19/02/18

Cerita dari Kafka dan Oedipus


Di ulang tahunnya yang ke 15, Kafka Tamura kabur dari rumah meninggalkan ayahnya demi satu tekad: menjadi pemuda paling tangguh sedunia. Ia berkelana dari satu tempat ke lainnya tanpa tujuan pasti. Bersama Gagak, alter-egonya sendiri, ia bertemu orang-orang dari berbagai latar peristiwa yang menjadikannya pria dewasa dan tangguh.

Di semesta yang lain, Oedipus kecil dibuang ayahnya sendiri yaitu si Raja Laius atas peringatan juru nujum bahwa bayi itu akan melakukan dosa terkutuk di kemudian hari: membunuh ayahnya kemudian menikahi ibunya. Di tempat pembuangannya nun jauh di kerajaan Corinthia, jerit sedih Oedipus menarik perhatian seorang gembala. Tak mampu merawat bayi tersebut, Oedipus kemudian diberikan pada raja Corinthia dan tumbuh besar menjadi pemuda cerdas nan tangguh.

Kemudian kita tahu dua kisah tadi berujung menepati kehendak langit. Seberapa jauh mereka pergi, persetan seberapa tangguh mereka berusaha menghindar, takdir selalu bisa menemukan jalan. Kafka secara tidak langsung terhubung dengan kematian ayahnya, sedangkan Oedipus membunuh seseorang dalam sebuah perkelahian yang ternyata ayahnya sendiri. Keduanya sama-sama menjadi pendosa dengan mengawini ibunya sendiri meskipun tanpa disadari. Saeki untuk Kafka, Iokasta untuk Oedipus. Mereka menjadi pendosa meski tak berniat melakukannya, meski sudah berusaha menghindari takdir sejauh mungkin. Keduanya tentu berhak merutuki takdir yang sedemikian keparat. Namun di sisi lain, mereka memiliki kemerdekaan untuk memilih jalan hidup selanjutnya meskipun sadar ujung nasib sudah ditentukan dari langit.
**
Fiksi selalu bisa memberikan kemerdekaan tafsir bagi pembacanya. Kerapkali keberanian dirujuk dari kisah-kisah yang melibatkan denting pedang, darah, dan teriakan. Jarang disadari bahwa keberanian tidak melulu pertarungan manusia melawan manusia, alam, atau para penguasa. Ia pun ada dalam pertarungan sehari-hari manusia melawan kehendak langit yang sudah ditentukan berbekal kemerdekaan menjejak jalan nasib yang ingin dijalani. 


Tidak pernah ada jalan nasib yang terlampau baik, sebagaimana pula tidak ada nasib yang kelewat buruk. Jikapun terpaksa melalu jalan yang buruk, tariklah nafas dalam-dalam, kepalkan tangan, naikkan dagu, kemudian berjalan lagi dengan badan tegak, dengan penuh kemerdekaan. 


Selamat ulang tahun.
Tetaplah tangguh dan berani.

05/02/18

Pak Tua dan Pantai


Tempik sorak memenuhi ruang ketika selesainya acara seremonial pemindahan seutas tali dari sisi kiri ke sisi kanan kepala. Gerumbul manusia berjubah dan topi hitam masing-masing memegang map tebal berwarna biru gelap. Sambil memandang sinis manusia yang berjejalan seperti ayam berebut bekatul, Antonio Boulevard memutuskan untuk keluar lebih akhir. Ia tidak begitu suka berdesakan, lagipula tidak ada seorangpun yang menunggunya di luar untuk berfoto, memberikan hadiah, atau sekedar mengucap selamat. Mungkin saja segelintir temannya ada yang menunggunya, sekedar untuk mengucap selamat, tapi Antonio tak pernah menganggap pertemanan dan segala tetek bengeknya adalah hal yang penting.

Di dalam auditorium yang mulai lengang, ia duduk sambil mengipasi diri menggunakan topi hitam segilimanya. Hal-hal yang akan ia rencanakan sudah berkelibat di dalam kepala. Ia sudah diterima bekerja di suatu perusahaan besar. Jika perhitungannya tak meleset, karir di perusahaan itu bakalan melejitkannya dalam takaran yang disebut orang kebanyakan sebagai sukses. Cukup sukses hingga mampu untuk menutup mulut orang-orang yang kerap meremehkannya sedari dulu.

Empati yang rendah berhasil ia tutupi dengan intelegensinya yang di atas rata-rata. Ia telah belajar mempelajari sikap-sikap manusia yang menunjang untuk kelancaran kariernya. Berpura-pura baik dan akrab itu ternyata tidak mudah, namun bukan mustahil untuk dipelajari. Hingga lambat laun pun ia terbiasa. Hanya butuh dua belas tahun baginya untuk mencapai posisi tinggi di perusahaan. Karena ia bukan keturunan pendiri perusahaanlah satu-satunya alasan mengapa ia tidak segera menggantikan tua bangka direktur perusahaan ini. 

Posisinya sebagai ahli membuatnya kini cukup bekerja sebagai konsultan. Kerjanya hanya memerintah dan bercuap-cuap pada bawahan. Bahkan, kini ia sering diundang untuk mengisi seminar tentang keahliannya. Hanya perlu membualkan beberapa kata sulit kemudian membumbui beberapa kisah inspiratif di depan banyak orang, kemudian orang-orang dungu itu akan terharu lalu membayar dengan uang yang sedemikian banyak. Ternyata, mereka hanya butuh kisah motivasional sebagai hiburan untuk kehidupan yang sedemikian membosankan. Setelah menonton, mereka akan pulang ke rumah lalu tidur lalu bangun lagi keesokan harinya dengan kebebalan, kebosanan, dan ketidak-pedulian yang sama. Setiap hari nyaris tanpa jeda.

Sebenarnya dari awal dengan sepenuh kesadaran, ia tahu bahwa selama ini berbohong, terutama pada dirinya sendiri. Namun apa lacur, orang-orang berkepala kopong itu suka dan mau membayar banyak untuk cerita bohong. Ketika ia membicarakan keahliannya, hanya beberapa orang yang sanggup mengerti. Tidak menarik tentu saja. Hal ini membuat honornya tidak sebanyak ketika ia lebih rajin menjual kebohongan.

Hingga ia tiba pada akhir. Di masa tuanya, duduk menikmati angin di halaman pondok yang menghadap laut sambil menenggak bir dingin. 

Sendirian.

Melamunkan segala kebohongan yang ia ciptakan untuk dirinya sendiri selama ini. Untunglah hidup selama ini baik-baik saja baginya, toh menjadi pembohong tidak pernah salah-salah amat, bukan?
Seperti pantai, ombak, dan matahari sewarna jeruk di ujung barat juga bukan sebenar-benarnya pantai. Masih ada kerikil, sampah plastik yang ditinggalkan wisatawan goblok, sisa botol miras, maupun ceceran plastik lentur di balik semak-semak yang seringkali menjadi saksi roman picisan. Dunia masih perlu hal-hal buruk untuk membuat beberapa hal menjadi baik. Masih akan ada sekian lagi penyesalan di kemudian hari yang harus dibunuh kemudian dibangkitkan lagi menjadi puisi dalam sunyi. Jangan sedih.

Merawat Asa di Rumah Baca Alam Kalijaga


Minggu pagi di dusun Nasri, Magelang terlihat sekelompok anak berkumpul. Ada yang mengisi polybag dengan pupuk dan sekam, ada yang secara estafet mengumpulkan polybag berisi tanaman tersebut di bawah pohon pisang yang banyak tumbuh di sekitar. Terlihat sibuk, tetapi lebih banyak tawa yang terjadi di antara mereka. Lain waktu, anak-anak belajar membuat bunga kertas, membuat tempat sampah, memberi nama pohon-pohon, maupun belajar teater. Mereka adalah bagian dari Rumah Baca Alam Kalijaga.



Ihsan, salah seorang penggagas RBAK memiliki kegelisihan dengan anak-anak kecil di lingkungannya yang mulai menunjukkan gejala apatis dan perkembangan yang kurang baik. Anak-anak lebih banyak berada di dalam rumah, sibuk dengan televisi dan gawainya. Hal-hal yang tidak baik untuk anak-anak seperti percintaan orang dewasa dan lagu berlirik seronok menjadi konsumsi anak-anak nyaris setiap hari. Berangkat dari hal tersebut, ia dan temannya yang bernama Yuan Arief kemudian berinisiatif menggunakan lahan bekas kebun salak sebagai lokasi anak-anak untuk belajar di luar ruangan.
Awalnya, beberapa warga meremehkan tindakan mereka. Mas Ihsan tidak begitu ingin menjelaskan tujuannya membersihkan lahan bekas kebun salak, ia ingin warga mengerti dengan sendiri seiring terwujudnya kegiatan di RBAK. Dibantu Mas Arief dan tiga orang lainnya, bangunan RBAK terbentuk. Dua gubuk beratap jerami dan asbes, meja dari papan bekas, kursi dari gelondongan kayu, dan tanaman yang ditata rapi di RBAK. Pelan tapi pasti, warga mulai memahami apa yang ingin dibuat Mas Ihsan dan kawan-kawan. Makin hari, kegiatan di RBAK makin bertambah. Ada kegiatan 20 menit membaca buku bersama, membaca puisi, membuat prakarya, outbond, bernyanyi, dan menanam buah maupun sayuran. Dengan kegiatan sebanyak itu, tentunya membutuhkan dana. Ketika kami menanyakan hal tersebut, Mas Ihsan menjawab:
“Kami mandiri mas, bener bener mandiri.  Kami tidak pernah mengemis-ngemis bantuan dari siapapun. Kami sendiri masih belajar, belajar untuk memerangi mental kere pada diri kami. Meski kami tidak punya apa apa, tapi kami malu jika harus meminta, mental kere, mental miskin harus kita perangi, perangi budaya instan, oleh karena itu yang ada di  Baca Alam Kalijaga ini sedikit sekali yang menggunakan dana, sedikit sekali kebutuhan yang membeli. Siapa yang ingin memberi silakan, tapi kami berusaha untuk tidak meminta.
Hambatan yang dihadapi RBAK sebagian berasal dari komentar masyarakat akan tempat ini. "Sinau kok neng kebonan, nek cokot ulo piye, nek ketibanan kelapa piye?", "Paling yo meng gawe kedok golek duwit". Hambatan lain adalah sumber buku anak anak masih minim, belum dapat akses, pendirian gazebo dan sarana penunjang membutuhkan biaya, tenaga dan pikiran khususnya gotong-royong masyarakat, dan juga lokasi yang masih terlalu kecil untuk tempat berkumpul anak-anak.

Suara-suara sumbang seperti itu sebenarnya tidak begitu berpengaruh. Karena niat baik tentu menemui hambatan, manusia hanya bisa berusaha sedapat-dapatnya, dan seringkali hambatan hanyalah perpanjangan tangan dari doa dan harapan. 
Di sini anak-anak disediakan bahan, diberi kemerdekaan untuk berkreasi, kemudian karyanya diapresiasi. Agar anak-anak ini menemukan dunianya, yaitu dunia tempat bermain, belajar, dan mengenal lingkungan. 
Tentunya ini baru menjadi awal perjalanan panjang Rumah Baca Alam Kalijaga. Masih banyak hambatan yang akan dihadapi, masih banyak kegiatan yang akan dilakukan. Belum lagi asa yang terus dipupuk agar RBAK dapat berpartisipasi lebih banyak dalam memajukan literasi dan kesejahteraaan masyarakat. Siapapun yang ingin ikut belajar dan berpartisipasi, bisa menghubungi Rumah Baca Alam Kalijaga di facebook atau akun instagram @rumah_baca_alam_kalijaga. Para pengelola menyadari, perlu tenaga dan semangat yang harus selalu dirawat setiap harinya untuk menjaga eksistensi RBAK agar bisa tetap tumbuh dan memberikan manfaat lebih banyak lagi bagi warga sekitar Dusun Nasri RT 12 RW 03 Sidogede, Grabag, Magelang. 


01/02/18

Satu Kencan dan Dua Botol Minuman Bergambar Orang Tua

Tokoh apapun yang berusaha tampil heroik, baik fiksi maupun kenyataan, selalu berhasil membuat saya terhibur. Bukan jenis hiburan menyenangkan seperti mencuri mangga sepulang sekolah. Namun lebih mirip melihat dua orang bodoh sedang berdebat, menyenangkan melihat mereka beradu kebodohan sambil berharap keduanya menutup kisah dengan baku bunuh sesegera mungkin agar tidak mengotori cerita.

Kali itu saya tidak bisa berharap cerita ini segera berakhir. Saya tidak sepenuhnya yakin menjadi bagian pihak bodoh. Pun, saat itu kami juga tidak sedang berdebat. Ia hanya menggumam menggunakan kata puitik yang terkesan dipaksakan, sedangkan saya hanya berlagak antusias mendengarkan bualannya.

Tapi sungguh sulit untuk tidak memperhatikan gerak mulut dan roman mukanya ketika bercerita. Ringkasnya begini: ia memiliki kecantikan yang sampai saat itu --sebelum kami pulang-- cukup untuk mentolerir segala omong kosong yang keluar dari mulutnya. Paling tidak saya sudah bisa membuktikan pada kawan bahwa saya berani mengencani seorang wanita. Meskipun kawan itu pula yang mengenalkan wanita ini pada saya.

