05/12/18

Meraba Kolong Langit

Temanku Rocky, kujumpai dalam kondisi yang jauh berbeda dibandingkan ketika SMA dulu. Wajahnya lebih tegas, meskipun ekspresi kriminalnya masih ada, tapi lebih menunjukkan raut muka menyebalkan tipikal orang yang hobi menasehati.

"Lama tidak bertemu, apa kabar? Dan mengapa kau ada di sini? Kenapa kau minum itu...? Astaga... Apakah kau tidak tahu...?"

Kalimat selanjutnya tak kuingat lagi, waktu itu raut mukanya seperti kakak senior berlagak wibawa di hadapan adik kelasnya. Jika ia menceramahiku seputar agama, aku akan segera tahu ia beromong-kosong. Rocky dulu memang kawan yang baik, tapi melanggar perintah agama (jika ia memang memeluk salah satu agama resmi di negara ini) bukan jadi keraguan baginya.

Pernah dulu sepulang sekolah ia menawariku minuman dalam sebuah botol yang dibungkus kresek hitam.

"Cobalah kawan, niscaya semua masalahmu, tidak akan hilang, tapi kamu akan lebih kuat menjalaninya, tidak perlu mudah marah seperti itu" ucapnya seperti para penjual mimpi kosong di televisi.

Aku menolak, bukan karena alasan religius atau apa, semata-mata aku tahu kebiasaan dan rasa ingin tahunya pada racikan berbagai macam cairan. Rocky bukan siswa yang pintar, tapi punya rasa ingin tahu dan kreativitas yang sama tinggi dengan kebodohannya. Ketika manusia normal berakal sehat lebih bermoral menggunakan mencit, kelinci, atau hewan lucu lainnya sebagai bahan percobaan, Rocky justru menggunakan tubuhnya sebagai bahan percobaan minuman racikannya. Kadang berhasil, namun lebih sering ia muntah-muntah dan menyusahkan orang lain.

Pernah ia saking mabuknya, mengira kolam ikan di halaman sekolah adalah bak mandi, ia pun mandi di sana dan menganggap ikan nila berwarna kuning dan kemerahan adalah sabun. Guru BP yang melihatnya sampai menangis, Pak Marjan, si plokis moral yang biasanya hobi sekali beromong bijak sampai tak tahu lagi harus berbuat apa. Para siswa menonton dengan antusias, menunggu aksi teatrikal lain yang bakalan terjadi.

Aku tahu Pak Marjan membayangkan sekian cara penyiksaan untuk Rocky, tapi waktu itu ramai sekali, dan risiko bakalan ada yang merekam aksinya ketika  -misalnya- merajam Rocky, jadi ia mengurungkan niat. Lagipula, buat apa mengambil risiko untuk memperbaiki moral seorang yang kemungkinan besar bakalan berakhir di penjara dalam waktu selambatnya 2-3 tahun lagi?

Boleh dibilang beruntung atau tidak, Rocky yang kala itu mengobok kolam dengan antusias, justru terpeleset dan tercemplung dalam kolam. Tidak dalam memang, tapi karena selera estetika tukang kebun yang memberi ikan di kolam itu kelewat buruk, kolam itu diberi beberapa ikan lele berwarna kusam.

Geram karena diganggu, para ikan lele dengan beringas menyabet Rocky dengan patil, terutama pada bagian tubuh yang lunak. Rocky seketika itu melolong dan kemungkinan besar langsung tersadar dari mabuknya. Seisi sekolah tertawa, tempik sorak membahana, para guru memandang dengan takjub, sedangkan kepala sekolah menunjukkan raut muka menyesal ditempatkan di sekolah kami.

Meski pandir sejak dalam pikiran dan kerap melakukan kebodohan kolosal, Rocky adalah kawan yang baik, pula terkenal, meski bukan karena alasan yang patut dibanggakan. Resep minumannya menjadi warisan turun-temurun di SMA kami. Bahkan terakhir kudengar dari adik tingkatku yang berjarak 15 tahun, belum ada yang menandingi racikan "Meraba Kolong Langit" karya Rocky.

"Setidaknya aku meninggalkan kenangan, bukan kayak kamu yg luntang-luntung sekadar lewat, hahahaha!" ucap Rocky dengan penuh kebanggaan.

Aku memberikan raut muka kagum, buat apa pula mendebat kebanggaannya, toh pecundang seperti dia layak dapat pujian, sekalipun dari dirinya sendiri. Buat apa jadi terkenal jika hanya di antara pecundang, para bandit semenjana yang menganggap keliaran adalah penanda hidup yang keren.

Aku sering bersama mereka, meskipun bukan bagian dari mereka. Kehidupanku tertata, aku tak punya cukup masalah untuk kulupakan dengan racikan berbagai macam cairan. Lagipula untuk apa iri dengan mereka yang tertawa-tawa bebas padahal sedang menyia-nyiakan masa muda? Tapi entah mengapa, aku kadang iri dengan mereka. Dengan kegembiraan meluap-luap dan hal-hal tak kupahami yang mereka tertawakan.

"Sampai jumpa kawan, kalau kau butuh bantuan apapun, jangan lupa telepon aku" ucapnya ketika berangkat ke pelabuhan.

Selepas SMA, dia akan bekerja di sana. Aku memaklumi pilihan itu, kecerdasannya terlampau rendah untuk diterima kuliah di manapun. Bahkan jika ia melamar kampus abal-abal, besar kemungkinan ia bakalan tertipu terlebih dahulu sebelum menyadari ulahnya sia-sia dan menyadari tidak ada gunanya ijazah palsu bagi pengangguran. Isi kepalanya lebih cocok digunakan bekerja kasar, bakatnya meracik ramuan mungkin pula akan berguna sebagai cara mendapatkan uang tanpa menjadi pelaku kriminal.

Maka ketika malam itu Rocky menyeruak masuk membawa pentungan bersama kawan-kawannya, menggunakan baju yang kontras sekali dengan suasana temaram dan musik disko, aku terkaget bahwa si brengsek tukang onar itu adalah Rocky, temanku sendiri.

"Kabarku baik, dan seperti ujarmu dulu, aku minum agar lebih kuat menghadapi masalah" kataku.

