17/12/17

Telik Sandi

Rencana pemberontakan ini disandikan dalam 66 kalimat pertama 3 bab awal dari 11 buku yang tidak pernah ditulis. Penyusunnya terdiri dari seorang pertapa yang menyaru sebagai penjaga diskotik khusus penyuka sesama jenis dan seorang mantan ahli strategi pada perang bertahun lalu yang kini hanya dikenal sebagai tukang tambal ban merangkap penebar paku.

Bersama, mereka merekrut 8 orang dari 4 penjuru mata angin kemudian bersua di sebuah kedai kopi yang penjualnya lebih sering bermain zuma daripada melayani pembeli.

Seorang anak muda berprofesi bajing loncat yang pertama kali datang. Disusul seorang mantan jawara berumur 56 tahun; seorang bekas pawang lumba-lumba; seorang penabuh kendang dari orkes dangdut tersohor; seorang anak muda yang dari raut mukanya terlihat sedang memasuki masa pencarian pengakuan; dua sisanya datang bersamaan yaitu penceramah abal-abal dan penjual balsem penumbuh bulu dada.

Kami mengangguk antusias mendapati pembagian tugas dalam rencana pemberontakan ini. Masing-masing telah bersiap melakukan perannya. Kesepuluh orang ini kemudian berpencar ke delapan mata angin setelah sebelumnya membunuh si penjual agar rencana tersebut tidak bocor.

Satu orang yang berprofesi sebagai ahli sandi ditugaskan menyampaikan pesan secara tersamar lewat medium apapun dengan lugas dan jelas tanpa menyebutkan nama, profesi, umur,  lokasi, ataupun rincian apapun kecuali rujukan-rujukan tertentu demi menjaga keberlangsungan rencana tersebut.
Agar supaya ketika pesan ini ditemukan manusia, mereka tidak akan menemukan apapun kecuali bual-bualan tak berarti.

12/12/17

Pesawat Terbang



Aku sudah lama ingin naik pesawat terbang. Sepasang sayap putih besar yang membentang luas dengan mesin besar di tiap sisi. Belum lagi deru yang dihasilkan ketika lepas maupun tinggal landas di landasan bandara yang terletak sekitar satu kilometer dari rumahku. Hampir setiap sore aku dan teman-temanku bersepeda di sekeliling bandara. Dari jalanan kami dapat melihat pesawat lalu-lalang di kejauhan. Dalam cuaca yang buruk, pesawat yang datang-pergi cenderung lebih sedikit.

Di depan pintu masuk bandara terdapat monumen perang yang sering digunakan banyak orang untuk berfoto. Monumen berwujud pesawat itu tampak berkilauan jika terkena cahaya matahari. Pun jika hujan, tampak gagah ditimpa air dan badai. Kami sering bermain di tanah berumput sekitar monumen itu ketika hujan turun. 

Waktu kecil aku sering sakit-sakitan. Orang tuaku tidak membolehkanku hujan-hujanan. Kena hujan sedikit saja aku segera terkena demam dan batuk. Katanya, jantung dan daya tahan tubuhku lemah. Akan tetapi aku sering menyelinap dari rumahku. Bukan hujan sebenarnya hal yang paling aku sukai, melainkan pesawat dengan lampu kelap-kelip yang dinyalakan ketika hujan turun. Gagah sekali serupa burung besar yang menyala.

Dari kecil hingga lulus kuliah, aku selalu bersekolah di dalam satu kota. Bahkan ketika KKN, aku tidak boleh ke tempat yang letaknya harus ditempuh dengan pesawat. Ibuku beralasan dengan pertimbangan kondisi tubuhku yang mudah sakit. Kesal sekali rasanya. Tapi apa boleh buat. Aku bersabar menunggu momen yang tepat.

Sekarang, aku sudah duduk di kabin pesawat, mewah pula tempatnya. Seorang taipan dari China mengundangku mengisi ceramah tentang perekonomian di salah satu perusahaanya. Aku sedikit geli karena mengingat, ceramah tentang penelitian itu sebenarnya hanya bual-bualanku semata. Aku hanya menambahkan kata-kata mutiara dan istilah perekonomiaan yang sulit hanya agar dikagumi para pendengarku yang kebanyakan berduit banyak tapi berkepala kopong. Ternyata mereka suka dan seringkali terharu. Berkali-kali aku harus menahan tawa melihat ekspresi mereka yang sedemikian merangsang untuk ditabok.

Tapi peduli setan, penting honor yang kuterima selalu lebih besar dari gajiku di perusahaan tempatku bekerja.

Lebih lagi, kini aku dapat naik pesawat. Dalam kabin mewah dan pelayanan dari pramugari yang senantiasa tersenyum. Kursinya empuk, tidak pula ada bau-bauan aneh. Disediakan majalah serta layar berukuran sedang yang dapat digunakan untuk menonton film maupun memutar musik lewat headphone.

Aku kegirangan ketika menyaksikan dari jendela pesawat yang kunaiki terlihat pesawat ini mulai naik meninggalkan landasan. Impianku sejak kecil akhirnya terwujud. Aku ingin tertawa keras-keras dan melompat sekuatnya. Ini adalah hal paling menyenangkan dalam hidup yang kuidam-idamkan sedari kecil. Aku bahagia, sangat bahagia hingga membuat dadaku sedikit sesak.

