Malam ini dingin, seperti suhu
malam-malam biasa di Iusmollo. Kabut turun agak tebal, hujan gerimis masih
menyisakan baunya, untung saja aku bukan tipe yang mudah terganggu karena dingin. Aku
baru saja jalan-jalan malam bersama kawanku saat truk itu datang. Cahaya silau
masuk ke pekarangan rumahku, mengalahkan cahaya purnama yang kala itu terang-terangnya.
Warga berkumpul di dekat rumahku,
truk baru saja berhenti di samping pohon jeruk. Beberapa anak kecil ramai
menyambut kedatangan orang-orang asing. Ugh, aku tidak terlalu menyukai
keramaian. Tapi tunggu dulu, satu persatu orang asing itu turun dari truk.
Mereka membawa tas banyak sekali. Wajah mereka terlihat bahagia dan antusias
meskipun tidak mampu menyembunyikan kelelahan. Tapi yang membuatku tertarik
adalah penampilan mereka yang berbeda, bukan Orang Timor sepertinya. Mereka
lebih seperti orang-orang di televisi yang pernah kulihat sekilas di rumah Bapak
BPD (jangan salah, walaupun di Iusmollo tidak ada listrik tetapi setiap ada
acara tertentu kami bisa menyalakan genset dan televisi).
Itulah awal perjumpaanku dengan
mereka, yang belakangan kuketahui adalah orang dari di negeri seberang lautan
sana. Mereka berjumlah 26 orang, 14 perempuan dan sisanya laki-laki. Sejak
malam itu aku selalu dekat dengan mereka. Aku sering mengikuti kegiatan mereka,
melihat mereka --entah kenapa-- menakjubi hal-hal yang biasa dilakukan
masyarakat di sini seperti memasak bersama menggunakan batu dan kayu, duduk
menghabiskan sisa hari di Ome Kbubu (rumah bulat khas Timor) bersama-sama,
bermain gitar hingga larut malam, melihat mereka pulang ke tempat menginap
masing-masing, sampai setiap mereka makan pasti aku pun turut serta.
Selanjutnya yang akan kuceritakan adalah kisah-kisah tentang mereka dan
Iusmollo.
***
Aku tahu pagi itu mereka
kebingungan, terlihat jelas dari wajah-wajah mereka. Ini hari kedua mereka di
sini dan mereka sudah harus mulai memasak dan menyiapkan semuanya sendirian. Biasanya
warga Iusmollo memasak jagung boshe untuk
sarapan. Boshe ini merupakan nasi jagung yang disiram dengan kuah sayur daun
labu (mereka biasa menyebutnya daun bulu). Kurasa, baru pertamakali mereka menanak nasi menggunakan periuk dengan
perapian dari batu dan kayu.
Pagi
itu kulihat dua orang tengah memperdebatkan apa yang bisa dimasak untuk menu
makan siang. Aku mengenali dua perempuan itu, yang satu bernama Alifa dan satunya
lagi Kurama. Dari pembicaraan yang kudengarkan, mereka tengah bingung karena
belum mempunyai bahan makanan selain beras. Padahal di Iusmollo tidak ada
pasar. Pasar paling dekat berada di kota kecamatan Kapan (ini bukan pertanyaan,
tapi benar nama kecamatan itu adalah Kecamatan Kapan) yang jarak tempuhnya satu
jam dari Iusmollo dengan menggunakan Otto, itupun hanya ramai tiap Hari Kamis.
Ah,
dasar orang-orang ini. Kami, warga Iusmollo, untuk makan sehari-hari tidak
perlu pergi ke pasar. Makanan sudah tercukupi dari apa yang kami tanam, dari
apa yang tumbuh di sekitar. Setiap tahun kami tidak pernah kekurangan jagung,
hasil panen jagung kami simpan di langit-langit Ome Kbubu yang selanjutnya
secara tidak langsung akan terkena asap dari perapian. Hal itulah yang membuat
jagung tidak busuk walau disimpan berbulan-bulan.