Tiba-tiba aku teringat hari-hari menyenangkan itu. Hari ketika Rocky adalah kawan yang menyenangkan bagi banyak orang. Terutama bagiku yang merasa, mungkin Rocky adalah satu-satunya kawanku dahulu.

Terakhir kuingat, dengan tekad mantab, malam itu untuk pertama kalinya sepanjang pertemanan kami, aku berbagi minuman dengan Rocky, sebagai kawan lama.

Kali ini masalahku adalah Rocky sendiri. Kali ini dengan tekad untuk memastikan dia benar-benar sampai di langit tanpa perlu meraba-raba kolongnya. Kali ini dengan cairan tanpa racikan apapun kecuali botol yang kusarangkan sekaligus ke batok kepalanya.

04/12/18

Sapiens, Hari Ini dan Masa Lalu Umat Manusia




“Stories are tools. Human think in stories. We are storytelling animal. We don’t think in facts, we don’t think in statistics, we don’t think in equations, we think in stories.
So, if u want to organize people together, if you want to have effective society, you need to tell people a story that they can grasp easily and identify with. The story doesn’t need to be true. It needs to be effective.
Throughout history you have this big debate, that all scholars in all civilizations had to confront: whether your aim is the truth or whether your aim is social cohesion and social harmony. Almost all the powerfull, successful scholarly establishments reached the conclusion that social harmony is much more important than truth. The real problem begin when people forget. When people lose the ability to tell the difference between the stories that we invent as tools and the reality”-NYTimes at #TimesTalk


Saya melihat sampul buku Sapiens berlintasan di lini masa instagram, tapi baru membelinya setelah beberapa buku cerita dalam daftar antrian. Pasalnya, saya kadang ragu membaca buku non-fiksi. Dulu, ketika SMP, saya pernah membaca buku karya Harun Yahya. Saya kira bagus, baru di kemudian hari saya ketahui bahwa Harun Yahya adalah olok-olok besar bagi sains itu sendiri.

Noval Yuah Harari adalah seorang pengajar di Universitas Ibrani Yerusalem. Bukunya telah diterbitkan ke 20 bahasa yang berbeda. Lewat profil, apalagi kehidupan pribadinya, nyaris tidak mungkin mengharapkan kehadiran Harari di Indonesia. Jika menginjakkan kaki di sini, dia punya segala hal untuk jadi buruan unta khatulistiwa yang meskipun berotak kecil, tapi jumlahnya lumayan. Untungnya, Google dan Youtube memfasilitasi untuk menampilkan kuliah dari Harari, meskipun hanya beberapa.

Pada dasarnya buku ini membahas perkembangan manusia. Sapiens membahas manusia pada awal mula hingga hari ini. Sapiens pada awalnya merupakan kumpulan materi kuliah Harari di negara tempat Gunung Scopus berada yang dirangkum dalam buku berjudul Kitzur Toldot Ha’enoshut. Buku ini kemudian diterjemah dan diterbitkan pada tahun 2014 dengan judulnya seperti sekarang.

Harari membuka dengan menunjukkan sejarah awal manusia yang masih setara binatang lain. Manusia kemudian mengembangkan kesadarannya seiring perkembangan otaknya. Hal terbesar yang membedakan manusia, sekaligus membuat manusia jauh melampaui spesies lain adalah kemampuannya membentuk fiksi bersama.

Fiksi bersama ini memberikan manusia kemampuan untuk bekerja sama secara masif, sistematis, dan terstruktur. Hewan lain seperti simpanse, semut, dan lebah juga bisa bekerja sama, namun mereka tidak akan mampu melakukannya secakap manusia. Alasan itulah yang menjadikan manusia (Sapiens) menjadi makhluk unggulan penguasa dunia, sedangkan hewan lainnya menjadi santapan, tontonan, dan hal lain demi manfaat bagi Sapiens.

Harari menjelaskan dengan analogi yang ringan dan mudah diingat. Belum lagi anekdot dan lelucon yang dia selipkan di mana-mana. Kemudian, Harari memaparkan perkembangan umat manusia setelah melebihi hewan. Persatuan sangat penting untuk kemajuan manusia. Baik dicapai dengan membentuk Imperium, Agama, atau bahkan kedua-duanya.

Manusia dengan mudah memahami bahwa orang-orang primitif mengikat tatanan sosial dengan mempercayai hantu dan arwah, dan berkumpul setiap purnama untuk menari bersama di sekitar api unggun. Yang gagal kita pahami adalah bahwa lembaga-lembaga modern kita berfungsi dengan dasar yang tepat sama. Ambil contoh dunia korporasi bisnis. Pebisnis dan pengacara modern adalah, sebenaranya tukang sihir yang digdaya. Perbedaan mendasar antara mereka dan dukun suku adalah bahwa pengacara modern menuturkan kisah-kisah yang jauh lebih aneh


Ketika membahas budaya, saya tertarik pada paradigma kebudayaan tiap bangsa. Kerap kita jumpai bahwa kebudayaan tiap bangsa maju selalu digambarkan adiluhung. Seolah kepercayaan, nilai, dan norma di dalamnya dapat membuat bangsa itu mempertahankan kedigdayaannya.

Padahal tidak.

Kebudayaan memiliki nilai-nilai yang khas, namun pada praktiknya semua itu harus berubah dan menyesuaikan dengan perkembangan umat manusia. Tidak seperti hukum fisika yang konsisten –setidaknya di bumi-, setiap kebudayaan dipengaruhi kontradiksi baik internal maupun eksternal. Kebudayaan selalu berusaha mendamaikan kontradiksi-kontradiksi itu yang kemudian mendorong perubahan pada kepercayaan, nilai, dan norma di dalamnya sambil berusaha mempertahankan nilai fundamentalnya.

Proses sejarah dan penanda hagemoni Sapiens selanjutnya adalah Revolusi Sains. Manusia dapat memperoleh kemampuan signifikan di bidang medis, militer, dan teknologi. Revolusi ini dapat dicapai dengan penguatan di bidang Sains, Politik, dan Ekonomi.