Pramugari membangunkanku, ternyata selama perjalanan aku tertidur. Aku sedikit menyesal melewatkan pendaratan pesawat ini. Mataku sedikit berkunang-kunang. Tapi entah mengapa, ruangan kabin menjadi putih dan berkilau dan bertambah luas.
Aku bertanya pada pramugari yang sepertinya tidak menunjukkan gelagat ingin membukakan pintu. Padahal dari luar sudah kulihat bandara (yang anehnya) sedemikian bersih dan banyak orang berlalu-lalang.

“Bukankah perjalanan sudah selesai dan saya sudah sampai di Beijing?,” tanyaku.

“Perjalanan sudah selesai, Pak. Kita tidak pernah sampai,” katanya sambil tersenyum.

09/10/17

Misteri Pengunci Pintu

Malam ini saya sengaja terjaga sambil mengamati lorong menuju pintu kos untuk menjawab pertanyaan besar nomor dua di dunia setelah "Untuk apa umat manusia diciptakan di dunia?" yaitu pertanyaan "Siapa sebenarnya keledai dungu yang kemarin malam menutup pintu kos hingga saya dan seorang kawan terpaksa menginap di burjo kemudian untuk pertama kalinya shalat subuh berjamaah di masjid?"

Bukan perkara terlampau serius sebenarnya. Hanya saja kemarin saya baru saja menempuh perjalanan dari Jogja, di perjalanan saya sudah merangkai sekian paragraf dan kalimat puitik untuk ditulis dalam rangka merayakan ulang tahun Jogja sembari berguling di kasur dan menyeruput kopi demi memperjuangkan pencitraan yang sedang saya bangun. 

Lha kok ndilalah, sampai kos pintu sudah dikunci. Kebetulan pula, kawan yang biasanya membukakan pintu sama-sama baru pulang dan tidak dapat masuk. Sekian baris kalimat puitik di kepala saya mendadak hilang, berganti menjadi serombongan makian yang lebih cocok dijadikan bahan pidato makian dungu demonstrasi bayaran. Apa gak bikin muntab betul itu penguncinya?


Dipupuk rasa penasaran, saya menyiapkan kopi untuk membantu menangkal kantuk. Malam ini langit pun mendukung dengan menurunkan hujan deras yang berkemungkinan besar membuat siapapun, bahkan dengan kepekaan artistik paling menyedihkan sekalipun untuk membuat puisi, meskipun hasilnya bisa jadi buruk saja belum. 

Gerimis dan suasana artsy-able begitu tidak mengurangi rasa penasaran saya.

Berbekal kesabaran dan optimisme Platonis seperti pendukung Liverpool dan Arsenal, saya tekun mengamati dari jendela kamar yang saya buka sedikit untuk melihat siapa sesungguhnya pelaku pengunci pintu yang layak dihukum mendengarkan ocehan Fadli Zon selama sepuluh jam, tanpa jeda. 

Pukul tiga pagi. Semua warga kos tampak terlelap di kamarnya masing-masing. Pintu utama kos masih tertutup dan tidak terkunci. Tidak tampak batang hidung keledai yang kemarin malam, dengan sepayah-payah akal sehatnya, mengunci pintu kos tanpa sanggup menggunakan daya nalarnya yang paling lemah untuk berpikir bahwa masih ada warga kos yang belum pulang. 

Sampai di sini, pukul setengah empat pagi, saya merasa gagal sebagai seorang penggemar Detektif Conan dan Sherlock Holmes.

05/10/17

Ghal Dresna

Ghal membanting botolnya ke aspal, berjalan oleng ke arah pantai berusaha menyeret kakinya tertatih membentuk jejak panjang di permukaan pasir. Aku melihatnya dari jarak tiga meter, berusaha menahan diri untuk tidak menendang perutnya sekali lagi biar ia tersadar: hidup, tidak patut dimaknai lebih dari sebuntal besar kotoran ayam. 

Aku pertama mengenalnya bertahun lalu di sebuah warung kopi. Ia menepuk pundakku keras sambil setengah berteriak, 

"Junaedi, lama tidak jumpa! Pa khabarmu kawan?," ia bertanya seolah aku kawannya akrab, jelas sekali di wajahnya ia sama sekali tidak berusaha menampakkan keraguan bahwa aku bukanlah orang yang dikenalnya. Tanganku masih memegang gelas kopi yang isinya masih panas, cukup panas untuk membakar seringai tololnya sekarang juga, tapi kuurungkan karena kopi ini berharga mahal, belum pula kuminum sedikitpun karena barista yang membuatnya terlalu banyak memberi air panas. 
Ghal Dresna berasal dari suatu kota di barat ibukota. Ayahnya berasal dari keluarga miskin, begitupun ibunya. Nyaris seluruh anggota keluarga Ghal tidak memiliki bakat atau keahlian dalam bidang apapun, bahkan untuk hal-hal kriminal sederhana seperti mencopet, menilap spion, mengutil, atau mencuri helm sekalipun. Kecerdasan, dalam bentuk apapun, tampaknya tidak ada satupun yang mampir dalam keluarga mereka.

