09/10/17

Misteri Pengunci Pintu

Malam ini saya sengaja terjaga sambil mengamati lorong menuju pintu kos untuk menjawab pertanyaan besar nomor dua di dunia setelah "Untuk apa umat manusia diciptakan di dunia?" yaitu pertanyaan "Siapa sebenarnya keledai dungu yang kemarin malam menutup pintu kos hingga saya dan seorang kawan terpaksa menginap di burjo kemudian untuk pertama kalinya shalat subuh berjamaah di masjid?"

Bukan perkara terlampau serius sebenarnya. Hanya saja kemarin saya baru saja menempuh perjalanan dari Jogja, di perjalanan saya sudah merangkai sekian paragraf dan kalimat puitik untuk ditulis dalam rangka merayakan ulang tahun Jogja sembari berguling di kasur dan menyeruput kopi demi memperjuangkan pencitraan yang sedang saya bangun. 

Lha kok ndilalah, sampai kos pintu sudah dikunci. Kebetulan pula, kawan yang biasanya membukakan pintu sama-sama baru pulang dan tidak dapat masuk. Sekian baris kalimat puitik di kepala saya mendadak hilang, berganti menjadi serombongan makian yang lebih cocok dijadikan bahan pidato makian dungu demonstrasi bayaran. Apa gak bikin muntab betul itu penguncinya?


Dipupuk rasa penasaran, saya menyiapkan kopi untuk membantu menangkal kantuk. Malam ini langit pun mendukung dengan menurunkan hujan deras yang berkemungkinan besar membuat siapapun, bahkan dengan kepekaan artistik paling menyedihkan sekalipun untuk membuat puisi, meskipun hasilnya bisa jadi buruk saja belum. 

Gerimis dan suasana artsy-able begitu tidak mengurangi rasa penasaran saya.

Berbekal kesabaran dan optimisme Platonis seperti pendukung Liverpool dan Arsenal, saya tekun mengamati dari jendela kamar yang saya buka sedikit untuk melihat siapa sesungguhnya pelaku pengunci pintu yang layak dihukum mendengarkan ocehan Fadli Zon selama sepuluh jam, tanpa jeda. 

Pukul tiga pagi. Semua warga kos tampak terlelap di kamarnya masing-masing. Pintu utama kos masih tertutup dan tidak terkunci. Tidak tampak batang hidung keledai yang kemarin malam, dengan sepayah-payah akal sehatnya, mengunci pintu kos tanpa sanggup menggunakan daya nalarnya yang paling lemah untuk berpikir bahwa masih ada warga kos yang belum pulang. 

Sampai di sini, pukul setengah empat pagi, saya merasa gagal sebagai seorang penggemar Detektif Conan dan Sherlock Holmes.

05/10/17

Ghal Dresna

Ghal membanting botolnya ke aspal, berjalan oleng ke arah pantai berusaha menyeret kakinya tertatih membentuk jejak panjang di permukaan pasir. Aku melihatnya dari jarak tiga meter, berusaha menahan diri untuk tidak menendang perutnya sekali lagi biar ia tersadar: hidup, tidak patut dimaknai lebih dari sebuntal besar kotoran ayam. 

Aku pertama mengenalnya bertahun lalu di sebuah warung kopi. Ia menepuk pundakku keras sambil setengah berteriak, 

"Junaedi, lama tidak jumpa! Pa khabarmu kawan?," ia bertanya seolah aku kawannya akrab, jelas sekali di wajahnya ia sama sekali tidak berusaha menampakkan keraguan bahwa aku bukanlah orang yang dikenalnya. Tanganku masih memegang gelas kopi yang isinya masih panas, cukup panas untuk membakar seringai tololnya sekarang juga, tapi kuurungkan karena kopi ini berharga mahal, belum pula kuminum sedikitpun karena barista yang membuatnya terlalu banyak memberi air panas. 
Ghal Dresna berasal dari suatu kota di barat ibukota. Ayahnya berasal dari keluarga miskin, begitupun ibunya. Nyaris seluruh anggota keluarga Ghal tidak memiliki bakat atau keahlian dalam bidang apapun, bahkan untuk hal-hal kriminal sederhana seperti mencopet, menilap spion, mengutil, atau mencuri helm sekalipun. Kecerdasan, dalam bentuk apapun, tampaknya tidak ada satupun yang mampir dalam keluarga mereka.