Tatanan umat manusia diatur oleh politikus, tatanan yang maju menghasilkan kehidupan yang kondusif dan bergeraknya roda ekonomi, sumber daya ekonomi ini kemudian menggerakkan dana penelitian untuk kemajuan sains itu sendiri. Ketiganya berhubungan erat dalam meningkatkan derajat kehidupan umat manusia.

Di bidang ekonomi, Harari dengan ringan dan sederhana menggambarkan sistem ekonomi umat manusia. Perkembangan ekonomi ini mendorong manusia mencapai hal-hal yang bagi masyarakat zaman dahulu merupakan dongeng. Ada mobil, pesawat, gedung pencakar langit, komputer, gawai, dan banyak lagi. Diterangkan pula risiko besar dan keburukan perkembangan ini. Di mana peran industri dan raksasa kapitalis mengeruk kekayaan dunia dan menyisakan beberapa untuk banyak kelas menengah ke bawah.

Setelah memaparkan banyak hal tentang manusia, budaya, dan perkembangannya di dunia, di akhir buku Harari mengajak untuk berpikir ulang: “Apakah dengan ini manusia bahagia?” Mungkin hari ini umur manusia semakin tinggi, sanitasi membaik, wabah berkurang, pangan cukup (di beberapa negara), namun apakah manusia menjadi bahagia?

Setelah semua pencapaian menakjubkan, Sapiens tetap belum sepenuhnya yakin tujuan semua itu, tetap saja belum puas, dan ketidakpuasan itu membawa kerusakan pada makhluk hidup lain dan bumi tempat mereka hidup. Apakah ada yang lebih berbahaya daripada dewa-dewi yang tidak puas, tidak bertanggung jawab, dan tidak mengetahui apa yang diinginkan?

Hari ini, kebudayaan manusia yang teramat maju dan menjadikan manusia layaknya dewa-dewi, atau tepatnya diktator yang merasa memiliki kuasa di atas mahkluk hidup lain. Kesadaran itu membawa ingatan saya pada salah satu adegan di filem Transcende yang dibintangi Johny Deep

“Profesor, so you want to create a God? Your God?”

“Isn’t that what human has always done?”

Selamat membaca!


29/07/18

Macondo, Buendia, dan 100 Tahun Kesunyian

Nama Buendia adalah perwujudan kesunyian. Jose Arcadio Buendia dan seluruh keturunannya hidup lalu musnah bersama kota bernama Macondo.

Ketika berkelana mencari daerah baru, Jose Arcadio Buendia menemukan daerah berawa-rawa yang dikelilingi perairan. Daerah itulah yang seiring waktu menjadi kota bernama Macondo.

Bertahun kemudian, jalan menuju tempat lain hilang. Macondo berdiri dan tumbuh tanpa hubungan dengan penduduk kota lain. Hanya gerombolan gipsi yang dapat datang ke Macondo dan berhubungan dengan penduduk. Rombongan itu dipimpin oleh gipsi ajaib bernama Malquiades.

Dia menunjukkan berbagai keajaiban pengetahuan dunia luar. Magnet, es, gigi palsu, dan manuskrip ajaib yang konon hanya dapat dibaca setelah seratus tahun. Pengetahuan yang memantik rasa ingin tahu itu ternyata malah jadi tulah bagi lelaki Buendia. Jose Arcadio Buendia yang pertama menerimanya. Ia dipantik rasa penasaran, begitu terobsesi dengan apa-apa yang ada dalam ruangan milik Malquiades di Macondo. Waktu ia habiskan untuk melakukan pelbagai percobaan yang tidak lebih dari hal-hal tak berguna untuk memuaskan rasa penasarannya semata. Lambat laun, obsesi itu membuatnya gila dan harus diikat di sebatang pohon hingga kematian menyambangi.

Tulah itu menurun ke keturunannya. Kolonel Aureliano Buendia bertingkah berlagak sedemikian heroik dengan memimpin pasukan. Terlibat dalam 32 pertarungan dengan banyak sekali korban jiwa, ia tak pernah memenangkan satupun. Lebih buruk dari itu, ia tak pernah menjumpai kematian, bahkan dengan cara bunuh diri sekalipun. Sisa hidupnya ia habiskan dalam kesunyian, memeluk rasa bersalah, dan menjadi pecundang yang gemar menghabiskan waktu dalam ruangan Malquiades hanya untuk membuat mainan dari ikan berbahan dasar emas. Makin tidak berguna ketika ikan emas yang telah jadi itu ia lebur kembali, kemudian ia buat lagi jadi ikan, begitu terus berputar dalam ketidakbergunaan. Belum lagi manuskrip dari Malquiades yang menyiksanya dengan rasa penasaran.

Kesunyian dan kesia-siaan jadi karib bagi keluarga Buendia. Waktu berjalan, wabah insomnia menerpa Macondo, pembantaian terjadi, peperangan membuat nyawa tujuh belas anak Kolonel Aureliano Buendia dihabisi, Malquiades mati lalu hidup lagi, Macondo ditimpa hujan selama 4 tahun 11 bulan dan 2 hari. Keturunan Jose Arcadio Buendia terus mengulang nama dalam keluarga mereka, begitu juga teluh dan kutuk yang menimpa.

Syak wasangka itu tentu timbul: mengapa keluarga Buendia menerima kutuk yang sedemikian buruk?

Sebelum menjelajah dan menemukan Macondo, Jose Arcadio Buendia dan Ursula Iguaran berkelana mencari tempat tinggal baru. Mereka adalah saudara yang terlibat dalam hubungan selibat. Terlanjur menikah, Ursula justru takut berhubungan badan karena dibayangi kecemasan bakal melahirkan anak berekor babi hasil hubungannya dengan Jose Arcadio Buendia. Awalnya hubungan mereka baik-baik saja, lalu datanglah Prudencio Aguilar. Bermulut ringan dan lidah lentur, ia mengolok kejantanan Jose Arcadio Buendia. Dibakar kemarahan, Jose Arcadio Buendia membunuhnya untuk menyelesaikan masalahnya. Sayangnya, sifat menyebalkan Prudencio tampaknya dikehendaki langit: ia bangkit menjadi hantu dan merundung Jose Arcadio Buendia dan Ursula hingga keduanya harus pindah dari tempat tinggalnya saat itu.