Ketika kelas 5 SD, Ghal diajak ayahnya mencuri ikan lele di kolam milik Haji Novanto, orang paling kaya di kampung tempat tinggal mereka namun kikir bukan kepalang.
Bukan hal sulit seharusnya, Ghal cukup menunggu di balik semak yang berjarak sekitar 20 meter dari kolam terdekat sambil menyiapkan karung sebagai wadah ikan lele sementara ayahnya mengendap-endap menghindari penjaga malam. Membayangkan ikan lele sebesar lengan orang dewasa yang dibakar dengan kecap dan sedikit jeruk nipis membuat ludah Ghal berkumpul lebih banyak di mulut. Tapi ternyata ia girang kepagian. Ayahnya, Zon Koppig, tampak tidak memiliki ingatan atau sekedar pengetahuan mendasar tentang ikan lele. Penuh percaya diri, Zon melompat ke dalam kolam, meraup ikan lele dengan jaring yang ia bawa. Tak perlu menunggu lebih dari 5 detik, ia langsung berteriak kencang oleh sebab lele-lele muram dalam kolam menghantamkan patil sekuat tenaga ke kaki Zon yang malang. Kaget, kesakitan, Zon menjadi limbung, ia tercebur dan seluruh badannya menjadi sasaran sabet patil ikan lele. Beruntung, salah seorang penjaga kolam mendengar teriakannya. Dibantu beberapa orang anak buah Haji Novanto, Zon berhasil dibawa ke rumah sakit terdekat menggunakan mobil bak terbuka yang berbau pakan ikan. 

Meskipun akhirnya ia mati kehabisan darah.
Aku tak tahu mana yang lebih buruk. Rasa ingin tertawa karena mengetahui ada orang yang mati karena dikeroyok ikan lele, atau cara Ghal bercerita dengan nada dan muka datar seolah kematian ayahnya hanyalah potongan cerita dari berita koran lampu merah. Aku tidak bertanya lebih jauh mengapa ia tidak segera menolong ayahnya saat itu ketimbang menunggu penjaga kolam. Kemudian aku terpikir, Ghal tidak mungkin mampu menarik ayahnya yang sedang dilibas ikan lele dari kolam sedalam 1,5 meter. Malahan, bisa jadi kemudian hari ia menjadi sasaran gebuk karena ketahuan mencuri ikan lele milik Haji Novanto. Kemudian aku terpikir lagi, aku benar-benar tidak mau ambil pusing dengan kehidupan orang lain, entah hidup ataupun kematiannya.

"Kamu siapa?" tanyaku pelan.

Raut wajahnya berubah sedikit. Dia mengamatiku agak lama. Kurasa ia sedang menggeber otaknya yang tidak seberapa cerdas itu untuk mengenaliku. Beberapa saat kemudian, seringainya kembali lagi.

"Astaga, kukira kau si kunyuk Junaedi, hahaha...siapa namamu Bung? Kuliah di mana?"

Dia bercerita bahwa dirinya tidak kuliah, tetapi mempelajari ilmu hitam. Aku tidak bertanya lebih jauh. Aku tidak ingin menjadikan malam itu menjadi lebih buruk lagi, ternyata aku salah, esoknya kuketahui ia adalah kakak seniorku satu jurusan. Ujungnya jelas, aku menjadi bulan-bulanannya saat masa orientasi kampus yang membuatku ingin melarungnya sesegera mungkin ke Selokan Mataram. Aku tidak main-main. Dulu sekali aku pernah mempelajari ilmu beladiri tangan kosong. Meskipun sekarang aku tidak begitu mahir kecuali menyisakan kekosongan di kedua tangan.

***
Masih bakalan lanjut, ide mentok bosqueee.

24/09/17

Dua Puluh

Kecuali kamu memiliki cukup uang untuk membeli banyak buku dalam satu bukaan dompet ataupun satu gesekan kartu kredit, mencari referensi terlebih dahulu akan sangat membantu agar tidak kehilangan uang hanya untuk sebuah buku yang kualitasnya perlu dimintakan maaf pada pohon yang digunakan untuk mencetaknya.

Buku bagus, tidak melulu buku yang meraih penghargaan ataupun buku penulis kaliber besar. Akan tetapi, jika kamu menganggap karya Gabo, Hemmingway, Borges, Rulfo, Budi Darma, Dea Anugrah, ataupun Yusi Avianto bukan termasuk karya yang harus dibaca sebelum dunia dilanda kehancuran total, rasanya kamu perlu meracik jamu beras kencur dioplos rendaman cicak kemudian menyedotnya lewat lubang hidung sebelah kanan agar terhindar dari bahaya laten kominis, liberalis, dan JIL.

Selera, sama halnya dengan nalar bongkok anggota dewan, tidak dapat diperdebatkan. Buat apa membeli Das Kapital jika hanya dibuat instastory? Buat apa sok-sokan beli Di Bawah Bendera Revolusi kalau cuma buat tatakan laptop? Lebih sia-sia lagi, buat apa manggut-manggut membaca Kiat Sukses Hancur Lebur yang isinya terpampang nyata hanya dapat dipahami umat manusia yang lahir 36784 tahun lagi? Lagipula, gagasan bahwa membaca buku dapat melatih seseorang untuk berpikir runut, adalah gagasan paling menggelikan nomor dua di dunia. Nomor satu tentu saja, dunia utopis khayalan Marx beserta jemaahnya yang diam-diam, pelan, tapi pasti, memuja dan memeluk kapitalis dengan mesra.

Maka dari itu, meskipun diawali dengan pembukaan yang berbelit-belit oleh sebab harus memenuhi syarat dasar tulisan propaganda dari induk organisasi FreeMason, saya mau memberi tips membeli buku (khusunya buku cerita) agar anda tidak kecewa ketika membacanya.

Dua puluh halaman.

Kecuali buku penting seperti Panduan Ternak Lele ataupun seluruh karya Tere Liye, dua puluh halaman pertama sebuah buku harus sanggup membuat kamu tertarik. Kalau tidak begitu, sudah saja, kembalikan ke rak buku. Atau jika ingin lebih selektif, baca dua puluh kalimat pertama, jika tidak ada sebaris pun kalimat yang membuat Bung tertarik, ganti dengan buku yang lain.

Tentu saja tips ini tidak dikaji secara mendalam menggunakan metode-metode saintifik layaknya hal yang serius.

Lagipula, karya tulisan yang dibuat secara metodologis, dikemas dalam sastra, dan ditulis dengan penuh pertanggungjawaban ilmiah seperti Di Bawah Tiga Bendera, justru cenderung membosankan. Lebih mudah menonton film untuk menambah nasionalisme dan edukasi sejarah seperti G30SKPI agar terhindar dari bahaya laten kominis, liberalis, sekuler, dan kapitalis.

Ingat, Bung, begajulan boleh. Asal jangan begaJILan.

03/09/17

5 Biji Kopi

Panggil saja namanya Ron, seorang barista kopi yang membuka praktik di daerah selatan Jogja. Ia, seperti halnya seluruh penyaji kopi, baik hati dan senang sekali bercakap-cakap. Apalagi soal kopi dan segala tetek bengeknya. Selalu ada saja bahan pembicaraan keluar dari mulutnya yang sedikit monyong.

Kedai kopi miliknya tidak begitu besar. Cat dindingnya sewarna dengan kertas buku lama. Di dinding sebelah kiri, terpampang gambar Pram setengah badan sedang memegang gelas kopi dengan tulisan besar
"Ngopi sejak dalam pikiran" di bawahnya. Cat temboknya abu-abu kecoklatan. Entah bisikan setan macam apa yang dulu membujuknya agar dindingnya diwarna muram serupa ikan lele dan habitatnya.

Saat mendekati meja barista untuk memesan pertama kali, aku melihat Ron tersenyum ganjil. Betul betul ganjil kurasa melihat seorang pria tersenyum manis ke arahmu dan kamu menatap matanya agak lama tanpa merasa, tentu saja, ganjil.

"Ada kopi yang enak?" tanyaku.

Aku melihat senyum di wajahnya perlahan berubah menjadi tatapan seolah sedang berhadapan dengan makhluk paling tolol di muka bumi.

"Begini Bung, ada kopi Mandaling, Temanggung, Gayo, Kintamani, Lombok, Pasundan, pilih yg mana? Yang sedikit asam atau lebih strong? atau Bung lebih suka yang soft dengan gilingan halus? ada aroma fruity juga, ini pula ada kopi baru yg sedikit fluorist karena ditanam bersama bunga-bungaan."

Aku menatap keparat satu itu dengan pandangan antara bingung dan ingin menggampar mukanya. Peduli setan kopi itu dari daerah mana ataupun ditanam bersama pohon kecubung, aku cuma ingin minum kopi enak seperti digambarkan dalam sebuah buku yang kemarin baru saja kubaca.

"Gayo saja, Mas", kataku.

"Mau dibikin gimana nih?"

Taelaso, maunya apa orang ini. Aku datang ingin minum kopi malah ditanya bagaimana cara membuat kopinya.
Sambil menahan diri untuk tidak mengetapel ubun-ubunnya, aku menjawab

"Dikasih air panas aja, Mas, yang penting bisa diminum dan enak."

Ia tersenyum. Senyum mirip tukang MLM yang baru saja berhasil menipu seorang downline yang berharap menjadi milyarder dengan berbisnis minyak pembesar alat vital. Tapi aku tak mau ambil pusing lebih jauh.

Aku melihat-lihat tempat duduk yang masih kosong. Meja dekat pintu masuk ada seorang pria gondrong berkaos Megadeth sedang membaca buku. Mengingat senyum ganjil Ron ketika aku datang tadi, aku masih curiga bahwa lelaki itu adalah teman satu selera dengan Ron, aku mengurungkan niat untuk duduk di dekatnya.

Di pojok sebelah kiri belakang ada seorang laki-laki tambun bertampang mirip anggota DPR sedang ngobrol dengan dua orang gadis yang menggelayut di kiri-kanannya seperti kucing ingin menyusu induknya. Dua orang, Bung. Brengseknya pula, keduanya nyaris sama cantiknya.
Tapi kondisi itu masih dapat aku maklumi jika saja mulut si laki-laki tidak mengeluarkan lelucon yang bahkan lebih mengenaskan daripada puisi ketua dewan, kemudian puncaknya, kedua gadis tadi terbahak layaknya keledai seolah lelucon sekelas ras turunan lobak asam tadi tidak lebih mengganggu daripada janji beruk ketika kampanye pilkada.

Aku mengambil sikap untuk tidak duduk di dekatnya. Bahkan dari kejauhan, aku setengah mati menahan diri untuk tidak memadamkan bara rokok di pucuk kepalanya.

"Kopi ini Bung, arabica asli, berasal dari Gayo, sedikit flourish, ini coba kau rasakan".

Aku menoleh ke arah Ron, mengira kepalanya terganggu. Jika saja ia tidak menyodorkan lima biji kopi kepadaku, tentu kukira ia sedang berbicara dengan kompor dan saringan gula. Belakangan setelah berkawan dengannya, aku mengetahui bahwa ia benar-benar berbicara dengan kompor dan saringan gulan. Bahkan dengan seluruh alat baristanya. Kurasa kewarasannya ikut luntur seiring masa depannya yang ia gadaikan bertahun lalu ketika menggunakan uang kuliahnya untuk membuka kedai kopi miliknya sekarang.

Tenang, aku ambil lima biji kopi tersebut. Sambil berlagak serius aku mengamati biji kopi yang masing-masing sebesar ujung kuku kelingking di telapak tanganku. Aku menimbang-nimbang apa yang akan kulakukan ketika ia menyuruhku merasakan kopi ini. Kudekatkan hidung, tidak tercium bau istimewa seperti apapun. Aku menjepit satu dengan jempol dan jari telunjuk, keras, tentu saja. Ron masih saja tersenyum ganjil, kemudian berbalik karena teko di belakangnya menyiulkan tanda air telah mendidih.

Aku tahu beberapa saat lagi ia akan bernyanyi menjelaskan biji kopi tersebut padaku. Tapi kali itu, aku tidak mau kalah, aku harus terlihat pintar dengan menilai kopi ini seolah aku pun ahli perasa yang mumpuni. Terlebih, aku mulai terpancing amarah melihat ia memamerkan pengetahuannya padaku sejak tadi.

Karena tidak terpikir cara lain lagi untuk merasakan kopi ini, aku memasukkan lima-limanya ke mulutku.
Biadab, ternyata keras sekali, tentu saja tanpa berpikir lebih panjang, aku menelan biji kopi tersebut.

Penuh rasa percaya diri, aku berkata "Mantab sekali ini kau punya kopi, Bung! Cita rasa yg kaya, aromanya benar-benar terasa, sungguh kekayaan nusantara!"
Aku setengah berteriak ketika mengatakannya, setengahnya lagi berharap lima biji kopi utuh yang baru saja kutelan tidak tersangkut di batang tenggorokannku

Pelan, Ron membawa ketel berisi air panas, menuangkannya perlahan ke gelas berisi bubuk kopi yg tadi digilingnya.

"Luar biasa kamu Bung, aku baru ingin menggiling kopi di tanganmu itu agar kau bisa mencium aromanya, kemudian ini kopi yang kubikin baru bisa kau minum beberapa saat lagi agar dapat terasa aroma flourishnya, hebat sekali indera perasamu, kau seorang barista juga ya?"

Ron bertanya dengan antusias dan tatapannya berubah menjadi seolah baru saja bertemu dengan saudara seperguruan yang telah lama terpisah. Tapi memang benar, pertemuan itulah yang membuatku berkawan dengannya.

Hari itu pula, aku merasa menjadi makhluk paling tolol di jagad raya.

05/08/17

Iusmollo, Au Umnau Is Ko

Malam ini dingin, seperti suhu malam-malam biasa di Iusmollo. Kabut turun agak tebal, hujan gerimis masih menyisakan baunya, untung saja aku bukan tipe yang mudah terganggu karena dingin. Aku baru saja jalan-jalan malam bersama kawanku saat truk itu datang. Cahaya silau masuk ke pekarangan rumahku, mengalahkan cahaya purnama yang kala itu terang-terangnya.

Warga berkumpul di dekat rumahku, truk baru saja berhenti di samping pohon jeruk. Beberapa anak kecil ramai menyambut kedatangan orang-orang asing. Ugh, aku tidak terlalu menyukai keramaian. Tapi tunggu dulu, satu persatu orang asing itu turun dari truk. Mereka membawa tas banyak sekali. Wajah mereka terlihat bahagia dan antusias meskipun tidak mampu menyembunyikan kelelahan. Tapi yang membuatku tertarik adalah penampilan mereka yang berbeda, bukan Orang Timor sepertinya. Mereka lebih seperti orang-orang di televisi yang pernah kulihat sekilas di rumah Bapak BPD (jangan salah, walaupun di Iusmollo tidak ada listrik tetapi setiap ada acara tertentu kami bisa menyalakan genset dan televisi).
           
Itulah awal perjumpaanku dengan mereka, yang belakangan kuketahui adalah orang dari di negeri seberang lautan sana. Mereka berjumlah 26 orang, 14 perempuan dan sisanya laki-laki. Sejak malam itu aku selalu dekat dengan mereka. Aku sering mengikuti kegiatan mereka, melihat mereka --entah kenapa-- menakjubi hal-hal yang biasa dilakukan masyarakat di sini seperti memasak bersama menggunakan batu dan kayu, duduk menghabiskan sisa hari di Ome Kbubu (rumah bulat khas Timor) bersama-sama, bermain gitar hingga larut malam, melihat mereka pulang ke tempat menginap masing-masing, sampai setiap mereka makan pasti aku pun turut serta. Selanjutnya yang akan kuceritakan adalah kisah-kisah tentang mereka dan Iusmollo.
***
            
Aku tahu pagi itu mereka kebingungan, terlihat jelas dari wajah-wajah mereka. Ini hari kedua mereka di sini dan mereka sudah harus mulai memasak dan menyiapkan semuanya sendirian. Biasanya warga Iusmollo memasak jagung boshe untuk sarapan. Boshe ini merupakan nasi jagung yang disiram dengan kuah sayur daun labu (mereka biasa menyebutnya daun bulu). Kurasa, baru pertamakali mereka  menanak nasi menggunakan periuk dengan perapian dari batu dan kayu.