Setelah
perdebatan yang kulihat tidak ada hasilnya karena keduanya sama-sama tidak
memiliki solusi yang tepat, akhirnya Delsi dan Vera (remaja perempuan asli
Iusmollo) mengajak mereka dan pergi ke ladang. Aku mengikuti mereka dari
belakang. Aku kembali heran, apa yang ada di negeri mereka? Setiap melihat
tanaman yang menarik perhatian, mereka akan langsung berhenti, mengamati dengan
wajah heran, kemudian berfoto, nyaris dengan segala macam tanaman. Mulai dari
daun seledri, pohon jeruk, cabai-cabaian, tomat, mentimun, mereka tampak heran.
Apa sih yang ada di negeri mereka
sampai-sampai mereka tidak tahu hal-hal seperti itu? Sesampainya di ladang
mereka memetik banyak sayuran. Daun singkong, daun bayam, cabai, tomat, bahkan
kalau tidak diperingatkan Delsi dan Vera mungkin mereka bakalan memetik
semak-semak yang mereka kira adalah sayuran.
Aku
mendengar mereka bercerita, kalau di negeri mereka hidup tidak seperti ini.
Segala sesuatu harus dibeli dengan uang. Apa yang akan kita makan besok sudah
harus dipersiapkan biayanya hari ini. Ah, pusing sekali kukira. Kami di Timor tidak seperti itu, kami makan dari
yang tersedia di alam sekitar, kami mengambil seperlunya, dan menjaga yang
tersisa.
Sepulang
dari ladang mereka memasak bersama-sama. Menggunakan bumbu ajaib yang mereka sebut-sebut
bernama Masako. Aku makin tidak paham lagi, mereka bingung melihat Mama dan
Bapak di rumahku belum mau makan sebelum mereka semua selesai makan. Kawan,
adat di negeri kami memang begitu. Kami harus menghormati tamu, setelah tamu
selesai makan barulah kami bisa makan, memangnya kehidupan manusia di sana tidak
ada adat yang seperti itu?
***
Kira-kira setelah seminggu mereka
tinggal di sini, aku melihat mereka mulai mencari tempat untuk mencuci baju. Beberapa
laki-laki sudah mandi dan mencuci di sungai. Sayangnya mereka mandi sampai
lebih dari jam 17.00 WITA. Padahal di Iusmollo jam mandi di sungai yaitu jam
08.00–10.00 WITA di pagi hari dan jam 14.00–16.00 WITA di sore hari. Selain
waktu-waktu itu amatlah tabu untuk bermain di sungai. Saat itu aku ingin
menegur, tapi aku terlalu malu dan kurasa mereka tidak akan mengerti apapun yang
kukatakan.
Aku suka menemani mereka saat akan
mencuci baju ke sungai. Biasanya mereka membawa kresek berisi baju kotor dan
sebungkus deterjen, tak lupa minuman dan makanan ringan. Mereka senang sekali
menyanyi tidak jelas di jalan, maksudku mereka lebih mirip menggumam dengan
nada naik turun.
Setelah
menuruni jalanan yang penuh bebatuan dan rerumputan, tibalah mereka di tepi
sungai. Biasanya mereka akan berebut memilih tempat yang paling tinggi. Lalu
mulai mencuci (yang sebenarnya lebih mirip mencelupkan pakaian ke air sambil
berharap kotoran akan pergi sendiri). Aku sering mengamati mereka dari tepi
sungai, atau dari atas tebing. Aku tidak tahu bagaimana kehidupan mereka di
sana, yang pasti baru sekali ini melihat manusia yang berbahagia sekali mencuci
baju dengan air sungai, kukira mereka tidak tahu jika tempat yang mereka
gunakan untuk mencuci terletak di bawah tempat warga biasa buang air. Tapi
biarlah, aku tidak ingin merusak kebahagiaan mereka.
Suatu hari, saat sedang makan sore
bersama di basecamp, aku mendengar Kurama sedang bercerita. Dia berkata kemarin
baru saja mencuci di sungai. Bajunya baru saja kering dan ia angkat dari
jemuran. Ia menceritakan ketika akan melipat celana kolornya, ada dua kecebong
mati di sana. Semenjak itu aku melihat dia jarang sekali mencuci di sungai.
