24/05/17

Hidup Tak Pernah Indah-Indah Amat



Aku berguling di tempat tidur, menatap atap genteng merah bata, menarik nafas dalam, kemudian beranjak dari tempat tidur menuju dapur untuk menggerus biji kopi yang membuat seisi rumahku beraroma menyenangkan di Minggu pagi. Masih berpendar di layar gawaiku pesan darimu semalam yang mengajakku bertemu –seperti biasa- di Stasiun Lempuyangan. Kutahu segalanya akan berjalan seperti biasa, kamu menitipkan sepeda motormu, kemudian memboncengku berkeliling Pasar Bringharjo, mencari buku-buku di seantero toko buku di Jogja, membeli buah-buahan di kios sepanjang Jalan Kaliurang, untuk kemudian merayakan sisa hari yang kadang berjalan terlalu cepat di pantai Cemoro Sewu.

Aku tidak pernah tahu tindakan apa yang tepat untuk membuatmu bahagia. Aku hanya berusaha membuatku merasa baik-baik saja untuk berbicara apapun sambil duduk di atas pasir lembut menyaksikan matahari tenggelam. Entah pembicaraaan itu perihal luka, amarah, ataupun segala kemuakan yang membuatmu mendendam meskipun telah lewat ratusan purnama purnama. Aku mencampur segala perasaan menggebu, kemarahan, sumpah serapah, dendam, cinta, doa, dan harapan yang kamu ucapkan sepuas hatimu, sampai kamu menyadarinya, bahwa hidup juga tak pernah indah-indah amat. Aku tidak pernah tahu dan tidak ingin tahu cara yang tepat untuk menasehatimu. Kamu, toh, tentunya sudah bosan dengan segala nasihat yang tidak perlu, nasihat yang hanya membuatmu muak, segala kata mutiara yang tak lebih dari serat dalam usus besar.

Suatu saat, ketika tiba waktunya kamu sadar bahwa hidupmu lebih layak dijalani dengan pria lain, aku akan tetap di sini. Mengingat segala hal bodoh yang dimulai dari perjumpaan kita yang tidak seberapa berkesan. Segala cerita yang tak pernah usang untuk diceritakan kembali. Sendirian. Tapi paling tidak saat itu kamu pasti bahagia. Sangat bahagia lebih dari sebelumnya. Semoga. Hingga pada suatu hari nanti, akan kukirimkan surat, hanya surat, bukan senja seperti yang dikirimkan Sukab pada Alina. Berisi hal-hal yang tidak pernah selesai dan segala melankolia di dalamnya. Tapi itu tidaklah begitu penting untuk kamu perhatikan. Tidak pernah lebih penting ketimbang kebahagiaan yang kamu rasakan saat itu. Pada akhirnya, aku sendiri yang harus belajar darimu, bahwa hidup toh tidak pernah indah-indah amat.



23/05/17

Buku Berdebu Sebaiknya Dibakar Saja



Tumpukan Buku
Entah bisikan jin dari mana, di Hari Buku Nasional beberapa waktu lalu, saya berinistif menata koleksi buku di kamar kos yang bersaing tempat dengan baju kotor, piring, gelas bekas kopi, dan kresek berisi bungkus makanan yang entah sudah berapa hari yang lalu. Beberapa buku saya ambil dari tempatnya yang entah kenapa bisa sampai terselip di samping lemari ataupun di antara baju-baju kotor, kemudian teringat bahwasanya beberapa buku itu belum pernah saya baca sejak dibeli beberapa tahun silam. 

Kertasnya sudah mulai menguning, sampulnya sedikit berdebu, tapi baunya masih enak. Bau kertas yang di dalamnya tersimpan tulisan-tulisan menyenangkan dari orang yang bahkan saya tidak pernah tahu apakah dia suka makan sate ayam dicampur telur asin atau tidak. 
Ini seperti naik mesin waktu Doraemon. Memunguti, menata dalam rak buku, sambil mengingat jejak sejarah masing-masing buku hingga ada yang bernasib sial teronggok di antara tumpukan buku lain tanpa pernah dibaca, sekalipun. 

Kalau anda kira saya adalah pembaca yang lahap, maka saya akan menahan tawa sambil membatin “lahap ndasmu!. Saya bukan tipikal orang yang tahan berjam-jam membaca buku setiap hari.  Saya hanya rajin memupuk apologia bahwasanya hasrat membeli buku lebih baik daripada hasrat membaca buku. 

Di antara ucapan-ucapan para pengeluh nan sombong menyoal minat baca masyarakat yang rendah, saya beritahu wahai kisanak, bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, memiliki buku bukanlah perkara mudah. Untuk mengisi waktu luang, maka jalan internet dan televisi adalah pelarian yang paling mudah, murah, dan praktis.

Bahkan ada yang dengan bacaan seupil badak, sudah berani merancap anggapan bahwasanya kegiatan membaca adalah ritus suci, membuat diri merasa lebih tahu sambil mengeluhkan minat baca masyarakat Indonesia yang mendekati nol, tanpa tahu dan tidak mau tahu bahwa memiliki buku bukanlah perkara yang mudah.

Boleh jadi budaya membaca adalah benar, tapi tidak ada kebenaran yang absolut ataupun kebenaran yang harus populer. Tradisi masyarakat Indonesia adalah budaya lisan, bisa lewat obrolan ringan di warung kopi, nongkrong, arisan, maupun sekedar ngobrol sore di teras rumah. Budaya literasi memang memegang peranan penting dalam meredam persebaran komentar tolol  di internet, tapi dia bukan segalanya. Ada ruang-ruang santai tempat manusia belajar saling memanusiakan manusia lain, tanpa perlu membaca buku, dan itupun merupakan hal yang baik.

Tapi sebagai bagian dari modernisasi masyarakat ngehe yang jauh dari perbincangan-perbincangan santai, akrab dengan kejadian sensasional, kemudahan mengakses informaasi (sekalipun kadang informasi yang membuatmu terlihat tolol), rasa-rasanya kok kegiatan membaca buku menjadi urgensi tersendiri. Kalau tidak ya foto-foto saja buku tadi, pamerkan di sosial media, beri caption paling menggelikan yang bisa kamu dapat agar terliha pintar, kemudian tempatkan lagi buku-buku tadi dengan rapi tanpa perlu dibaca. Kalau itupun masih dirasa terlalu jahat, lebih baik bakar saja buku-buku tadi agar tidak terlalu makan tempat. Kelar.