Pagi itu kulihat dua orang tengah memperdebatkan apa yang bisa dimasak untuk menu makan siang. Aku mengenali dua perempuan itu, yang satu bernama Alifa dan satunya lagi Kurama. Dari pembicaraan yang kudengarkan, mereka tengah bingung karena belum mempunyai bahan makanan selain beras. Padahal di Iusmollo tidak ada pasar. Pasar paling dekat berada di kota kecamatan Kapan (ini bukan pertanyaan, tapi benar nama kecamatan itu adalah Kecamatan Kapan) yang jarak tempuhnya satu jam dari Iusmollo dengan menggunakan Otto, itupun hanya ramai tiap Hari Kamis.

Ah, dasar orang-orang ini. Kami, warga Iusmollo, untuk makan sehari-hari tidak perlu pergi ke pasar. Makanan sudah tercukupi dari apa yang kami tanam, dari apa yang tumbuh di sekitar. Setiap tahun kami tidak pernah kekurangan jagung, hasil panen jagung kami simpan di langit-langit Ome Kbubu yang selanjutnya secara tidak langsung akan terkena asap dari perapian. Hal itulah yang membuat jagung tidak busuk walau disimpan berbulan-bulan.

Setelah perdebatan yang kulihat tidak ada hasilnya karena keduanya sama-sama tidak memiliki solusi yang tepat, akhirnya Delsi dan Vera (remaja perempuan asli Iusmollo) mengajak mereka dan pergi ke ladang. Aku mengikuti mereka dari belakang. Aku kembali heran, apa yang ada di negeri mereka? Setiap melihat tanaman yang menarik perhatian, mereka akan langsung berhenti, mengamati dengan wajah heran, kemudian berfoto, nyaris dengan segala macam tanaman. Mulai dari daun seledri, pohon jeruk, cabai-cabaian, tomat, mentimun, mereka tampak heran. Apa sih yang ada di negeri mereka sampai-sampai mereka tidak tahu hal-hal seperti itu? Sesampainya di ladang mereka memetik banyak sayuran. Daun singkong, daun bayam, cabai, tomat, bahkan kalau tidak diperingatkan Delsi dan Vera mungkin mereka bakalan memetik semak-semak yang mereka kira adalah sayuran.

Aku mendengar mereka bercerita, kalau di negeri mereka hidup tidak seperti ini. Segala sesuatu harus dibeli dengan uang. Apa yang akan kita makan besok sudah harus dipersiapkan biayanya hari ini. Ah, pusing sekali kukira. Kami  di Timor tidak seperti itu, kami makan dari yang tersedia di alam sekitar, kami mengambil seperlunya, dan menjaga yang tersisa.

Sepulang dari ladang mereka memasak bersama-sama. Menggunakan bumbu ajaib yang mereka sebut-sebut bernama Masako. Aku makin tidak paham lagi, mereka bingung melihat Mama dan Bapak di rumahku belum mau makan sebelum mereka semua selesai makan. Kawan, adat di negeri kami memang begitu. Kami harus menghormati tamu, setelah tamu selesai makan barulah kami bisa makan, memangnya kehidupan manusia di sana tidak ada adat yang seperti itu?
***

Kira-kira setelah seminggu mereka tinggal di sini, aku melihat mereka mulai mencari tempat untuk mencuci baju. Beberapa laki-laki sudah mandi dan mencuci di sungai. Sayangnya mereka mandi sampai lebih dari jam 17.00 WITA. Padahal di Iusmollo jam mandi di sungai yaitu jam 08.00–10.00 WITA di pagi hari dan jam 14.00–16.00 WITA di sore hari. Selain waktu-waktu itu amatlah tabu untuk bermain di sungai. Saat itu aku ingin menegur, tapi aku terlalu malu dan kurasa mereka tidak akan mengerti apapun yang kukatakan.

Aku suka menemani mereka saat akan mencuci baju ke sungai. Biasanya mereka membawa kresek berisi baju kotor dan sebungkus deterjen, tak lupa minuman dan makanan ringan. Mereka senang sekali menyanyi tidak jelas di jalan, maksudku mereka lebih mirip menggumam dengan nada naik turun.

Setelah menuruni jalanan yang penuh bebatuan dan rerumputan, tibalah mereka di tepi sungai. Biasanya mereka akan berebut memilih tempat yang paling tinggi. Lalu mulai mencuci (yang sebenarnya lebih mirip mencelupkan pakaian ke air sambil berharap kotoran akan pergi sendiri). Aku sering mengamati mereka dari tepi sungai, atau dari atas tebing. Aku tidak tahu bagaimana kehidupan mereka di sana, yang pasti baru sekali ini melihat manusia yang berbahagia sekali mencuci baju dengan air sungai, kukira mereka tidak tahu jika tempat yang mereka gunakan untuk mencuci terletak di bawah tempat warga biasa buang air. Tapi biarlah, aku tidak ingin merusak kebahagiaan mereka.

