaasi (sekalipun kadang informasi yang membuatmu terlihat tolol), rasa-rasanya kok kegiatan membaca buku menjadi urgensi tersendiri. Kalau tidak ya foto-foto saja buku tadi, pamerkan di sosial media, beri caption paling menggelikan yang bisa kamu dapat agar terliha pintar, kemudian tempatkan lagi buku-buku tadi dengan rapi tanpa perlu dibaca. Kalau itupun masih dirasa terlalu jahat, lebih baik bakar saja buku-buku tadi agar tidak terlalu makan tempat. Kelar.

2 komentar: