Nama Buendia adalah perwujudan kesunyian. Jose Arcadio Buendia dan seluruh keturunannya hidup lalu musnah bersama kota bernama Macondo.
Ketika berkelana mencari daerah baru, Jose Arcadio Buendia menemukan daerah berawa-rawa yang dikelilingi perairan. Daerah itulah yang seiring waktu menjadi kota bernama Macondo.
Bertahun kemudian, jalan menuju tempat lain hilang. Macondo berdiri dan tumbuh tanpa hubungan dengan penduduk kota lain. Hanya gerombolan gipsi yang dapat datang ke Macondo dan berhubungan dengan penduduk. Rombongan itu dipimpin oleh gipsi ajaib bernama Malquiades.
Dia menunjukkan berbagai keajaiban pengetahuan dunia luar. Magnet, es, gigi palsu, dan manuskrip ajaib yang konon hanya dapat dibaca setelah seratus tahun. Pengetahuan yang memantik rasa ingin tahu itu ternyata malah jadi tulah bagi lelaki Buendia. Jose Arcadio Buendia yang pertama menerimanya. Ia dipantik rasa penasaran, begitu terobsesi dengan apa-apa yang ada dalam ruangan milik Malquiades di Macondo. Waktu ia habiskan untuk melakukan pelbagai percobaan yang tidak lebih dari hal-hal tak berguna untuk memuaskan rasa penasarannya semata. Lambat laun, obsesi itu membuatnya gila dan harus diikat di sebatang pohon hingga kematian menyambangi.
Tulah itu menurun ke keturunannya. Kolonel Aureliano Buendia bertingkah berlagak sedemikian heroik dengan memimpin pasukan. Terlibat dalam 32 pertarungan dengan banyak sekali korban jiwa, ia tak pernah memenangkan satupun. Lebih buruk dari itu, ia tak pernah menjumpai kematian, bahkan dengan cara bunuh diri sekalipun. Sisa hidupnya ia habiskan dalam kesunyian, memeluk rasa bersalah, dan menjadi pecundang yang gemar menghabiskan waktu dalam ruangan Malquiades hanya untuk membuat mainan dari ikan berbahan dasar emas. Makin tidak berguna ketika ikan emas yang telah jadi itu ia lebur kembali, kemudian ia buat lagi jadi ikan, begitu terus berputar dalam ketidakbergunaan. Belum lagi manuskrip dari Malquiades yang menyiksanya dengan rasa penasaran.
Kesunyian dan kesia-siaan jadi karib bagi keluarga Buendia. Waktu berjalan, wabah insomnia menerpa Macondo, pembantaian terjadi, peperangan membuat nyawa tujuh belas anak Kolonel Aureliano Buendia dihabisi, Malquiades mati lalu hidup lagi, Macondo ditimpa hujan selama 4 tahun 11 bulan dan 2 hari. Keturunan Jose Arcadio Buendia terus mengulang nama dalam keluarga mereka, begitu juga teluh dan kutuk yang menimpa.
Syak wasangka itu tentu timbul: mengapa keluarga Buendia menerima kutuk yang sedemikian buruk?
Sebelum menjelajah dan menemukan Macondo, Jose Arcadio Buendia dan Ursula Iguaran berkelana mencari tempat tinggal baru. Mereka adalah saudara yang terlibat dalam hubungan selibat. Terlanjur menikah, Ursula justru takut berhubungan badan karena dibayangi kecemasan bakal melahirkan anak berekor babi hasil hubungannya dengan Jose Arcadio Buendia. Awalnya hubungan mereka baik-baik saja, lalu datanglah Prudencio Aguilar. Bermulut ringan dan lidah lentur, ia mengolok kejantanan Jose Arcadio Buendia. Dibakar kemarahan, Jose Arcadio Buendia membunuhnya untuk menyelesaikan masalahnya. Sayangnya, sifat menyebalkan Prudencio tampaknya dikehendaki langit: ia bangkit menjadi hantu dan merundung Jose Arcadio Buendia dan Ursula hingga keduanya harus pindah dari tempat tinggalnya saat itu.
Macondo dan Buendia kian suram. Keduanya melulu dirundung kesunyian. Ursula pun dikutuk hidup selama lebih dari seratus tahun untuk menyaksikan Macondo dan keturunannya berlumur darah, kesepian, dan kesia-siaan. Sampai akhirnya ia mati di usia -–yang diperkirakan — berada di rentang antara seratus lima belas dan seratus dua puluh tahun.
Rentang hidup selama itu ternyata tak menghapus kutuk dalam keluarga Buendia. Amaranta Ursula, garis kelima keluarga Buendia mati dua puluh empat jam setelah melahirkan Aureliano yang menjadi Buendia terakhir. Aureliano memiliki ekor babi, seperti ketakutan yang menghantui Ursula Iguaran sejak dahulu. Bukan hal yang menyalahi takdir, karena ayah dari si bayi Aureliano yang juga bernama Aureliano adalah keponakan dari Amaranta Ursula sendiri.
Ketika rasa sakitnya sedemikian perih, Aureliano masih harus menyaksikan sendiri mayat bayinya dibawa rombongan semut ke lubang sarangnya.
Aureliano tak beranjak melihatnya.
Bukan karena teror, tetapi detik itu ia menyadari kunci terakhir untuk membaca manuskrip rahasia milik Melquiades yang kalimatnya disandikan. Dia kemudian masuk ke ruang Melquiades, memaku daun pintu dan jendela, menatap salah satu kalimat di perkamen itu lebih jelas daripada apapun yang pernah dilihatnya.
“…keturunan pertama diikatkan pada pohon dan yang terakhir dimakan semut-semut..”
Selama ini, Malquiades menulisnya dalam episode-episode dan kesejajaran waktu yang sama. Didera rasa penasaran yang terjawab, Aureliano membacanya keras-keras. Di kalimat pertama tertulis.
“Bertahun-tahun kemudian, saat ia menghadapi regu tembak,….”
Sebelum sampai di kalimat terakhir, ketika membacanya dengan semangat, Aureliano menyadari bahwa Macondo, Buendia, dan kesunyian adalah kutuk dan teluh yang telah lama ditentukan sedari awal.
Risalah yang menarik tentang buku ini.... semoga terus menulis... Saya ingin berbagi wawancara dengan Gabriel Garcia Marquez (imajiner) artikel di http://stenote-berkata.blogspot.hk/2017/09/wawancara-dengan-gabriel.html
BalasHapus