Macondo dan Buendia kian suram. Keduanya melulu dirundung kesunyian. Ursula pun dikutuk hidup selama lebih dari seratus tahun untuk menyaksikan Macondo dan keturunannya berlumur darah, kesepian, dan kesia-siaan. Sampai akhirnya ia mati di usia -–yang diperkirakan — berada di rentang antara seratus lima belas dan seratus dua puluh tahun.

Rentang hidup selama itu ternyata tak menghapus kutuk dalam keluarga Buendia. Amaranta Ursula, garis kelima keluarga Buendia mati dua puluh empat jam setelah melahirkan Aureliano yang menjadi Buendia terakhir. Aureliano memiliki ekor babi, seperti ketakutan yang menghantui Ursula Iguaran sejak dahulu. Bukan hal yang menyalahi takdir, karena ayah dari si bayi Aureliano yang juga bernama Aureliano adalah keponakan dari Amaranta Ursula sendiri.

Ketika rasa sakitnya sedemikian perih, Aureliano masih harus menyaksikan sendiri mayat bayinya dibawa rombongan semut ke lubang sarangnya.

Aureliano tak beranjak melihatnya.

Bukan karena teror, tetapi detik itu ia menyadari kunci terakhir untuk membaca manuskrip rahasia milik Melquiades yang kalimatnya disandikan. Dia kemudian masuk ke ruang Melquiades, memaku daun pintu dan jendela, menatap salah satu kalimat di perkamen itu lebih jelas daripada apapun yang pernah dilihatnya.

“…keturunan pertama diikatkan pada pohon dan yang terakhir dimakan semut-semut..”

Selama ini, Malquiades menulisnya dalam episode-episode dan kesejajaran waktu yang sama. Didera rasa penasaran yang terjawab, Aureliano membacanya keras-keras. Di kalimat pertama tertulis.

“Bertahun-tahun kemudian, saat ia menghadapi regu tembak,….”

Sebelum sampai di kalimat terakhir, ketika membacanya dengan semangat, Aureliano menyadari bahwa Macondo, Buendia, dan kesunyian adalah kutuk dan teluh yang telah lama ditentukan sedari awal.

23/05/18

Tumbuh Dewasa dan Kepulangan dalam Semasa

Judul                : Semasa
Penulis             : Teddy W. Kusuma dan
                           Maesy Ang
Penerbit           : OAK
Tahun Terbit    : 2018
Jml halaman    : 146 halaman
Bahasa             : Bahasa Indonesia
Harga               : Rp.58.000,00
ISBN               : 978-602-60924-7-2













“Terkadang hal-hal kecil di depanmu, hal-hal yang tak signifikan sebetulnya, akan mengingatkanmu pada rentetan kejadian masa lalu yang –dengan cara yang kerap berbelit-belit—menjelaskan keadaanmu saat ini.”

Saya mulai membaca buku ini sambil mendengarkan lagu lama milik Slank, gorengan, tak lupa segelas kopi, di kamar kos yang sempit. Gelas keramik yang dulunya putih itu tak lagi terlihat warna aslinya, menjadi kusam akibat kelewat sering menampung cairan kopi hitam. Sejak bertahun-tahun lalu. Sudah hampir lima tahun sejak saya merantau dari rumah. Sejak itu pula gelas putih ini menjadi saksi bagaimana saya meminum kopi lebih banyak daripada air putih dalam sehari. Sebuah kesadaran yang timbul ketika membaca paragraf awal di buku ini. 

Semasa bercerita tentang kepulangan. Sachi dan Coro pulang setelah bertahun-tahun merantau di luar kota dan negara. Di rumah masa kecil mereka itu, kenangan dan rindu tiba-tiba menyeruak dan saling bertaut. Dari tebak-tebakan sepanjang perjalanan, dinding bergambar ‘eksotis’ hasil kerja kreatif mereka,maupun alam sekitar tempat dulu biasa bermain. Suasana yang –meskipun tidak serupa- mengingatkan saya pada rumah dan masa kecil. 

"Kita ini dua orang dewasa yang berbeda. Apa, sih, yang betul-betul bisa kita bicarakan selain nostalgia?"

Sachi dan Coro tumbuh bersama sejak kecil. Coro sebagai kakak laki-laki tampil sebagai panutan yang tangkas, Sachi si adik perempuan menjadi anak bawang yang ringkih. Beranjak besar, Sachi mulai bisa tumbuh menjadi perempuaan yang tangguh. Bahkan dengan pencapaian yang lebih baik dari Coro. Terbukti dari pencapaiannya menjadi doktor termuda di program studinya. Sedangkan Coro terlihat sedang memasuki masa peralihan antara pemuda yang idealis menuju orang dewasa yang realistis. Hal ini dapat dilihat ketika ia menceritakan ironi dari kakak kelasnya bahwa seorang seniman membutuhkan kesedihan yang terus menerus untuk menghasilkan karya hebat. Waktu menjawab hal tersebut, si kakak kelas belum menjadi siapa-siapa. Terakhir kali Coro melihatnya, si kakak kelas jelas lebih menyerupai pecundang besar daripada seniman besar.  

Coro dan Sachi tumbuh dengan membaca Hemingway, Orwell, Kerouac, Harper Lee, dan si muram Kafka. Bahkan Sachi ketika masih bocah sudah dapat merasakan bahwa tokoh binatang dalam Animal Farm lebih dari sekedar cerita binatang di peternakan. Saya rasa Sachi dan Coro sejak kecil tumbuh dengan bacaan yang bergizi. Hal yang wajar ketika memiliki orang tua dengan pendidikan luas. Bapak Coro merupakan dosen, sedangkan ibu Sachi adalah koki yang memiliki suami dari Yunani. Tapi, saya masih bertanya-tanya mengapa mereka ketika bocah juga diberi Kafka yang ceritanya muram dan seringkali tanpa harapan, meskipun saya akui, cukup bagus.

