Aku
berguling di tempat tidur, menatap atap genteng merah bata, menarik nafas
dalam, kemudian beranjak dari tempat tidur menuju dapur untuk menggerus biji
kopi yang membuat seisi rumahku beraroma menyenangkan di Minggu pagi. Masih
berpendar di layar gawaiku pesan darimu semalam yang mengajakku bertemu –seperti
biasa- di Stasiun Lempuyangan. Kutahu segalanya akan berjalan seperti biasa, kamu
menitipkan sepeda motormu, kemudian memboncengku berkeliling Pasar Bringharjo,
mencari buku-buku di seantero toko buku di Jogja, membeli buah-buahan di kios
sepanjang Jalan Kaliurang, untuk kemudian merayakan sisa hari yang kadang
berjalan terlalu cepat di pantai Cemoro Sewu.
Aku
tidak pernah tahu tindakan apa yang tepat untuk membuatmu bahagia. Aku hanya berusaha
membuatku merasa baik-baik saja untuk berbicara apapun sambil duduk di atas
pasir lembut menyaksikan matahari tenggelam. Entah pembicaraaan itu perihal
luka, amarah, ataupun segala kemuakan yang membuatmu mendendam meskipun telah lewat ratusan purnama purnama. Aku mencampur segala perasaan menggebu, kemarahan, sumpah serapah,
dendam, cinta, doa, dan harapan yang kamu ucapkan sepuas hatimu, sampai kamu menyadarinya,
bahwa hidup juga tak pernah indah-indah amat. Aku tidak pernah tahu dan tidak
ingin tahu cara yang tepat untuk menasehatimu. Kamu, toh, tentunya sudah bosan
dengan segala nasihat yang tidak perlu, nasihat yang hanya membuatmu muak,
segala kata mutiara yang tak lebih dari serat dalam usus besar.
Suatu
saat, ketika tiba waktunya kamu sadar bahwa hidupmu lebih layak dijalani dengan
pria lain, aku akan tetap di sini. Mengingat segala hal bodoh yang dimulai dari
perjumpaan kita yang tidak seberapa berkesan. Segala cerita yang tak pernah
usang untuk diceritakan kembali. Sendirian. Tapi paling tidak saat itu kamu
pasti bahagia. Sangat bahagia lebih dari sebelumnya. Semoga. Hingga pada suatu
hari nanti, akan kukirimkan surat, hanya surat, bukan senja seperti yang dikirimkan
Sukab pada Alina. Berisi hal-hal yang tidak pernah selesai dan segala
melankolia di dalamnya. Tapi itu tidaklah begitu penting untuk kamu perhatikan.
Tidak pernah lebih penting ketimbang kebahagiaan yang kamu rasakan saat itu. Pada
akhirnya, aku sendiri yang harus belajar darimu, bahwa hidup toh tidak
pernah indah-indah amat.