Suatu hari, saat sedang makan sore bersama di basecamp, aku mendengar Kurama sedang bercerita. Dia berkata kemarin baru saja mencuci di sungai. Bajunya baru saja kering dan ia angkat dari jemuran. Ia menceritakan ketika akan melipat celana kolornya, ada dua kecebong mati di sana. Semenjak itu aku melihat dia jarang sekali mencuci di sungai. Sampai sekarang aku masih sering berfikir, entah kejahatan macam apa yang dilakukan dua kecebong itu sehingga mendapat jatah kutukan dari langit semacam itu.                                            
***

Hari-hari terakhir sebelum kepulangan, mereka ini lebih giat berkunjung ke rumah-rumah warga. Aku sering mengikuti mereka dari belakang. Biasanya mereka akan mengobrol dengan tuan rumah, minum teh atau kopi atau tuak, makan sirih pinang, sambil disuguhkan jagung bunga. Melihat mereka dari luar, entah mengapa  membuatku senang. Ekspresi mereka tampak tulus dan bahagia, apalagi jika pulangnya dibawakan lemon manis, lemon cina dan papermust.

Selain itu, mereka juga gemar memesan kain tenun ke rumah warga, untuk oleh-oleh katanya. Di Iusmollo ini kain tenun mempunyai arti tersendiri. Kain tenun menjadi semacam ciri khas dari daerah kami. Setiap keluarga pasti mempunyai sarung dan selimut tenun yang jika dijual harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Pula, tidak sembarangan orang boleh dan bisa menenun. Di sini tabu bagi laki-laki untuk menenun. Sebaliknya, mama-mama di setiap rumah pasti bisa menenun. Adapun anak gadis dikatakan sudah siap menikah jika sudah mahir dalam menenun. Di Iusmollo, acara adat pernikahan haruslah memakai kain tenun dan dibuat sendiri oleh mempelai perempuan.
            
Ada bebarapa jenis kain tenun di Timor. Yang rumit jika motif menggunakan teknik ikat, untuk pengerjaan selendang kecil saja bisa memakan waktu seminggu dan rata-rata dihargai seratus ribu rupiah per buah tergantung tingkat kerumitan. Untuk selimut pengerjaannya bisa memakan waktu berbulan-bulan. Untuk acara-acara penting, khususnya acara adat, warga Timor memang biasa memakai kain tenun. Pada upacara pelepasan rombongan mereka kemarin, setiap anak diberikan satu selendang tenun oleh mama-mama. Aku mengamati mereka dari luar rumah. Aku tak tahu mereka menangis sedih karena berpisah atau menangis bahagia karena akan kembali ke kehidupan kota mereka. Tapi yang pasti, aku merasakan dari raut muka mereka, bahwa perpisahan itu membuat rasa tidak menyenangkan di rongga dada dan sekitar perut. Aku tidak menyukainya.
***
            
Masih banyak yang ingin aku sampaikan. Kamu pun tentunya tahu, yang paling menyebalkan dari kebersamaan adalah tak peduli seberapa erat kalian bersua, seberapa keras kalian berusaha membuatnya menyenangkan, pasti ia akan bermuara pada satu hal: Perpisahan. Hari itu Iusmollo sedikit mendung. Dari Bapak-Mama, anak-anak hingga Nenek dan Bai pagi itu datang ke rumahku. Diiringi lagu Timor mereka semua bersalaman dan berpelukan, hingga menangis tersedu-sedu. Kelak, jika negeri kalian sudah sedemikian membosankan dan membuat kalian muak menjalani hidup, datang lagi menebus rindu ke Iusmollo. Au umnau is ko! (Aku sayang padamu!).

Dari aku. Yang bertelinga dua, berkaki empat dan berbulu. Meows si anjing mama.
                                                                                               
***
 Cerpen ini disarikan dari laporan telik sandi agen rahasia Konoha dengan kode nama: Kurama. 

22/06/17

Rubono, Lebaran, dan Segala Hal di Dunianya yang Sederhana






Dari jalan raya yang menghubungkan semenanjung Gibraltar hingga teluk Benggala, terdapat kebun ganja yang mungkin tidak banyak orang yang mengenal pemiliknya. Kamu pun pasti tidak mengenalnya. Sama seperti kamu tidak begitu mengenal Rubono, seorang perjaka kawakan yang berprofesi sebagai petani dan merangkap sebagai satu-satunya pengurus masjid di kampung Alabama.

Suatu sore saya berkesempatan ngobrol dengannya ditemani segelas kopi dan pisang goreng di rumah yang ia tempati bersama mamaknya. Orang seperti Rubono ini adalah perwujudan dari orang kecil di antara orang kecil. Peran mereka tidak pernah dianggap signifikan dalam masyarakat. Mereka adalah orang yang dengan sadar diri memilih tempat terluar ketika pengajian, shalat di-shaf paling belakang meskipun datang lebih dahulu, naik mobil paling rombeng setiap kali mengiring keluarga tetangganya yang mengadakan pesta pernikahan, dan segala penerimaan hidup yang sebenarnya dia jalani biasa saja tanpa perlu banyak mendramatisir hal yang jika diributkan hanya membuat banyak permasalahan.
 
Tidak pernah ada yang istimewa dari kehidupannya yang lahir dari keluarga sangat sederhana. Pendidikan formal laki-laki berusia 48 tahun ini boleh dibilang kurang, ia hanya bersekolah sampai kelas 4 sekolah dasar. Sekalipun tidak terbilang berpendidikan, namun soal kegigihan dan keteguhan hati, Rubono termasuk manusia unggulan.

Sejak kecil, Rubono sudah diajak membantu ayahnya mengurus sawah yang luasnya tidak seberapa untuk menghidupi ia dan kedua adik perempuannya. Karena dirasa memiliki lebih banyak tenaga daripada sekedar bertani, ketika ia berumur 16 tahun, ia diajak pamannya berkelana ke rimba ibukota dengan iming-iming kehidupan yang lebih baik. 