Konflik sederhana dalam buku ini yang membuatnya menarik. Konflik yang tidak membutuhkan ledakan besar. Namun Teddy dan Maesy mampu membuatnya begitu dalam. Awalnya, kepulangan ini dimaksudkan sebagai pertemuan untuk memasukkan ingatan sebanyak mungkin sebelum rumah dijual ke seorang pensiunan pegawai bank. Namun, si pensiunan pegawai bank mendadak mati. Bapak tidak ingin menjual ke calon pembeli satunya. Sebelumnya mereka sepakat menjual rumah tersebut karena Bapak lebih ingin tinggal di rumahnya di kota bersama Gregor, anjingnya, sekaligus tempat semua buku dan kenangan  bersama almarhum ibu berada. Sedangkan Bibi Sari setuju menjual rumah tersebut sebagai tambahan modal melunasi rumah barunya di Oia, Yunani, kampung halaman Paman Giofridis. Si pensiunan pegawai bank sebenarnya bukan satu-satunya calon pembeli. Ada seorang hakim yang juga ingin membeli rumah tersebut. Namun, Bapak tidak begitu setuju karena tidak menyukai perangai si hakim dan uang hasil pekerjaannya.

Perbedaan pendapat ini tidak dibumbui teriakan atau rebut berlarut-larut, namun hanya ada ketenangan dan kesunyian orang dewasa. Bagi saya, justru hal ini yang membuat konflik ini begitu mendalam. Si Bapak dan Ibu Sachi mengambil jarak masing-masing. Mengingat kembali dulu waktu kecil mereka hanya memiliki satu dengan yang lain, namun ketika mendekati ujung usia seperti ini, justru dihadapkan pada konflik keluarga. Hingga mereka harus memilih.

Saya begitu menyukai tulisan Teddy dan Maesy lewat blog mereka. Kepuasan berlebih lagi setelah saya membaca buku ini. Tidak ada penggunaan diksi yang terkesan dipaksakan. Cara mereka menulis begitu halus, mengalir, dan pertautan yang menyenangkan antar kalimat. Kisah dalam buku ini saya rasakan sebagai kepulangan, keluarga, dan kedewasaan berpikir. 

Buku yang sangat menyenangkan untuk dibaca. Terutama mereka yang sedang merindukan keluarga, dan tentu saja: pulang ke rumah.

28/03/18

Mimpi Buruk

Frau Frieda memiliki kemampuan Lucid Dream yang membuatnya mampu berkelana dalam mimpi dengan sepenuh kesadaran.

Hari itu ia bermimpi melihat seorang manusia yang harus menempuh puluhan kilometer hanya untuk mencari sisa plastik dan botol bekas di bak sampah perumahan gedongan ketika siang hingga sore hari.

Kesal dengan hal menyedihkan tersebut, ia melompat ke malam hari. Ternyata, orang yang sama sedang meringkuk kedinginan di emperan toko hanya beralas koran dan berbantal karung berisi sampah yang ia kumpulkan sejak siang hingga petang.

Menjauh seratus lompatan ke arah barat, ia jumpai bedeng-bedeng bambu dan bangunan sederhana dengan lampu temaram tempat puluhan wanita menjual diri di pinggir stasiun.

Sepelemparan batu ke arah selatan, berdiri bangunan megah berhias lampu-lampu yang di dalamnya ada kamar hangat dan makanan yang cukup untuk -paling sedikit- dua ratus lima puluh orang. Akan tetapi, tidak semua orang dapat masuk ke sana, apalagi manusia-manusia pinggir seperti yang ia jumpai sebelumnya.

Kesal dengan serangkaian mimpi menyedihkan tersebut, Frieda memutuskan untuk bangun dari tidurnya.

Peluh membasahi wajahnya oleh sebab didera kecemasan yang sedemikian menyesakkan. Ternyata sepanjang perjalanan, ia tidak pernah tidur.

19/02/18

Cerita dari Kafka dan Oedipus


Di ulang tahunnya yang ke 15, Kafka Tamura kabur dari rumah meninggalkan ayahnya demi satu tekad: menjadi pemuda paling tangguh sedunia. Ia berkelana dari satu tempat ke lainnya tanpa tujuan pasti. Bersama Gagak, alter-egonya sendiri, ia bertemu orang-orang dari berbagai latar peristiwa yang menjadikannya pria dewasa dan tangguh.

Di semesta yang lain, Oedipus kecil dibuang ayahnya sendiri yaitu si Raja Laius atas peringatan juru nujum bahwa bayi itu akan melakukan dosa terkutuk di kemudian hari: membunuh ayahnya kemudian menikahi ibunya. Di tempat pembuangannya nun jauh di kerajaan Corinthia, jerit sedih Oedipus menarik perhatian seorang gembala. Tak mampu merawat bayi tersebut, Oedipus kemudian diberikan pada raja Corinthia dan tumbuh besar menjadi pemuda cerdas nan tangguh.

Kemudian kita tahu dua kisah tadi berujung menepati kehendak langit. Seberapa jauh mereka pergi, persetan seberapa tangguh mereka berusaha menghindar, takdir selalu bisa menemukan jalan. Kafka secara tidak langsung terhubung dengan kematian ayahnya, sedangkan Oedipus membunuh seseorang dalam sebuah perkelahian yang ternyata ayahnya sendiri. Keduanya sama-sama menjadi pendosa dengan mengawini ibunya sendiri meskipun tanpa disadari. Saeki untuk Kafka, Iokasta untuk Oedipus. Mereka menjadi pendosa meski tak berniat melakukannya, meski sudah berusaha menghindari takdir sejauh mungkin. Keduanya tentu berhak merutuki takdir yang sedemikian keparat. Namun di sisi lain, mereka memiliki kemerdekaan untuk memilih jalan hidup selanjutnya meskipun sadar ujung nasib sudah ditentukan dari langit.
**
Fiksi selalu bisa memberikan kemerdekaan tafsir bagi pembacanya. Kerapkali keberanian dirujuk dari kisah-kisah yang melibatkan denting pedang, darah, dan teriakan. Jarang disadari bahwa keberanian tidak melulu pertarungan manusia melawan manusia, alam, atau para penguasa. Ia pun ada dalam pertarungan sehari-hari manusia melawan kehendak langit yang sudah ditentukan berbekal kemerdekaan menjejak jalan nasib yang ingin dijalani. 