Ketika kelas 5 SD, Ghal diajak ayahnya mencuri ikan lele di kolam milik Haji Novanto, orang paling kaya di kampung tempat tinggal mereka namun kikir bukan kepalang.
Bukan hal sulit seharusnya, Ghal cukup menunggu di balik semak yang berjarak sekitar 20 meter dari kolam terdekat sambil menyiapkan karung sebagai wadah ikan lele sementara ayahnya mengendap-endap menghindari penjaga malam. Membayangkan ikan lele sebesar lengan orang dewasa yang dibakar dengan kecap dan sedikit jeruk nipis membuat ludah Ghal berkumpul lebih banyak di mulut. Tapi ternyata ia girang kepagian. Ayahnya, Zon Koppig, tampak tidak memiliki ingatan atau sekedar pengetahuan mendasar tentang ikan lele. Penuh percaya diri, Zon melompat ke dalam kolam, meraup ikan lele dengan jaring yang ia bawa. Tak perlu menunggu lebih dari 5 detik, ia langsung berteriak kencang oleh sebab lele-lele muram dalam kolam menghantamkan patil sekuat tenaga ke kaki Zon yang malang. Kaget, kesakitan, Zon menjadi limbung, ia tercebur dan seluruh badannya menjadi sasaran sabet patil ikan lele. Beruntung, salah seorang penjaga kolam mendengar teriakannya. Dibantu beberapa orang anak buah Haji Novanto, Zon berhasil dibawa ke rumah sakit terdekat menggunakan mobil bak terbuka yang berbau pakan ikan. 

Meskipun akhirnya ia mati kehabisan darah.
Aku tak tahu mana yang lebih buruk. Rasa ingin tertawa karena mengetahui ada orang yang mati karena dikeroyok ikan lele, atau cara Ghal bercerita dengan nada dan muka datar seolah kematian ayahnya hanyalah potongan cerita dari berita koran lampu merah. Aku tidak bertanya lebih jauh mengapa ia tidak segera menolong ayahnya saat itu ketimbang menunggu penjaga kolam. Kemudian aku terpikir, Ghal tidak mungkin mampu menarik ayahnya yang sedang dilibas ikan lele dari kolam sedalam 1,5 meter. Malahan, bisa jadi kemudian hari ia menjadi sasaran gebuk karena ketahuan mencuri ikan lele milik Haji Novanto. Kemudian aku terpikir lagi, aku benar-benar tidak mau ambil pusing dengan kehidupan orang lain, entah hidup ataupun kematiannya.

"Kamu siapa?" tanyaku pelan.

Raut wajahnya berubah sedikit. Dia mengamatiku agak lama. Kurasa ia sedang menggeber otaknya yang tidak seberapa cerdas itu untuk mengenaliku. Beberapa saat kemudian, seringainya kembali lagi.

"Astaga, kukira kau si kunyuk Junaedi, hahaha...siapa namamu Bung? Kuliah di mana?"

Dia bercerita bahwa dirinya tidak kuliah, tetapi mempelajari ilmu hitam. Aku tidak bertanya lebih jauh. Aku tidak ingin menjadikan malam itu menjadi lebih buruk lagi, ternyata aku salah, esoknya kuketahui ia adalah kakak seniorku satu jurusan. Ujungnya jelas, aku menjadi bulan-bulanannya saat masa orientasi kampus yang membuatku ingin melarungnya sesegera mungkin ke Selokan Mataram. Aku tidak main-main. Dulu sekali aku pernah mempelajari ilmu beladiri tangan kosong. Meskipun sekarang aku tidak begitu mahir kecuali menyisakan kekosongan di kedua tangan.

***
Masih bakalan lanjut, ide mentok bosqueee.