Tokoh apapun yang berusaha tampil heroik, baik fiksi maupun kenyataan, selalu berhasil membuat saya terhibur. Bukan jenis hiburan menyenangkan seperti mencuri mangga sepulang sekolah. Namun lebih mirip melihat dua orang bodoh sedang berdebat, menyenangkan melihat mereka beradu kebodohan sambil berharap keduanya menutup kisah dengan baku bunuh sesegera mungkin agar tidak mengotori cerita.
Kali itu saya tidak bisa berharap cerita ini segera berakhir. Saya tidak sepenuhnya yakin menjadi bagian pihak bodoh. Pun, saat itu kami juga tidak sedang berdebat. Ia hanya menggumam menggunakan kata puitik yang terkesan dipaksakan, sedangkan saya hanya berlagak antusias mendengarkan bualannya.
Tapi sungguh sulit untuk tidak memperhatikan gerak mulut dan roman mukanya ketika bercerita. Ringkasnya begini: ia memiliki kecantikan yang sampai saat itu --sebelum kami pulang-- cukup untuk mentolerir segala omong kosong yang keluar dari mulutnya. Paling tidak saya sudah bisa membuktikan pada kawan bahwa saya berani mengencani seorang wanita. Meskipun kawan itu pula yang mengenalkan wanita ini pada saya.
Dua minggu lalu, seorang kawan menantang saya untuk berkencan dengan seorang wanita temannya yang baru saja putus dari pacar kedelapannya tahun ini. Jika saya berani dan kencan berjalan lancar, ia akan mentraktir saya dua botol minuman bergambar orang tua. Jika gagal, sayalah yang harus mentraktirnya.
Pada awalnya saya sedikit ragu, karena ini kencan pertama saya. Dari awal pindah ke kota ini, hubungan saya dengan lawan jenis hanya sebatas dengan tokoh-tokoh di film aduhai yang tidak banyak bicara kecuali bergumam sedikit-sedikit ketika berkonsentrasi melakukan adegan yang diperintahkan sutradara. Lagipula, selama ini polah petingkah kawan saya itu lebih menyerupai bromocorah meskipun ia saya anggap sebagai sehabat.
Malam itu, ternyata kecurigaan saya tidak terbukti. Saya berhadapan dengan wanita yang membuat yakin bahwa saya memiliki potensi sebagai pria tampan yang disukai wanita cantik. Senang, tentu saja. Bukan semata karena menang taruhan, tetapi lebih karena mendapati kenyataan ternyata wanita nyata bisa lebih menarik daripada dalam bentuk digital.
Semuanya bahkan berjalan lebih menyenangkan lagi malam itu. Ia terus saja menunjukkan sikapnya yang betah sekali ngomong sedangkan saya tak sedikitpun keberatan menanggapi sedikit sambil sesekali tersenyum agar terlihat memperhatikan omongannya.
Lambat laun ia balik bertanya tentang saya.
*
"Kalau kantongmu tidak begitu tebal, mukamu tak mendukung, pikat wanita dengan buku dan rayuan bermutu!" kata ketua organisasi saya ketika ia memberitahu cara memiliki banyak pacar. Saat itu saya hanya mengangguk berlagak peduli. Jelas bukan hal sulit mengatakan hal itu jika kamu memiliki posisi cukup tinggi di universitas dan memiliki cukup uang untuk mentraktir sekian ratus orang ketika pemilihan ketua organisasi.
*
Saya langsung terpikir dua pengarang yang terlintas pertama dalam kepala. Yaitu Murakami (baik Ryu maupun Haruki) dan Marquez. Saya bercerita dengan sedikit menggebu-gebu, ia tampak mengerutkan dahinya. Jelas malam itu menjadi lebih menyenangkan lagi karena mengetahui ternyata ia pun membaca Murakami dan Marquez. Meskipun tidak sampai selesai.
"Murakami mengingatkanku pada selera mereka pada tentakel, makhluk berlendir, dan seperangkat imaji yang sepenuhnya, menurut akal sehatku, sungguh-sungguh tidak bermoral dan tidak mendidik. Sedangkan untuk Marquez, narkoba apa sih yang dipakainya ketika menulis cerpennya itu?"
Kukira saat itu ia sedang memberi komentar satir sebagai pujian.
Namun, beberapa saat kemudian ketika ia berkata dengan heroisme berlebihan bahwa karya sastra berkelas dan terbaik yang pernah dibacanya adalah kisah tentang percintaan lelaki dewasa dengan gadis kecil. Aku berusaha mengingat-ingat kisah apa yang dimaksudnya.
"Sejak membaca karya sastra adiluhung seperti itu. Aku lalu mengikuti postingannya di media sosial, kutipan-kutipannya memberikan siraman rohani pada sanubariku tiap hari. Sungguh inspiratif!"
Secepat mungkin, setengah mati saya menahan hasrat untuk tidak membalok mulutnya yang mendadak terlihat monyong seperti baru saja tersengat tawon itu menggunakan buku tebal tentang panduan ternak musang yang saya harap sedang saya pegang.
Jelas kencan ini harus segera diakhiri secepatnya sebelum saya kehilangan akal sehat kemudian membanjur kepalanya dengan jus tomat. Saya segera berpura-pura sakit perut dan mengajaknya pulang. Di perjalanan, saya mengajaknya mampir ke penjual minuman bergambar orang tua, lalu membeli dua botol. Ia tampak tidak suka, selama sisa perjalanan ia habiskan dengan menasihati saya perihal omong kosong soal moral dan kisah fiksional heroik lainnya. Tapi siapa peduli.
Saya sendiri mengendarai motor dengan perasaan riang. Tidak begitu kecewa karena kencan malam ini berujung pada kegagalan. Saya kelewat antusias membayangkan kesenangan ketika membenturkan dua botol minuman bergambar orang tua ini ke sisi kiri dan kanan kepala kawan saya esok hari.