Tidak pernah ada jalan nasib yang terlampau baik, sebagaimana pula tidak ada nasib yang kelewat buruk. Jikapun terpaksa melalu jalan yang buruk, tariklah nafas dalam-dalam, kepalkan tangan, naikkan dagu, kemudian berjalan lagi dengan badan tegak, dengan penuh kemerdekaan. 


Selamat ulang tahun.
Tetaplah tangguh dan berani.

05/02/18

Pak Tua dan Pantai


Tempik sorak memenuhi ruang ketika selesainya acara seremonial pemindahan seutas tali dari sisi kiri ke sisi kanan kepala. Gerumbul manusia berjubah dan topi hitam masing-masing memegang map tebal berwarna biru gelap. Sambil memandang sinis manusia yang berjejalan seperti ayam berebut bekatul, Antonio Boulevard memutuskan untuk keluar lebih akhir. Ia tidak begitu suka berdesakan, lagipula tidak ada seorangpun yang menunggunya di luar untuk berfoto, memberikan hadiah, atau sekedar mengucap selamat. Mungkin saja segelintir temannya ada yang menunggunya, sekedar untuk mengucap selamat, tapi Antonio tak pernah menganggap pertemanan dan segala tetek bengeknya adalah hal yang penting.

Di dalam auditorium yang mulai lengang, ia duduk sambil mengipasi diri menggunakan topi hitam segilimanya. Hal-hal yang akan ia rencanakan sudah berkelibat di dalam kepala. Ia sudah diterima bekerja di suatu perusahaan besar. Jika perhitungannya tak meleset, karir di perusahaan itu bakalan melejitkannya dalam takaran yang disebut orang kebanyakan sebagai sukses. Cukup sukses hingga mampu untuk menutup mulut orang-orang yang kerap meremehkannya sedari dulu.

Empati yang rendah berhasil ia tutupi dengan intelegensinya yang di atas rata-rata. Ia telah belajar mempelajari sikap-sikap manusia yang menunjang untuk kelancaran kariernya. Berpura-pura baik dan akrab itu ternyata tidak mudah, namun bukan mustahil untuk dipelajari. Hingga lambat laun pun ia terbiasa. Hanya butuh dua belas tahun baginya untuk mencapai posisi tinggi di perusahaan. Karena ia bukan keturunan pendiri perusahaanlah satu-satunya alasan mengapa ia tidak segera menggantikan tua bangka direktur perusahaan ini. 

Posisinya sebagai ahli membuatnya kini cukup bekerja sebagai konsultan. Kerjanya hanya memerintah dan bercuap-cuap pada bawahan. Bahkan, kini ia sering diundang untuk mengisi seminar tentang keahliannya. Hanya perlu membualkan beberapa kata sulit kemudian membumbui beberapa kisah inspiratif di depan banyak orang, kemudian orang-orang dungu itu akan terharu lalu membayar dengan uang yang sedemikian banyak. Ternyata, mereka hanya butuh kisah motivasional sebagai hiburan untuk kehidupan yang sedemikian membosankan. Setelah menonton, mereka akan pulang ke rumah lalu tidur lalu bangun lagi keesokan harinya dengan kebebalan, kebosanan, dan ketidak-pedulian yang sama. Setiap hari nyaris tanpa jeda.

Sebenarnya dari awal dengan sepenuh kesadaran, ia tahu bahwa selama ini berbohong, terutama pada dirinya sendiri. Namun apa lacur, orang-orang berkepala kopong itu suka dan mau membayar banyak untuk cerita bohong. Ketika ia membicarakan keahliannya, hanya beberapa orang yang sanggup mengerti. Tidak menarik tentu saja. Hal ini membuat honornya tidak sebanyak ketika ia lebih rajin menjual kebohongan.

Hingga ia tiba pada akhir. Di masa tuanya, duduk menikmati angin di halaman pondok yang menghadap laut sambil menenggak bir dingin. 

Sendirian.

Melamunkan segala kebohongan yang ia ciptakan untuk dirinya sendiri selama ini. Untunglah hidup selama ini baik-baik saja baginya, toh menjadi pembohong tidak pernah salah-salah amat, bukan?
Seperti pantai, ombak, dan matahari sewarna jeruk di ujung barat juga bukan sebenar-benarnya pantai. Masih ada kerikil, sampah plastik yang ditinggalkan wisatawan goblok, sisa botol miras, maupun ceceran plastik lentur di balik semak-semak yang seringkali menjadi saksi roman picisan. Dunia masih perlu hal-hal buruk untuk membuat beberapa hal menjadi baik. Masih akan ada sekian lagi penyesalan di kemudian hari yang harus dibunuh kemudian dibangkitkan lagi menjadi puisi dalam sunyi. Jangan sedih.

Merawat Asa di Rumah Baca Alam Kalijaga


Minggu pagi di dusun Nasri, Magelang terlihat sekelompok anak berkumpul. Ada yang mengisi polybag dengan pupuk dan sekam, ada yang secara estafet mengumpulkan polybag berisi tanaman tersebut di bawah pohon pisang yang banyak tumbuh di sekitar. Terlihat sibuk, tetapi lebih banyak tawa yang terjadi di antara mereka. Lain waktu, anak-anak belajar membuat bunga kertas, membuat tempat sampah, memberi nama pohon-pohon, maupun belajar teater. Mereka adalah bagian dari Rumah Baca Alam Kalijaga.



