23/05/18

Tumbuh Dewasa dan Kepulangan dalam Semasa

Judul                : Semasa
Penulis             : Teddy W. Kusuma dan
                           Maesy Ang
Penerbit           : OAK
Tahun Terbit    : 2018
Jml halaman    : 146 halaman
Bahasa             : Bahasa Indonesia
Harga               : Rp.58.000,00
ISBN               : 978-602-60924-7-2













“Terkadang hal-hal kecil di depanmu, hal-hal yang tak signifikan sebetulnya, akan mengingatkanmu pada rentetan kejadian masa lalu yang –dengan cara yang kerap berbelit-belit—menjelaskan keadaanmu saat ini.”

Saya mulai membaca buku ini sambil mendengarkan lagu lama milik Slank, gorengan, tak lupa segelas kopi, di kamar kos yang sempit. Gelas keramik yang dulunya putih itu tak lagi terlihat warna aslinya, menjadi kusam akibat kelewat sering menampung cairan kopi hitam. Sejak bertahun-tahun lalu. Sudah hampir lima tahun sejak saya merantau dari rumah. Sejak itu pula gelas putih ini menjadi saksi bagaimana saya meminum kopi lebih banyak daripada air putih dalam sehari. Sebuah kesadaran yang timbul ketika membaca paragraf awal di buku ini. 

Semasa bercerita tentang kepulangan. Sachi dan Coro pulang setelah bertahun-tahun merantau di luar kota dan negara. Di rumah masa kecil mereka itu, kenangan dan rindu tiba-tiba menyeruak dan saling bertaut. Dari tebak-tebakan sepanjang perjalanan, dinding bergambar ‘eksotis’ hasil kerja kreatif mereka,maupun alam sekitar tempat dulu biasa bermain. Suasana yang –meskipun tidak serupa- mengingatkan saya pada rumah dan masa kecil. 

"Kita ini dua orang dewasa yang berbeda. Apa, sih, yang betul-betul bisa kita bicarakan selain nostalgia?"

Sachi dan Coro tumbuh bersama sejak kecil. Coro sebagai kakak laki-laki tampil sebagai panutan yang tangkas, Sachi si adik perempuan menjadi anak bawang yang ringkih. Beranjak besar, Sachi mulai bisa tumbuh menjadi perempuaan yang tangguh. Bahkan dengan pencapaian yang lebih baik dari Coro. Terbukti dari pencapaiannya menjadi doktor termuda di program studinya. Sedangkan Coro terlihat sedang memasuki masa peralihan antara pemuda yang idealis menuju orang dewasa yang realistis. Hal ini dapat dilihat ketika ia menceritakan ironi dari kakak kelasnya bahwa seorang seniman membutuhkan kesedihan yang terus menerus untuk menghasilkan karya hebat. Waktu menjawab hal tersebut, si kakak kelas belum menjadi siapa-siapa. Terakhir kali Coro melihatnya, si kakak kelas jelas lebih menyerupai pecundang besar daripada seniman besar.  

Coro dan Sachi tumbuh dengan membaca Hemingway, Orwell, Kerouac, Harper Lee, dan si muram Kafka. Bahkan Sachi ketika masih bocah sudah dapat merasakan bahwa tokoh binatang dalam Animal Farm lebih dari sekedar cerita binatang di peternakan. Saya rasa Sachi dan Coro sejak kecil tumbuh dengan bacaan yang bergizi. Hal yang wajar ketika memiliki orang tua dengan pendidikan luas. Bapak Coro merupakan dosen, sedangkan ibu Sachi adalah koki yang memiliki suami dari Yunani. Tapi, saya masih bertanya-tanya mengapa mereka ketika bocah juga diberi Kafka yang ceritanya muram dan seringkali tanpa harapan, meskipun saya akui, cukup bagus.

Konflik sederhana dalam buku ini yang membuatnya menarik. Konflik yang tidak membutuhkan ledakan besar. Namun Teddy dan Maesy mampu membuatnya begitu dalam. Awalnya, kepulangan ini dimaksudkan sebagai pertemuan untuk memasukkan ingatan sebanyak mungkin sebelum rumah dijual ke seorang pensiunan pegawai bank. Namun, si pensiunan pegawai bank mendadak mati. Bapak tidak ingin menjual ke calon pembeli satunya. Sebelumnya mereka sepakat menjual rumah tersebut karena Bapak lebih ingin tinggal di rumahnya di kota bersama Gregor, anjingnya, sekaligus tempat semua buku dan kenangan  bersama almarhum ibu berada. Sedangkan Bibi Sari setuju menjual rumah tersebut sebagai tambahan modal melunasi rumah barunya di Oia, Yunani, kampung halaman Paman Giofridis. Si pensiunan pegawai bank sebenarnya bukan satu-satunya calon pembeli. Ada seorang hakim yang juga ingin membeli rumah tersebut. Namun, Bapak tidak begitu setuju karena tidak menyukai perangai si hakim dan uang hasil pekerjaannya.

Perbedaan pendapat ini tidak dibumbui teriakan atau rebut berlarut-larut, namun hanya ada ketenangan dan kesunyian orang dewasa. Bagi saya, justru hal ini yang membuat konflik ini begitu mendalam. Si Bapak dan Ibu Sachi mengambil jarak masing-masing. Mengingat kembali dulu waktu kecil mereka hanya memiliki satu dengan yang lain, namun ketika mendekati ujung usia seperti ini, justru dihadapkan pada konflik keluarga. Hingga mereka harus memilih.

Saya begitu menyukai tulisan Teddy dan Maesy lewat blog mereka. Kepuasan berlebih lagi setelah saya membaca buku ini. Tidak ada penggunaan diksi yang terkesan dipaksakan. Cara mereka menulis begitu halus, mengalir, dan pertautan yang menyenangkan antar kalimat. Kisah dalam buku ini saya rasakan sebagai kepulangan, keluarga, dan kedewasaan berpikir. 

Buku yang sangat menyenangkan untuk dibaca. Terutama mereka yang sedang merindukan keluarga, dan tentu saja: pulang ke rumah.

0 komentar:

Posting Komentar