Dua minggu lalu, seorang kawan menantang saya untuk berkencan dengan seorang wanita temannya yang baru saja putus dari pacar kedelapannya tahun ini. Jika saya berani dan kencan berjalan lancar, ia akan mentraktir saya dua botol minuman bergambar orang tua. Jika gagal, sayalah yang harus mentraktirnya.

Pada awalnya saya sedikit ragu, karena ini kencan pertama saya. Dari awal pindah ke kota ini, hubungan saya dengan lawan jenis hanya sebatas dengan tokoh-tokoh di film aduhai yang tidak banyak bicara kecuali bergumam sedikit-sedikit ketika berkonsentrasi melakukan adegan yang diperintahkan sutradara. Lagipula, selama ini polah petingkah kawan saya itu lebih menyerupai bromocorah meskipun ia saya anggap sebagai sehabat.

Malam itu, ternyata kecurigaan saya tidak terbukti. Saya berhadapan dengan wanita yang membuat yakin bahwa saya memiliki potensi sebagai pria tampan yang disukai wanita cantik. Senang, tentu saja. Bukan semata karena menang taruhan, tetapi lebih karena mendapati kenyataan ternyata wanita nyata bisa lebih menarik daripada dalam bentuk digital.

Semuanya bahkan berjalan lebih menyenangkan lagi malam itu. Ia terus saja menunjukkan sikapnya yang betah sekali ngomong sedangkan saya tak sedikitpun keberatan menanggapi sedikit sambil sesekali tersenyum agar terlihat memperhatikan omongannya.

Lambat laun ia balik bertanya tentang saya.
*
"Kalau kantongmu tidak begitu tebal, mukamu tak mendukung, pikat wanita dengan buku dan rayuan bermutu!" kata ketua organisasi saya ketika ia memberitahu cara memiliki banyak pacar. Saat itu saya hanya mengangguk berlagak peduli. Jelas bukan hal sulit mengatakan hal itu jika kamu memiliki posisi cukup tinggi di universitas dan memiliki cukup uang untuk mentraktir sekian ratus orang ketika pemilihan ketua organisasi.
*
Saya langsung terpikir dua pengarang yang terlintas pertama dalam kepala. Yaitu Murakami (baik Ryu maupun Haruki) dan Marquez. Saya bercerita dengan sedikit menggebu-gebu, ia tampak mengerutkan dahinya. Jelas malam itu menjadi lebih menyenangkan lagi karena mengetahui ternyata ia pun membaca Murakami dan Marquez. Meskipun tidak sampai selesai.

"Murakami mengingatkanku pada selera mereka pada tentakel, makhluk berlendir, dan seperangkat imaji yang sepenuhnya, menurut akal sehatku, sungguh-sungguh tidak bermoral dan tidak mendidik. Sedangkan untuk Marquez, narkoba apa sih yang dipakainya ketika menulis cerpennya itu?"

Kukira saat itu ia sedang memberi komentar satir sebagai pujian.

Namun, beberapa saat kemudian ketika ia berkata dengan heroisme berlebihan bahwa karya sastra berkelas dan terbaik yang pernah dibacanya adalah kisah tentang percintaan lelaki dewasa dengan gadis kecil. Aku berusaha mengingat-ingat kisah apa yang dimaksudnya.

"Sejak membaca karya sastra adiluhung seperti itu. Aku lalu mengikuti postingannya di media sosial, kutipan-kutipannya memberikan siraman rohani pada sanubariku tiap hari. Sungguh inspiratif!"

Secepat mungkin, setengah mati saya menahan hasrat untuk tidak membalok mulutnya yang mendadak terlihat monyong seperti baru saja tersengat tawon itu menggunakan buku tebal tentang panduan ternak musang yang saya harap sedang saya pegang.

Jelas kencan ini harus segera diakhiri secepatnya sebelum saya kehilangan akal sehat kemudian membanjur kepalanya dengan jus tomat. Saya segera berpura-pura sakit perut dan mengajaknya pulang. Di perjalanan, saya mengajaknya mampir ke penjual minuman bergambar orang tua, lalu membeli dua botol. Ia tampak tidak suka, selama sisa perjalanan ia habiskan dengan menasihati saya perihal omong kosong soal moral dan kisah fiksional heroik lainnya. Tapi siapa peduli.

Saya sendiri mengendarai motor dengan perasaan riang. Tidak begitu kecewa karena kencan malam ini berujung pada kegagalan. Saya kelewat antusias membayangkan kesenangan ketika membenturkan dua botol minuman bergambar orang tua ini ke sisi kiri dan kanan kepala kawan saya esok hari.