Ihsan, salah seorang penggagas RBAK memiliki kegelisihan dengan anak-anak kecil di lingkungannya yang mulai menunjukkan gejala apatis dan perkembangan yang kurang baik. Anak-anak lebih banyak berada di dalam rumah, sibuk dengan televisi dan gawainya. Hal-hal yang tidak baik untuk anak-anak seperti percintaan orang dewasa dan lagu berlirik seronok menjadi konsumsi anak-anak nyaris setiap hari. Berangkat dari hal tersebut, ia dan temannya yang bernama Yuan Arief kemudian berinisiatif menggunakan lahan bekas kebun salak sebagai lokasi anak-anak untuk belajar di luar ruangan.
Awalnya, beberapa warga meremehkan tindakan mereka. Mas Ihsan tidak begitu ingin menjelaskan tujuannya membersihkan lahan bekas kebun salak, ia ingin warga mengerti dengan sendiri seiring terwujudnya kegiatan di RBAK. Dibantu Mas Arief dan tiga orang lainnya, bangunan RBAK terbentuk. Dua gubuk beratap jerami dan asbes, meja dari papan bekas, kursi dari gelondongan kayu, dan tanaman yang ditata rapi di RBAK. Pelan tapi pasti, warga mulai memahami apa yang ingin dibuat Mas Ihsan dan kawan-kawan. Makin hari, kegiatan di RBAK makin bertambah. Ada kegiatan 20 menit membaca buku bersama, membaca puisi, membuat prakarya, outbond, bernyanyi, dan menanam buah maupun sayuran. Dengan kegiatan sebanyak itu, tentunya membutuhkan dana. Ketika kami menanyakan hal tersebut, Mas Ihsan menjawab:
“Kami mandiri mas, bener bener mandiri.  Kami tidak pernah mengemis-ngemis bantuan dari siapapun. Kami sendiri masih belajar, belajar untuk memerangi mental kere pada diri kami. Meski kami tidak punya apa apa, tapi kami malu jika harus meminta, mental kere, mental miskin harus kita perangi, perangi budaya instan, oleh karena itu yang ada di  Baca Alam Kalijaga ini sedikit sekali yang menggunakan dana, sedikit sekali kebutuhan yang membeli. Siapa yang ingin memberi silakan, tapi kami berusaha untuk tidak meminta.
Hambatan yang dihadapi RBAK sebagian berasal dari komentar masyarakat akan tempat ini. "Sinau kok neng kebonan, nek cokot ulo piye, nek ketibanan kelapa piye?", "Paling yo meng gawe kedok golek duwit". Hambatan lain adalah sumber buku anak anak masih minim, belum dapat akses, pendirian gazebo dan sarana penunjang membutuhkan biaya, tenaga dan pikiran khususnya gotong-royong masyarakat, dan juga lokasi yang masih terlalu kecil untuk tempat berkumpul anak-anak.

Suara-suara sumbang seperti itu sebenarnya tidak begitu berpengaruh. Karena niat baik tentu menemui hambatan, manusia hanya bisa berusaha sedapat-dapatnya, dan seringkali hambatan hanyalah perpanjangan tangan dari doa dan harapan. 
Di sini anak-anak disediakan bahan, diberi kemerdekaan untuk berkreasi, kemudian karyanya diapresiasi. Agar anak-anak ini menemukan dunianya, yaitu dunia tempat bermain, belajar, dan mengenal lingkungan. 
Tentunya ini baru menjadi awal perjalanan panjang Rumah Baca Alam Kalijaga. Masih banyak hambatan yang akan dihadapi, masih banyak kegiatan yang akan dilakukan. Belum lagi asa yang terus dipupuk agar RBAK dapat berpartisipasi lebih banyak dalam memajukan literasi dan kesejahteraaan masyarakat. Siapapun yang ingin ikut belajar dan berpartisipasi, bisa menghubungi Rumah Baca Alam Kalijaga di facebook atau akun instagram @rumah_baca_alam_kalijaga. Para pengelola menyadari, perlu tenaga dan semangat yang harus selalu dirawat setiap harinya untuk menjaga eksistensi RBAK agar bisa tetap tumbuh dan memberikan manfaat lebih banyak lagi bagi warga sekitar Dusun Nasri RT 12 RW 03 Sidogede, Grabag, Magelang. 


01/02/18

Satu Kencan dan Dua Botol Minuman Bergambar Orang Tua

Tokoh apapun yang berusaha tampil heroik, baik fiksi maupun kenyataan, selalu berhasil membuat saya terhibur. Bukan jenis hiburan menyenangkan seperti mencuri mangga sepulang sekolah. Namun lebih mirip melihat dua orang bodoh sedang berdebat, menyenangkan melihat mereka beradu kebodohan sambil berharap keduanya menutup kisah dengan baku bunuh sesegera mungkin agar tidak mengotori cerita.

Kali itu saya tidak bisa berharap cerita ini segera berakhir. Saya tidak sepenuhnya yakin menjadi bagian pihak bodoh. Pun, saat itu kami juga tidak sedang berdebat. Ia hanya menggumam menggunakan kata puitik yang terkesan dipaksakan, sedangkan saya hanya berlagak antusias mendengarkan bualannya.

Tapi sungguh sulit untuk tidak memperhatikan gerak mulut dan roman mukanya ketika bercerita. Ringkasnya begini: ia memiliki kecantikan yang sampai saat itu --sebelum kami pulang-- cukup untuk mentolerir segala omong kosong yang keluar dari mulutnya. Paling tidak saya sudah bisa membuktikan pada kawan bahwa saya berani mengencani seorang wanita. Meskipun kawan itu pula yang mengenalkan wanita ini pada saya.

Dua minggu lalu, seorang kawan menantang saya untuk berkencan dengan seorang wanita temannya yang baru saja putus dari pacar kedelapannya tahun ini. Jika saya berani dan kencan berjalan lancar, ia akan mentraktir saya dua botol minuman bergambar orang tua. Jika gagal, sayalah yang harus mentraktirnya.

Pada awalnya saya sedikit ragu, karena ini kencan pertama saya. Dari awal pindah ke kota ini, hubungan saya dengan lawan jenis hanya sebatas dengan tokoh-tokoh di film aduhai yang tidak banyak bicara kecuali bergumam sedikit-sedikit ketika berkonsentrasi melakukan adegan yang diperintahkan sutradara. Lagipula, selama ini polah petingkah kawan saya itu lebih menyerupai bromocorah meskipun ia saya anggap sebagai sehabat.

Malam itu, ternyata kecurigaan saya tidak terbukti. Saya berhadapan dengan wanita yang membuat yakin bahwa saya memiliki potensi sebagai pria tampan yang disukai wanita cantik. Senang, tentu saja. Bukan semata karena menang taruhan, tetapi lebih karena mendapati kenyataan ternyata wanita nyata bisa lebih menarik daripada dalam bentuk digital.