Beragam profesi ia jalani. Mulai dari menjual balon, calo tiket, kuli angkut, kuli bangunan, maupun pedagang koran. Bahkan ia pernah tertipu bisnis mengelem teh maupun investasi bodong yang menguras tabungannya saat itu. Kemudian, pelan ia berbisik, takut terdengar mamaknya di dalam.

“Aku pernah jadi tukang copet, preman pasar, bajing loncat, bahkan terakhir menjadi germo di lokalisasi”, katanya pelan sambil tersenyum sedikit membanggakan diri.

Ia bercerita saat itu pendapatannya sangat mencukupi. Setiap kali mudik lebaran, ia selalu membawakan banyak oleh-oleh untuk orang tua dan kedua adik perempuannya. Baginya mudik lebaran adalah ritus sakral, bahkan lebih sakral daripada bulan puasa itu sendiri.

“Meskipun menjalani kehidupan gelap di ibukota, aku selalu ingat mamak sama bapak, ingat dan waspada jangan sampai mereka tahu yang kulakukan di sini”, katanya sambil terkekeh kemudian menundukkan kepala.

“Dulu waktu kubelikan televisi, mamak begitu bahagia, bahkan membuat tumpengan segala, hihihi..”, kenangnya. Aku sedikit merasa ia sedang berusaha menghibur diri.

Dengan penghasilan sebesar itu, aku lantas penasaran mengapa ia meninggalkan rimba ibukota.

“Waktu itu ada ‘pembersihan’, teman-temanku yang bertato dicatat, kemudian beberapa hari kemudian mereka hilang, tidak pernah kujumpai lagi”
Tanpa kuminta, ia mengangkat kaosnya untuk menunjukkan tato bergambar tawon di sebelah kanan udelnya. Aku menduga itu tawon, mendekati tawon paling tidak. Aku terlalu takut bakal ditempelengnya di tempat jika mengatakan tato itu lebih mirip borok di kulit yang nyaris sama hitam dengan warna tatonya.

Ia kemudian mempersilahkanku menyeruput kopi dan memakan pisang goreng yang disediakannya karena adzan sudah berkumandang, tanda buka puasa sudah tiba. 

“Ayo maghrib dulu, jamaah sama mamakku juga, ngobrolnya dilanjutkan nanti”

Aku mengiyakan ajakannya, padahal jika di rumah aku memilih mengisi perutku penuh-penuh terlebih dahulu. 

Selesai shalat, kami mengobrol lagi. Kali ini ia tampak murung. Ia bercerita ketika ayah dan kedua adiknya meninggal karena wabah demam berdarah di kampungnya.  Ketika ia pulang, hanya ibunya yang masih hidup. Sialnya lagi, Rubono malah ikut demam berhari-hari hingga dikira bakalan mati juga, untungnya tidak.

Sejak itu dirinya memutuskan tinggal di rumah saja menjaga emak sambil mengolah sawah warisan ayahnya. Saat-saat ramadhan begini adalah favoritnya. Ia merasa dapat menebus masa lalunya yang gelap dengan mengaji di masjid, ditemani emaknya pula. Karena itulah Rubono senang sekali ketika diberi mandat oleh pak RT untuk menjadi pengurus masjid. Dalam artian menyapu bagian dalam dan halaman, mengecek toa, membetulkan genteng yang bergeser, namun ia tidak pernah diperbolehkan adzan ataupun menjadi imam. Toh, ia tak pernah ambil pusing dengan hal itu karena merasa pengetahuan agamanya hanya pas-pasan semata. Mendekati lebaran, ia biasanya membelikan mamaknya baju baru dan sedikit cemilan untuk disajikan jika ada saudaranya yang datang bersilaturahmi.

“Mamak tidak pernah mau aku ajak ke toko lagi, kupikir karena ia kecapekan. Ya sudah aku sendiri yang ke toko memilihkan baju untuknya, untunglah ia tak pernah memprotes pilihanku, hahaha”, katanya dengan penuh kebahagiaan.

Kebetulan, malam itu adalah malam sebelum hari lebaran, takbir saling bertaut dari segala penjuru untuk meramaikan kedatangan hari lebaran. Ketika mengambil wudhu tadi, aku melewati kamar emaknya dan melihat jajaran kebaya masih berbungkus plastik dengan rapi, tidak pernah dibuka. Belum lagi beragam cemilan tersaji di meja ruang tamu, meskipun banyak lagi kulihat ada yang sedikit menjamur di dapur rumahnya. Aku melihat dari belakang punggungnya ketika ia tergopoh mengambil wudhu karena ternyata adzan Isya sudah berkumandang. 

“Ayo shalat di masjid, sekalian takbiran, sepertinya mamak sudah berangkat duluan, tidak kulihat lagi ia di dalam”, katanya.

Aku menemaninya menuju masjid sambil memikirkan kembali niatku sejak awal untuk mengajaknya menziarahi makam mamaknya yang meninggal bertahun-tahun lalu. Kuputuskan untuk mengurungkan niatku. Lagipula, siapa yang menyukai tragedi apalagi di hari lebaran ?

Malam itu, kukira gema takbir bersekutu membahagiakan Rubono dan segala hal di dunianya yang sederhana.
sumber gambar: https://www.bhagavadsambadha.com/foto?lightbox=dataItem-im1o981s1