Sampai sekarang aku masih sering berfikir, entah kejahatan macam apa yang
dilakukan dua kecebong itu sehingga mendapat jatah kutukan dari langit semacam
itu.
***
Hari-hari terakhir sebelum
kepulangan, mereka ini lebih giat berkunjung ke rumah-rumah warga. Aku sering
mengikuti mereka dari belakang. Biasanya mereka akan mengobrol dengan tuan
rumah, minum teh atau kopi atau tuak, makan sirih pinang, sambil disuguhkan
jagung bunga. Melihat mereka dari luar, entah mengapa membuatku senang. Ekspresi mereka tampak tulus
dan bahagia, apalagi jika pulangnya dibawakan lemon manis, lemon cina dan papermust.
Selain itu, mereka juga gemar memesan
kain tenun ke rumah warga, untuk oleh-oleh katanya. Di Iusmollo ini kain tenun
mempunyai arti tersendiri. Kain tenun menjadi semacam ciri khas dari daerah
kami. Setiap keluarga pasti mempunyai sarung dan selimut tenun yang jika dijual
harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Pula, tidak sembarangan orang boleh dan
bisa menenun. Di sini tabu bagi laki-laki untuk menenun. Sebaliknya, mama-mama
di setiap rumah pasti bisa menenun. Adapun anak gadis dikatakan sudah siap
menikah jika sudah mahir dalam menenun. Di Iusmollo, acara adat pernikahan
haruslah memakai kain tenun dan dibuat sendiri oleh mempelai perempuan.
Ada bebarapa jenis kain tenun di
Timor. Yang rumit jika motif menggunakan teknik ikat, untuk pengerjaan
selendang kecil saja bisa memakan waktu seminggu dan rata-rata dihargai seratus
ribu rupiah per buah tergantung tingkat kerumitan. Untuk selimut pengerjaannya
bisa memakan waktu berbulan-bulan. Untuk acara-acara penting, khususnya acara
adat, warga Timor memang biasa memakai kain tenun. Pada upacara pelepasan rombongan
mereka kemarin, setiap anak diberikan satu selendang tenun oleh mama-mama. Aku
mengamati mereka dari luar rumah. Aku tak tahu mereka menangis sedih karena
berpisah atau menangis bahagia karena akan kembali ke kehidupan kota mereka. Tapi
yang pasti, aku merasakan dari raut muka mereka, bahwa perpisahan itu membuat
rasa tidak menyenangkan di rongga dada dan sekitar perut. Aku tidak menyukainya.
***
Masih banyak yang ingin aku
sampaikan. Kamu pun tentunya tahu, yang paling menyebalkan dari kebersamaan
adalah tak peduli seberapa erat kalian bersua, seberapa keras kalian berusaha
membuatnya menyenangkan, pasti ia akan bermuara pada satu hal: Perpisahan. Hari
itu Iusmollo sedikit mendung. Dari Bapak-Mama, anak-anak hingga Nenek dan Bai
pagi itu datang ke rumahku. Diiringi lagu Timor mereka semua bersalaman dan
berpelukan, hingga menangis tersedu-sedu. Kelak, jika negeri kalian sudah
sedemikian membosankan dan membuat kalian muak menjalani hidup, datang lagi
menebus rindu ke Iusmollo. Au umnau is ko!
(Aku sayang padamu!).
Dari
aku. Yang bertelinga dua, berkaki empat dan berbulu. Meows si anjing mama.
***
Cerpen ini disarikan dari laporan telik sandi agen rahasia Konoha dengan kode nama: Kurama.
Masi mikir di paragraf pertama, "untung saja aku bukan tipe yang mudah karena dingin". Ada kata yang terlewati?
BalasHapusAda 'terganggu' kak, makasih masukannya :)
Hapussepertinya saya kenal, yang menulis cerita di atas
BalasHapusTrima kasih untuk kk" yg sdh pernah turun ke desa Iusmollo dan dpt menilai keberadaan desa Iusmollo seprti apa yg kk ketahui kekurangan desa Iusmollo.
BalasHapusSalm dari desaku,
(Desa Iusmollo)🤝