Semuanya bahkan berjalan lebih menyenangkan lagi malam itu. Ia terus saja menunjukkan sikapnya yang betah sekali ngomong sedangkan saya tak sedikitpun keberatan menanggapi sedikit sambil sesekali tersenyum agar terlihat memperhatikan omongannya.

Lambat laun ia balik bertanya tentang saya.
*
"Kalau kantongmu tidak begitu tebal, mukamu tak mendukung, pikat wanita dengan buku dan rayuan bermutu!" kata ketua organisasi saya ketika ia memberitahu cara memiliki banyak pacar. Saat itu saya hanya mengangguk berlagak peduli. Jelas bukan hal sulit mengatakan hal itu jika kamu memiliki posisi cukup tinggi di universitas dan memiliki cukup uang untuk mentraktir sekian ratus orang ketika pemilihan ketua organisasi.
*
Saya langsung terpikir dua pengarang yang terlintas pertama dalam kepala. Yaitu Murakami (baik Ryu maupun Haruki) dan Marquez. Saya bercerita dengan sedikit menggebu-gebu, ia tampak mengerutkan dahinya. Jelas malam itu menjadi lebih menyenangkan lagi karena mengetahui ternyata ia pun membaca Murakami dan Marquez. Meskipun tidak sampai selesai.

"Murakami mengingatkanku pada selera mereka pada tentakel, makhluk berlendir, dan seperangkat imaji yang sepenuhnya, menurut akal sehatku, sungguh-sungguh tidak bermoral dan tidak mendidik. Sedangkan untuk Marquez, narkoba apa sih yang dipakainya ketika menulis cerpennya itu?"

Kukira saat itu ia sedang memberi komentar satir sebagai pujian.

Namun, beberapa saat kemudian ketika ia berkata dengan heroisme berlebihan bahwa karya sastra berkelas dan terbaik yang pernah dibacanya adalah kisah tentang percintaan lelaki dewasa dengan gadis kecil. Aku berusaha mengingat-ingat kisah apa yang dimaksudnya.

"Sejak membaca karya sastra adiluhung seperti itu. Aku lalu mengikuti postingannya di media sosial, kutipan-kutipannya memberikan siraman rohani pada sanubariku tiap hari. Sungguh inspiratif!"

Secepat mungkin, setengah mati saya menahan hasrat untuk tidak membalok mulutnya yang mendadak terlihat monyong seperti baru saja tersengat tawon itu menggunakan buku tebal tentang panduan ternak musang yang saya harap sedang saya pegang.

Jelas kencan ini harus segera diakhiri secepatnya sebelum saya kehilangan akal sehat kemudian membanjur kepalanya dengan jus tomat. Saya segera berpura-pura sakit perut dan mengajaknya pulang. Di perjalanan, saya mengajaknya mampir ke penjual minuman bergambar orang tua, lalu membeli dua botol. Ia tampak tidak suka, selama sisa perjalanan ia habiskan dengan menasihati saya perihal omong kosong soal moral dan kisah fiksional heroik lainnya. Tapi siapa peduli.

Saya sendiri mengendarai motor dengan perasaan riang. Tidak begitu kecewa karena kencan malam ini berujung pada kegagalan. Saya kelewat antusias membayangkan kesenangan ketika membenturkan dua botol minuman bergambar orang tua ini ke sisi kiri dan kanan kepala kawan saya esok hari.

05/01/18

Malam Jahanam

"Setelah sekian tahun melakukan penyelidikan dan pencarian harta karun kerajaan Media Luna, kami berempat akhirnya tiba pada ruang harta. Tumpukan tinggi koin emas, berlian seukuran batok kelapa, peti-peti besar berisi batangan emas murni, serta berbagai macam perhiasan memenuhi ruangan yang berukuran sekitar setengah lapangan bola di perut gunung Comala yg puncaknya bisa kau lihat dari sini jika kau mendaki bukit belakang rumah kemudian melihat ke arah timur saat cuaca cerah."

Duduk di atas kursi goyangnya berkaos singlet dan sarung, kakek mengambil dua batang rokok lintingannya sendiri, meletakkan satu di bibirnya yang agak gemetar, memantiknya, kemudian meletakkan yang satunya di sela daun telinga. Dari gelagatnya aku tahu, cerita kali ini sedikit-banyak menghadirkan trauma mendalam baginya.

"Melihat harta sedemikian banyak, darah bujang kami menggelegak. Sekelebat keluar, dipaksa atau tumbuh sendiri, masing-masing dari kami timbul pikiran untuk menguasai seluruh harta itu sendirian. Aku sadar tiap orang dari kami sedang merencakan cara paling jitu untuk membunuh satu sama lain. Peduli setan dengan persahabatan kami selama ini. Banyak senjata berserakan dalam ruangan itu, mudah sekali memungut golok, tombak, pedang, ataupun gada yang dapat menjalankan tugas dengan baik."

"Kriett..krieet," derit kursi goyang terdengar jelas ketika aku diam menyimak dan kakek mengambil jeda dengan mengisap rokoknya dalam-dalam.

"Entah siapa yang memulai, masing-masing dari kami bergerak meraih senjata terdekat yang bisa dicapai. Aku melompat meraih golok di depanku. Kemudian berguling cepat ke balik peti untuk merencanakan strategi. Ketiga sahabatku tak jauh berbeda denganku. Tak kurang dari satu menit, aku mendengar teriakan Fulgor Sedano yang kemudian kulihat mayatnya dengan dada ditembus tombak bertatah berlian dari belakang."

Kali ini kakek terlihat melamun sejenak. Aku mafhum. Barangkali ia merutuki harta terkutuk yang membuatnya harus baku bunuh dengan ketiga sahabatnya di malam jahanam itu.

"Lantas bagaimana kakek dulu berhasil membawa harta yang sedemikian banyak keluar dari perut gunung, sendirian?"

Kali ini kakek menghisap rokoknya lebih lama, keluar-masuk berkali-kali, mengambil jeda panjang untuk mengakhiri ceritanya. Aku menahan napas antara sesak dengan aroma tembakau, panas kepul asap, serta rasa penasaran.

"Terus terang, malam itu akupun tidak yakin apakah aku berhasil keluar hidup-hidup."